FIFA Siapkan Revolusi Aturan Offside, Penyerang Baru Offside Jika Seluruh Tubuh di Depan Bek

- FIFA uji coba "Wenger Law" yang revolusioner: pemain baru offside jika seluruh tubuh di depan bek terakhir—bukan lagi offside milimeter ala VAR yang kontroversial.
- Arsene Wenger sebagai Kepala Pengembangan Sepak Bola FIFA yakin perubahan ini perlu karena VAR hilangkan keuntungan penyerang saat posisi meragukan, sudah diuji di liga usia muda Italia, Swedia, Belanda.
- IFAB beri lampu hijau lanjut uji coba, namun kritik muncul dari Jamie Carragher yang khawatir aturan baru bikin pertahanan negatif dan rusak keseimbangan taktik—FIFA tegaskan belum akan diterapkan segera di level elit.
, JAKARTA – Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) tengah mempersiapkan perubahan revolusioner dalam aturan offside yang diprediksi akan mengubah wajah sepak bola modern. Perubahan ini digagas oleh mantan pelatih Arsenal, Arsene Wenger, yang kini menjabat sebagai Kepala Pengembangan Sepak Bola Global FIFA.
Presiden FIFA Gianni Infantino mengonfirmasi rencana perubahan aturan tersebut dalam acara World Sport Summit di Dubai. Ia menegaskan bahwa FIFA terus meninjau Laws of the Game untuk membuat sepak bola lebih menyerang dan menarik.
“Kami terus meninjau Laws of the Game dan mengembangkan sepakbola dapat lebih menyerang, lebih menarik. Mungkin di masa depan, penyerang harus benar-benar berada di depan pemain lawan untuk dinyatakan offside.”
Dalam aturan baru yang dijuluki “Wenger Law” ini, seorang pemain hanya dianggap offside bila seluruh tubuhnya berada di depan pemain terakhir lawan ketika menerima bola. Artinya, jika ada bagian tubuh penyerang sejajar dengan bek, situasi itu tidak dihitung offside.
Ini merupakan perubahan drastis dari aturan saat ini yang menyatakan seorang pemain offside jika ada bagian tubuh yang dapat digunakan untuk mencetak gol lebih dekat ke garis gawang lawan dibandingkan bola atau pemain bertahan kedua terakhir.
Wenger menilai bahwa penggunaan Video Assistant Referee (VAR) membuat penyerang kehilangan keuntungan yang sebelumnya selalu diberikan ketika posisi meragukan. Era VAR telah menghadirkan keputusan offside yang sangat presisi hingga hitungan milimeter—sesuatu yang menurutnya kontraproduktif terhadap semangat permainan.
“Dulu, jika ragu, keunggulan milik striker, dengan VAR, hal itu hilang. Karena itu, saya mengusulkan perubahan ini agar permainan tetap adil.”
Pernyataan tersebut disampaikan Wenger dalam wawancara dengan beIN Sports.
FIFA dan International Football Association Board (IFAB) telah melakukan uji coba aturan baru ini di beberapa kompetisi. Menurut laporan, percobaan telah dilakukan di liga usia muda Italia, Swedia, dan Belanda dengan hasil yang cukup menjanjikan.
Wenger sendiri dikabarkan sangat yakin dengan perubahan peraturan ini setelah melihat hasil uji coba di sepak bola kategori usia muda tersebut. Ia telah berupaya mengubah peraturan offside sejak 2020 demi mengurangi jumlah offside dalam laga dan membuat pelanggaran tersebut mudah dipantau.
Dalam pertemuan terakhir pada Maret lalu, IFAB memberikan lampu hijau kepada FIFA untuk melanjutkan ujicoba aturan offside baru ini sebelum keputusan final diambil.
Namun, usulan aturan baru ini tidak lepas dari kritik. Mantan bek Liverpool, Jamie Carragher, menilai aturan baru berpotensi merusak keseimbangan taktik dalam permainan.
“Tim akan bertahan dengan cara berbeda dan lebih negatif. Pertandingan bisa jadi membosankan, padahal saat ini jumlah gol sudah banyak. Kita tidak butuh keuntungan tambahan untuk striker.”
Kritik Carragher menyoroti kekhawatiran bahwa aturan baru akan membuat pertahanan lebih sulit dan mengubah strategi tim secara fundamental. Tim-tim yang bermain dengan garis pertahanan tinggi akan paling terancam karena para pemain bertahan tidak bisa lagi mengandalkan VAR atau teknologi offside semi-otomatis untuk menyelamatkan mereka dari kesalahan tipis.
Juru bicara FIFA menanggapi kritik tersebut dengan menyatakan bahwa diskusi seputar perubahan hukum offside bukanlah hal baru dan bukan sesuatu yang akan diperkenalkan di tingkat lebih tinggi dalam waktu dekat.
“Diskusi seputar perubahan hukum offside bukanlah hal baru dan bukan sesuatu yang akan kita lihat diperkenalkan di tingkat lebih tinggi dalam waktu dekat.”
Pernyataan ini menunjukkan bahwa FIFA akan melakukan pengujian ekstensif sebelum menerapkan aturan ini secara resmi di kompetisi tingkat elit.
Selain revolusi offside, FIFA juga sedang mempertimbangkan langkah tambahan untuk mempercepat tempo permainan dan mengurangi time-wasting atau buang-buang waktu. Infantino menyinggung aturan yang sudah mulai diuji coba, yakni batasan waktu yang lebih ketat bagi penjaga gawang dalam menguasai bola.
Saat ini, aturan kiper memegang bola selama 6 detik sering kali diabaikan oleh wasit. Dalam aturan uji coba baru, kiper hanya diperbolehkan menahan bola maksimal 8 detik. Jika kiper melanggar batas waktu tersebut, tim lawan tidak lagi diberi tendangan bebas tidak langsung di dalam kotak penalti yang rumit eksekusinya, melainkan langsung diberikan hadiah tendangan sudut atau corner kick.
Aturan ini diharapkan dapat meminimalisir taktik membuang-buang waktu yang kerap dilakukan tim yang sedang unggul skor di menit-menit akhir pertandingan.
Perubahan aturan offside ini bisa menjadi yang terbesar sejak tahun 1990-an. Dampaknya akan sangat luas, mulai dari cara tim menyusun strategi, pelatihan pemain bertahan, hingga cara wasit mengambil keputusan di lapangan.
Jika diterapkan secara resmi, aturan baru ini akan menguntungkan penyerang dengan memberikan mereka lebih banyak ruang untuk bergerak. Ini sejalan dengan visi FIFA untuk membuat sepak bola lebih ofensif dan menarik untuk ditonton.
Namun, perubahan ini juga menuntut adaptasi besar dari para pelatih dan pemain bertahan. Strategi perangkap offside yang selama ini menjadi senjata ampuh banyak tim akan menjadi kurang efektif. Tim-tim harus mengembangkan pendekatan bertahan yang berbeda untuk mengimbangi keuntungan yang diberikan kepada penyerang.
Teknologi VAR yang tadinya menjadi alat presisi untuk mendeteksi offside milimeter, perannya akan berkurang dalam aturan baru ini. Keputusan offside akan menjadi lebih jelas dan mudah dipantau karena hanya mempertimbangkan apakah seluruh tubuh penyerang berada di depan bek terakhir.
Setiap potensi perubahan Laws of the Game akan menjalani pengujian ekstensif sebelum diadopsi secara resmi. FIFA berkomitmen untuk memastikan bahwa perubahan ini benar-benar membawa dampak positif bagi permainan sebelum diterapkan di kompetisi-kompetisi besar seperti Liga Champions, Piala Dunia, atau liga-liga top Eropa.
Proses ini bisa memakan waktu bertahun-tahun, dengan berbagai uji coba di tingkat yang berbeda-beda untuk melihat dampak nyata dari perubahan aturan tersebut.
Rencana FIFA untuk mengubah aturan offside menandai era baru dalam sepak bola modern. “Wenger Law” yang digagas oleh mantan pelatih Arsenal ini bisa menjadi salah satu perubahan paling signifikan dalam sejarah permainan, mengakhiri era offside milimeter yang kontroversial di era VAR.
Dengan dukungan dari IFAB dan hasil uji coba yang menjanjikan, aturan ini berpotensi segera diterapkan secara luas. Namun, kritik dari berbagai pihak menunjukkan bahwa diskusi dan evaluasi masih harus terus dilakukan untuk memastikan keseimbangan antara membuat permainan lebih menarik dan menjaga integritas taktik sepak bola.
Bagi para penggemar sepak bola, perubahan ini bisa menjadi awal dari era baru di mana gol lebih banyak tercipta dan permainan menjadi lebih menghibur. Namun, hanya waktu yang akan membuktikan apakah revolusi aturan offside ini benar-benar akan membawa dampak positif atau justru mengubah esensi fundamental dari permainan yang dicintai jutaan orang di seluruh dunia.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: