TODAY'S RECAP
Aktor “The Godfather” Robert Duvall Meninggal Dunia di Usia 95 TahunHarga Batu Bara Sentuh Rekor Setahun di US$120, China Rapikan Sektor EnergiPanduan Lengkap Niat dan Tata Cara Sholat Tarawih untuk RamadhanHarga Minyak Naik Menjelang Dialog AS-Iran, WTI Tembus US$64 per BarelPrabowo Hadiri Rapat Board of Peace Trump, DPR: Jangan Lupa Soal PalestinaBupati hingga Ketua DPRD Kumpul di Bakorwil, PWI Pamekasan Bahas Empat PilarAktor “The Godfather” Robert Duvall Meninggal Dunia di Usia 95 TahunHarga Batu Bara Sentuh Rekor Setahun di US$120, China Rapikan Sektor EnergiPanduan Lengkap Niat dan Tata Cara Sholat Tarawih untuk RamadhanHarga Minyak Naik Menjelang Dialog AS-Iran, WTI Tembus US$64 per BarelPrabowo Hadiri Rapat Board of Peace Trump, DPR: Jangan Lupa Soal PalestinaBupati hingga Ketua DPRD Kumpul di Bakorwil, PWI Pamekasan Bahas Empat PilarAktor “The Godfather” Robert Duvall Meninggal Dunia di Usia 95 TahunHarga Batu Bara Sentuh Rekor Setahun di US$120, China Rapikan Sektor EnergiPanduan Lengkap Niat dan Tata Cara Sholat Tarawih untuk RamadhanHarga Minyak Naik Menjelang Dialog AS-Iran, WTI Tembus US$64 per BarelPrabowo Hadiri Rapat Board of Peace Trump, DPR: Jangan Lupa Soal PalestinaBupati hingga Ketua DPRD Kumpul di Bakorwil, PWI Pamekasan Bahas Empat PilarAktor “The Godfather” Robert Duvall Meninggal Dunia di Usia 95 TahunHarga Batu Bara Sentuh Rekor Setahun di US$120, China Rapikan Sektor EnergiPanduan Lengkap Niat dan Tata Cara Sholat Tarawih untuk RamadhanHarga Minyak Naik Menjelang Dialog AS-Iran, WTI Tembus US$64 per BarelPrabowo Hadiri Rapat Board of Peace Trump, DPR: Jangan Lupa Soal PalestinaBupati hingga Ketua DPRD Kumpul di Bakorwil, PWI Pamekasan Bahas Empat Pilar

Rubrikasi

Informasi

Ikuti Kami

17 Februari 2026

Cari berita

Generasi Sandwich di Simpang Tahun: Dilema Finansial yang Tak Pernah Usai

Poin Penting (3)
  • Tahun Baru justru menjadi periode paling menekan bagi generasi sandwich, ketika biaya pendidikan anak, kesehatan orang tua, cicilan, dan kebutuhan hidup datang bersamaan, sementara pendapatan stagnan dan tabungan nyaris tak ada.
  • Fenomena generasi sandwich di Indonesia bersifat struktural dan masif, menjerat puluhan juta penduduk usia produktif—mayoritas kelas menengah-bawah—dengan beban ganda di tengah inflasi pendidikan dan kesehatan yang melaju jauh lebih cepat dari kenaikan gaji.
  • Tekanan finansial berkepanjangan mendorong risiko kesehatan mental dan jerat utang, termasuk pinjaman online, membuat Tahun Baru bukan tentang resolusi dan harapan, melainkan sekadar upaya bertahan hidup dari satu bulan ke bulan berikutnya.

Resolusi.co, SURABAYA – Pagi itu, 2 Januari 2025 lalu, Dina Kartika, seorang manajer marketing berusia 35 tahun di Surabaya, duduk termenung di lesehan warung makan. Di hadapannya terbuka aplikasi mobile banking dengan saldo yang menyusut drastis. Dalam hitungan jam, Rp 12 juta lenyap dari rekeningnya: Rp 3,5 juta untuk uang sekolah anaknya yang jatuh tempo awal Januari, Rp 2 juta untuk obat hipertensi dan kontrol rutin ayahnya di rumah sakit, Rp 1,5 juta angpao untuk keponakan dan saudara saat Imlek nanti akhir Januari, Rp 3 juta untuk cicilan rumah, dan sisanya untuk kebutuhan sehari-hari yang tak terduga selama libur tahun baru.

“Saya tidak pernah benar-benar ‘merayakan’ tahun baru,” ujar Dina dengan suara lelah. “Setiap kali masuk Januari, yang ada di kepala saya cuma satu: bagaimana caranya bertahan sampai gajian berikutnya.”

Dina tidak sendiri. Ia adalah representasi dari fenomena yang kini menghantui hampir setengah penduduk usia produktif Indonesia: generasi sandwich. Mereka terhimpit antara tanggung jawab membiayai anak dan orang tua, sambil berusaha mempertahankan kehidupan mereka sendiri.

Kelas Menengah yang Rapuh

Data Badan Pusat Statistik mencatat angka yang mengejutkan. Pada 2025, Indonesia diproyeksikan memiliki 67,90 juta penduduk usia produktif yang bertanggung jawab menghidupi kelompok usia non-produktif. Ini setara dengan 23,83 persen dari total populasi. Rasio ketergantungan atau dependency ratio ditaksir mencapai 47,2. Artinya, setiap 100 orang usia produktif harus menanggung 47 hingga 48 orang yang tidak produktif.

Survei Tirto bersama Jakpat pada 2023 mengungkapkan lebih dari separuh responden usia produktif, tepatnya 50,60 persen, mengidentifikasi diri sebagai generasi sandwich. Dari angka tersebut, 47,04 persen memberikan sokongan finansial kepada anak dan orang tua mereka, sementara 33,99 persen bahkan menanggung beban lebih berat: anak, orang tua, dan kerabat lain seperti adik atau saudara kandung.

Yang lebih memprihatinkan, survei Kompas Research and Development pada Agustus 2022 menunjukkan 67 persen responden mengaku menjadi bagian dari generasi sandwich, setara dengan 56 juta orang di Indonesia yang merasakan tekanan finansial ganda ini.

“Fenomena generasi sandwich di Indonesia bukan sekadar viral-viralan,” kata Sayoga Prasetyo, perencana keuangan yang sering menangani kasus generasi sandwich. “Ini adalah krisis struktural yang akan terus berlanjut hingga 2035, bahkan 2045. Indonesia akan memiliki 100 juta generasi sandwich yang harus menanggung hidup anak-anaknya dan orang tua mereka.”

Mayoritas generasi sandwich berasal dari kelas menengah-bawah, dengan total persentase mencapai 81 persen. Pendapatan mereka sebagian besar hanya berkisar Rp 3 juta hingga Rp 5 juta per bulan. Bahkan, 23,72 persen memiliki penghasilan di bawah Rp 3 juta. Angka ini jauh dari cukup untuk menanggung beban ganda yang mereka pikul.

Momen Tahun Baru: Kebahagiaan atau Beban?

Jika bagi kebanyakan orang pergantian tahun adalah waktu untuk bersukacita, bagi generasi sandwich justru menjadi periode paling mencekik secara finansial. Berbagai tuntutan pengeluaran datang bersamaan, menciptakan perfect storm yang menggerus tabungan dan kewarasan mereka.

Survei RedDoorz pada November 2025 menunjukkan 84 persen masyarakat Indonesia merencanakan libur akhir tahun. Namun, di balik angka optimis itu, tersembunyi realitas pahit: 40 persen responden survei Kompas mengaku tidak akan berlibur karena alasan finansial, dengan hampir 50 persen menyebut biaya liburan yang mahal sebagai penghalang utama.

Bagi generasi sandwich, tekanan ini berlipat ganda. Mereka tidak hanya harus mempertimbangkan biaya liburan keluarga inti, tetapi juga tuntutan untuk mengajak orang tua atau membiayai liburan saudara.

Data tiket.com mencatat bahwa 75 persen wisatawan domestik masih memilih destinasi dalam negeri, dengan durasi 3-4 hari yang dipilih oleh 41 persen responden. Biaya tiket kereta api, moda transportasi favorit tahun 2025, untuk keluarga kecil dari Surabaya ke Yogyakarta saja bisa mencapai Rp 2 juta pulang-pergi, belum termasuk akomodasi dan biaya makan.

Harga tiket masuk Taman Safari Bogor selama periode puncak liburan 20 Desember 2025 hingga 11 Januari 2026 berkisar Rp 285 ribu hingga Rp 470 ribu per orang. Untuk keluarga berempat, ini berarti pengeluaran minimal Rp 1,14 juta hanya untuk satu destinasi wisata.

Tren micro-tourism pun muncul sebagai respons terhadap keterbatasan finansial. Masyarakat beralih ke wisata lokal di sekitar kota tempat tinggal mereka, seperti ke Monas bagi warga Jakarta dengan tiket Rp 24 ribu untuk dewasa, atau Taman Margasatwa Ragunan dengan tiket Rp 4 ribu untuk dewasa sebagai alternatif yang lebih terjangkau.

“Tahun ini kami cuma ke Taman Bungkul. Anak-anak minta ke Bali, tapi saya harus realistis. Uang SPP Januari sudah menunggu, belum lagi biaya kontrol ayah yang hipertensi,” kata Ani Wijaya, ibu dua anak yang bekerja sebagai guru di Surabaya.

Inflasi Pendidikan Mencekik

Jika liburan masih bisa ditahan, biaya pendidikan anak adalah kewajiban yang tidak bisa dihindari. Dan di sinilah generasi sandwich menghadapi pukulan paling keras.

Data BPS Juli 2025 menunjukkan inflasi sektor pendidikan mencapai 1,95 persen year-on-year, dengan tekanan tertinggi pada pendidikan dasar dan PAUD sebesar 3,12 persen. Inflasi ini melampaui inflasi umum yang hanya 1,82 persen pada periode yang sama.

Rata-rata biaya sekolah dasar, baik swasta maupun negeri, mengalami kenaikan hingga 12,6 persen per tahun pada periode 2018-2024. Bandingkan dengan kenaikan gaji yang hanya 2,6 persen per tahun. Artinya, biaya pendidikan melonjak hampir lima kali lipat lebih tinggi dibandingkan dengan penghasilan yang didapat keluarga.

Menurut data BPS, rata-rata biaya pendidikan SD pada tahun ajaran 2020/2021 tercatat Rp 3,24 juta, meningkat 35 persen dari Rp 2,4 juta pada tahun ajaran 2017/2018. Untuk SMP, biayanya meningkat 32 persen dari Rp 4,23 juta menjadi Rp 5,59 juta. Sementara untuk SMA, naik 19 persen menjadi Rp 7,8 juta dari Rp 6,53 juta.

Yang lebih memprihatinkan, banyak keluarga terpaksa menyekolahkan anak di sekolah swasta karena keterbatasan kapasitas sekolah negeri. Biaya SD swasta ditemukan 4,4 kali lebih tinggi daripada SD negeri. Hingga 200 ribu keluarga miskin di Jabodetabek dan sembilan kota besar terpaksa menyekolahkan anak mereka di SD swasta akibat terbatasnya kapasitas sekolah negeri dan ketidaksesuaian domisili.

Bagi generasi sandwich, ini bukan sekadar angka statistik. Ini adalah keputusan nyata yang harus diambil setiap bulan Januari ketika tagihan SPP, uang pangkal, dan berbagai biaya sekolah lainnya datang bersamaan.

“Saya dan suami sudah merencanakan dari jauh-jauh hari. Tapi tetap saja, setiap Januari itu mencekik. Uang THR habis untuk Natal dan tahun baru, gaji Januari langsung ludes untuk sekolah anak. Belum ditambah biaya berobat ibu yang diabetesnya kambuh,” cerita Linda Setiawan, ibu tiga anak yang bekerja sebagai pegawai bank di Surabaya.

Biaya Kesehatan Orang Tua

Jika pendidikan anak adalah investasi masa depan, biaya kesehatan orang tua adalah kewajiban moral yang tidak bisa ditunda. Dan beban ini terus membesar seiring meningkatnya jumlah lansia di Indonesia.

Data BPS menunjukkan pada 2023, terdapat 33,16 persen rumah tangga Indonesia adalah rumah tangga lansia. Artinya, sekitar 3 dari 10 rumah tangga memiliki lansia sebagai anggota. Angka ini naik dari 27,88 persen pada 2019. Proyeksi PBB menunjukkan usia harapan hidup orang Indonesia akan terus meningkat: dari 72,5 tahun pada 2024 menjadi 76,6 tahun pada 2050, dan 83 tahun pada 2100.

Pada 2023, tercatat 41,49 persen lansia mengalami keluhan kesehatan. Sebanyak 78,27 persen sumber pembiayaan rumah tangga lansia ditopang oleh anggota rumah tangga yang bekerja, alias generasi sandwich.

“Ayah saya diabetes, ibu hipertensi. Sebulan minimal Rp 1,5 juta untuk obat rutin mereka berdua, belum kalau ada komplikasi atau harus opname. Tahun lalu, ayah sempat dirawat seminggu, habis Rp 8 juta. Itu di luar tanggungan BPJS,” ungkap Bambang Prayitno, pegawai BUMN berusia 40 tahun yang harus menghidupi orang tuanya yang sudah pensiun tanpa dana pensiun memadai.

Persoalan makin rumit karena tidak semua lansia memiliki BPJS atau asuransi kesehatan yang memadai. Generasi sandwich harus merogoh kocek sendiri untuk biaya-biaya yang tidak ditanggung, seperti obat-obatan tertentu, perawatan jangka panjang, atau tindakan medis di luar cakupan BPJS.

Stagnasi Pendapatan, Tekanan Berlipat

Di tengah semua tuntutan pengeluaran yang terus meningkat, generasi sandwich menghadapi ironi pahit: pendapatan mereka justru stagnan.

Survei YouGov Indonesia pada April 2025 menunjukkan 46 persen generasi sandwich mengaku penghasilan mereka tidak mengalami peningkatan. Dua faktor utama yang paling mengancam stabilitas keuangan mereka adalah inflasi (47 persen) dan penurunan penghasilan dari usaha (31 persen).

Rata-rata gaji buruh di Indonesia pada Februari 2023 hanya Rp 2,944 juta, naik tipis dari Rp 2,892 juta pada tahun sebelumnya. Bandingkan dengan beban pengeluaran generasi sandwich yang harus mengalokasikan 21-35 persen penghasilan untuk orang tua atau kerabat, 36-50 persen, bahkan ada yang harus menyisihkan lebih dari 75 persen penghasilan.

Sebanyak 48,62 persen generasi sandwich mengaku sulit mencapai tujuan finansial pribadi. Hanya 12,38 persen yang memiliki dana darurat yang mencukupi, sementara 39,92 persen sama sekali belum memiliki dana darurat. Bahkan 6,59 persen menyatakan tidak sanggup atau tidak memungkinkan untuk menyisihkan pendapatan untuk dana darurat.

“Pendapatan tambahan pun tidak terlalu membantu,” keluh Rina Damayanti, seorang content writer freelance yang juga bekerja full-time sebagai staf admin. “Saya sudah kerja sampingan bikin konten, tapi tetap saja tidak cukup. Yang ada malah kelelahan, stres, dan merasa bersalah karena kurang waktu untuk anak.”

Survei Tirto mencatat 33,33 persen responden generasi sandwich merasa pendapatan tambahan mereka tidak terlalu membantu dalam mengatasi beban finansial. Hanya 3,03 persen yang merasa tidak perlu mencari pendapatan tambahan, sisanya sedang mencari atau berpikir untuk mencari penghasilan ekstra.

Jerat Pinjaman Online

Tekanan finansial yang terus-menerus mendorong banyak generasi sandwich ke dalam jerat utang, terutama pinjaman online.

Data Otoritas Jasa Keuangan per Maret 2024 mencatat ada 9,18 juta rekening pinjaman online dari kelompok usia 19-34 tahun, dengan nilai pinjaman mencapai Rp 28,80 triliun. Nilai pinjaman ini naik hampir Rp 2 triliun hanya dalam setahun.

Yang lebih mengkhawatirkan, bahkan anak di bawah 19 tahun juga terjerat pinjol. Hingga Maret 2024, rekening pinjaman online di kelompok usia ini mencapai lebih dari 90 ribu, naik 28,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Nilai pinjaman untuk usia di bawah 19 tahun mencapai Rp 211,43 miliar, naik hampir 60 persen dari Rp 132,25 miliar setahun sebelumnya.

“Saya tahu ini salah. Tapi waktu itu ayah harus operasi mendesak, sementara gajian masih dua minggu lagi. Akhirnya saya ambil pinjol Rp 5 juta. Sekarang malah jadi lingkaran setan: bayar pinjol, uang kurang, pinjam lagi,” cerita Dwi Hartono, pegawai pabrik di Bekasi yang kini memiliki tiga pinjaman online aktif dengan total cicilan Rp 2 juta per bulan.

Ekonom Lucky Bayu Purnomo dari PT LBP Enterprises Internasional menegaskan bahwa generasi sandwich muncul dari perencanaan keuangan orang tua yang kurang matang, yang akhirnya menjadi beban bagi generasi selanjutnya.

“Masalahnya, generasi sandwich sekarang juga berisiko menciptakan generasi sandwich baru kalau tidak mulai merencanakan keuangan dengan matang,” kata Lucky. “Jangan sampai anak-anak mereka kelak mengalami hal yang sama.”

Ketika Uang Merampas Kebahagiaan

Tekanan finansial berkelanjutan tidak hanya menggerus tabungan, tetapi juga kesehatan mental generasi sandwich.

Survei DataIndonesia.id terhadap 472 responden Gen Z pada Agustus-Oktober 2023 mengungkapkan 46,3 persen dari mereka tergolong generasi sandwich. Dampaknya sangat nyata: 73,38 persen merasa bersalah jika tidak mampu memenuhi kebutuhan keluarga, dan 66,19 persen merasa khawatir tentang masa depan mereka sendiri.

Berbagai studi menunjukkan generasi sandwich lebih rentan terhadap depresi, merasa kesepian, burnout, stres, dan kecemasan. Mereka mengalami gangguan emosional seperti perasaan sedih, bersalah, dan emosi yang tidak stabil, serta masalah kognitif seperti pelupa dan kehilangan konsentrasi.

“Saya sering nangis sendirian. Kadang tengah malam tiba-tiba terbangun mikirin tagihan. Rasanya seperti tidak ada jalan keluar. Anak butuh biaya sekolah, orang tua butuh obat, suami penghasilannya pas-pasan. Saya merasa gagal sebagai anak, sebagai ibu, sebagai istri,” ungkap Sari Wulandari, nama samaran, ibu dua anak yang bekerja sebagai guru honorer di Pamekasan, sambil menahan air mata.

Generasi sandwich juga menghadapi kesulitan menyeimbangkan pekerjaan dan tanggung jawab keluarga, yang dapat mengakibatkan penurunan produktivitas kerja dan kualitas hidup. Mereka dituntut untuk dapat menyeimbangkan manajemen waktu antara beban mengasuh dua generasi dan tuntutan pekerjaan.

Saran Pakar: Jalan Keluar atau Basa-Basi?

Menghadapi kompleksitas masalah generasi sandwich, para ahli menawarkan berbagai strategi. Sayoga Prasetyo, perencana keuangan, menegaskan pentingnya mengontrol anggaran keuangan.

“Pastikan anggaran keuangan jangan sampai keluar ke hal-hal yang tidak terlalu penting. Generasi sandwich harus memiliki dana darurat 12 kali dari pengeluaran, itu jadi fondasi utama agar lebih aman,” tegas Sayoga.

Lucky Bayu Purnomo menyarankan pendekatan yang berbeda: “Yang harus dilakukan pertama kali adalah mendahulukan kebutuhan sendiri, namun bukan berarti menghentikan dukungan finansial untuk orang tua. Alokasikan 40 persen menabung, 30 persen asuransi, dan sisanya investasi.”

Lucky juga menekankan pentingnya komunikasi terbuka dengan orang tua mengenai kebutuhan biaya pribadi sekaligus menyarankan untuk menahan biaya sekunder. “Intinya, jangan sampai menanggung biaya orang tua dengan berutang.”

Harsa Martana dari Manulife Indonesia menyoroti pentingnya persiapan dana pensiun sejak dini. “Mau tidak mau, persiapan pensiun harus dilakukan lebih awal untuk mengantisipasi masa pensiun yang lebih panjang. Kalau tidak, prediksi generasi sandwich akan terus bertambah hingga 2045.”

Namun, bagi generasi sandwich seperti Dina, Ani, Linda, dan jutaan lainnya, saran-saran ini terdengar seperti kemewahan yang tidak terjangkau.

“Menabung 40 persen? Investasi? Dana darurat 12 kali pengeluaran?” Dina tertawa pahit. “Makan setiap hari saja sudah syukur. Gimana mau nabung kalau gaji habis begitu masuk rekening? Teorinya bagus, tapi praktiknya? Impossible.”

Tahun Baru, Harapan Lama

31 Desember 2025, pukul 23.55 WIB. Di seluruh Indonesia, jutaan orang berkumpul merayakan pergantian tahun. Di monumen kota-kota besar di Indonesia, ribuan orang bersorak menyambut countdown. Di rumah-rumah, keluarga berdoa untuk tahun yang lebih baik.

Tapi di kamar kontrakannya di Surabaya, Dina duduk sendirian di depan laptop, membuka kalkulator dan spreadsheet keuangan untuk kesekian kalinya. Ia mencoba menghitung: berapa yang bisa ia sisihkan bulan ini, berapa yang harus ia pinjam, dan berapa lama lagi ia harus bertahan dalam siklus ini.

“Resolusi tahun baru saya sama seperti tahun-tahun sebelumnya,” ujarnya dengan senyum lelah. “Bertahan. Cuma itu. Bertahan sampai anak-anak lulus, orang tua tidak terlalu sering sakit, dan semoga saya tidak sakit juga. Itu saja sudah cukup.”

Pukul 00.00 WIB, 1 Januari 2026. Kembang api meletus di langit Indonesia. Orang-orang saling berpelukan, mengucapkan selamat tahun baru dengan penuh harap.

Sementara Dina, di pojok kamar, menutup laptopnya. Besok pagi, ia harus bangun pukul 05.00 untuk berangkat kerja. Tagihan sudah menunggu. Kehidupan terus berjalan. Dan siklus generasi sandwich, seperti roda hamster yang tak pernah berhenti, akan terus berputar.

Tahun baru, harapan lama. Dilema yang tak pernah usai.