BMKG: Puncak Kemarau Indonesia Diprediksi Agustus 2026, El Nino Berpotensi Bertahan hingga Awal 2027

- BMKG memprediksi puncak kemarau Indonesia terjadi pada Agustus 2026, mencakup 369 Zona Musim atau hampir 49% luas daratan, dengan wilayah terdampak meliputi sebagian besar Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua.
- Fenomena El Nino diprediksi bertahan hingga awal 2027 dengan peluang intensitas moderat 98% dan kategori kuat 62%, memperpanjang ancaman kekeringan yang lebih parah dari normal.
- BMKG merekomendasikan penyesuaian jadwal tanam di sektor pertanian, revitalisasi waduk, penjagaan kapasitas PLTA, serta kewaspadaan terhadap karhutla dan lonjakan kasus ISPA.
, Jakarta – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan bahwa musim kemarau tahun ini akan lebih kering dan lebih panjang dari kondisi normal. Puncaknya diprediksi jatuh pada Agustus 2026, dengan dampak yang diperkirakan menjangkau hampir separuh luas daratan Indonesia.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan, pada Juli 2026 puncak kemarau akan terjadi di 83 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 12,26% luas daratan. Angka itu melonjak drastis pada Agustus menjadi 369 ZOM atau 48,84% luas daratan, kemudian menyusut kembali ke 169 ZOM atau 25,41% pada September.
“Wilayah yang diprediksi mengalami puncak kemarau pada Juli 2026 meliputi sebagian Sumatra, sebagian kecil Kalimantan dan Jawa, Nusa Tenggara Timur bagian selatan, Sulawesi Barat bagian utara, Sulawesi Tengah bagian barat, sebagian kecil Maluku, Papua Barat Daya bagian selatan, Papua Barat bagian tengah, dan Papua bagian timur,” ujar Faisal.
Pada Agustus, sebagian besar Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, sebagian Nusa Tenggara Timur, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga sebagian besar Papua akan merasakan tekanan kemarau secara bersamaan. Kondisi ini membuat Agustus menjadi bulan yang paling kritis untuk dihadapi.
Yang memperparah situasi, fenomena El Nino diperkirakan belum berakhir dalam waktu dekat. Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan mengungkapkan El Nino berpotensi bertahan hingga awal 2027.
“BMKG memprediksi fenomena El Nino akan terus bertahan hingga awal 2027 dengan peluang intensitas mencapai kategori moderat sebesar 98% dan kategori kuat sebesar 62%,” kata Ardhasena. “Namun demikian, dampaknya untuk wilayah Indonesia ketika bertemu periode musim kemarau hingga pertengahan Oktober,” tambahnya.
Dua tekanan iklim yang bertemu dalam satu periode, kemarau panjang dan El Nino yang belum reda, membuat tahun ini patut diwaspadai lebih dari sekadar musim kering biasa.
Untuk itu, BMKG mengeluarkan serangkaian rekomendasi lintas sektor. Di sektor pertanian, petani diminta menyesuaikan jadwal tanam dan beralih ke varietas yang lebih tahan kekeringan. Di sektor sumber daya air, revitalisasi waduk dan perbaikan jaringan distribusi menjadi prioritas. Pengelola bendungan di sektor energi juga diimbau menjaga kapasitas air guna mendukung operasional pembangkit listrik tenaga air.
BMKG turut mengingatkan risiko ikutan yang kerap menyertai kemarau panjang, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta lonjakan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat memburuknya kualitas udara.
“BMKG secara aktif berkomunikasi, berkoordinasi, serta melakukan pendampingan kepada pemangku kepentingan di tingkat daerah, seperti pemerintah daerah, Forkopimda, BPBD, dan semua pihak yang membutuhkan informasi yang lebih detail dan bagaimana cara memitigasi serta beradaptasi terkait dengan kondisi iklim yang terjadi saat ini,” kata Faisal.
Per akhir Mei 2026, sebanyak 200 ZOM atau 11,83% luas daratan Indonesia telah lebih dulu memasuki musim kemarau. Sepanjang Juni, BMKG memperkirakan tambahan 198 ZOM atau 31,60% luas daratan akan menyusul.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: