Enam Amalan Dianjurkan untuk Menyambut Bulan Ramadhan, Mulai dari Qadha Puasa
- Enam amalan dianjurkan menjelang Ramadhan meliputi membayar utang puasa, memperbanyak puasa sunnah di Syaban, membiasakan baca Al-Quran, membekali diri dengan ilmu puasa, berdoa agar dipertemukan dengan Ramadhan, dan melakukan rukyatul hilal
- Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sangat sering berpuasa di bulan Syaban sebagai persiapan menyambut Ramadhan, tetapi umat Islam dilarang berpuasa satu atau dua hari menjelang Ramadhan agar tidak bercampur dengan puasa wajib
- Qadha puasa Ramadhan sebelumnya harus diselesaikan paling lambat di bulan Syaban, sebagaimana dilakukan Aisyah radhiyallahu anha yang mengqadha puasanya di bulan tersebut karena kesibukan mengurusi Rasulullah
, Jakarta – Bulan Ramadhan menjadi momen penting bagi umat Islam untuk memperbanyak amal ibadah sekaligus membersihkan diri dari kebiasaan kurang baik. Persiapan sebaiknya dilakukan sejak dini agar puasa dapat dijalankan dengan lebih fokus dan maksimal.
Persiapan menyambut Ramadhan tidak hanya dilakukan ketika bulan suci itu tiba. Umat Islam dianjurkan melakukan berbagai persiapan sejak jauh hari, baik secara fisik, ilmu, maupun spiritual.
Tujuannya agar ibadah di bulan Ramadhan dapat dijalankan dengan lebih khusyuk, tertata, dan sesuai tuntunan syariat.
Salah satu persiapan paling penting adalah membayar utang puasa Ramadhan sebelumnya. Hal ini terutama berlaku bagi wanita yang tidak berpuasa karena haid atau uzur lainnya.
Waktu untuk mengqadha puasa Ramadhan adalah sepanjang tahun hingga datang bulan Syaban. Bulan Syaban menjadi batas waktu terakhir sebelum memasuki Ramadhan berikutnya.
Aisyah radhiyallahu anha pernah berkata:
كَانَ يَكُونُ عَلَيَّ الصَّوْمُ مِنْ رَمَضَانَ فَمَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَقْضِيَ إِلَّا فِي شَعْبَانَ
“Aku berutang puasa Ramadan dan aku tidak bisa mengqadhanya kecuali pada bulan Syaban.”
Hal itu karena kesibukan beliau mengurusi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
Memperbanyak puasa sunnah di bulan Syaban juga dianjurkan. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dikenal sangat sering berpuasa pada bulan ini, bahkan hampir berpuasa penuh sepanjang Syaban.
Aisyah radhiyallahu anha mengatakan:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَصُومُ حَتَّى نَقُولُ لَا يُفْطِرُ، وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولُ لَا يَصُومُ. فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلَّا رَمَضَانَ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ
“Rasulullah shallallahu alaihi wasallam biasa berpuasa, sampai kami katakan bahwa beliau tidak berbuka. Beliau pun berbuka sampai kami katakan bahwa beliau tidak berpuasa. Aku tidak pernah melihat Rasulullah berpuasa secara sempurna sebulan penuh selain pada bulan Ramadan. Aku pun tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih banyak daripada di bulan Syaban.”
Puasa sunnah ini menjadi bentuk persiapan diri agar tubuh dan jiwa lebih siap menjalankan ibadah puasa Ramadan dengan maksimal.
Namun ada ketentuan penting. Umat Islam dilarang berpuasa satu atau dua hari menjelang masuknya Ramadan, agar puasa sunnah Syaban tidak bercampur dengan puasa wajib Ramadan.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
لا تَقَدَّمُوا رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ وَلَا يَوْمَيْنِ إِلَّا رَجُلٌ كَانَ يَصُومُ صَوْمًا فَلْيَصُمْهُ
“Janganlah kalian berpuasa satu atau dua hari sebelum Ramadan kecuali seseorang yang punya kebiasaan puasa, maka bolehlah ia berpuasa.”
Membaca Al-Quran perlu mulai dibiasakan sebelum datangnya bulan Ramadhan. Hal ini bertujuan sebagai latihan kesungguhan agar saat Ramadhan tiba, kita sudah terbiasa mengisi waktu dengan tilawah.
Membekali diri dengan ilmu tentang puasa juga penting. Ilmu tersebut mencakup pemahaman tentang hukum, tata cara, serta ketentuan syariat puasa Ramadan, dan pengetahuan mengenai keutamaan Ramadan beserta cara meraihnya sesuai tuntunan sunnah.
Sebagian ulama salaf mencontohkan kebiasaan berdoa agar Allah mempertemukan mereka dengan bulan Ramadhan. Diriwayatkan bahwa mereka berdoa selama enam bulan agar dapat berjumpa dengan Ramadan, lalu berdoa selama lima bulan berikutnya agar amal ibadahnya diterima.
Bagi yang memiliki kemampuan dan pengetahuan, dianjurkan untuk melakukan rukyatul hilal. Sistem penanggalan Islam didasarkan pada peredaran bulan, berbeda dengan penanggalan masehi yang mengacu pada peredaran matahari.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
إِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَصُومُوا، وَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَأَفْطِرُوا، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدِرُوا لَهُ
“Apabila kalian melihat hilal awal bulan Ramadan, maka berpuasalah, dan apabila kalian melihat hilal awal bulan Syawal maka berhari rayalah. Jika kalian tidak bisa melihatnya karena mendung maka sempurnakanlah hitungan bulan.”
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: