Produksi Listrik Batu Bara China dan India Turun, Pertama Sejak 1970-an

- Produksi listrik batu bara di China dan India menurun bersamaan untuk pertama kalinya sejak 1970-an, meski permintaan listrik di kedua negara masih meningkat.
- Lonjakan kapasitas energi terbarukan, terutama tenaga surya dan angin, menjadi faktor utama yang menggantikan peran batu bara dalam pasokan listrik.
- Penurunan ini dinilai sebagai sinyal awal pergeseran energi global dan berpotensi menekan laju pertumbuhan emisi karbon dunia ke depan.
, Jakarta – Produksi listrik berbasis batu bara di China dan India tercatat menurun secara bersamaan untuk pertama kalinya sejak era 1970-an. Tren ini dinilai sebagai sinyal penting pergeseran energi global, seiring pesatnya pengembangan energi terbarukan di dua negara dengan konsumsi batu bara terbesar di dunia tersebut.
Berdasarkan analisis lembaga riset energi internasional, penurunan terjadi meski kebutuhan listrik di China dan India masih mengalami peningkatan. Kondisi ini menunjukkan bahwa energi bersih mulai menggantikan peran batu bara dalam memenuhi permintaan listrik nasional.
Di China, produksi listrik dari pembangkit batu bara turun sekitar 1,6 persen sepanjang 2025 dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, India mencatat penurunan yang lebih dalam, yakni sekitar 3 persen pada periode yang sama.
Penurunan tersebut didorong oleh lonjakan kapasitas energi terbarukan, terutama tenaga surya dan angin. China menambah ratusan gigawatt kapasitas pembangkit listrik hijau hanya dalam satu tahun, menjadikannya salah satu ekspansi energi bersih terbesar sepanjang sejarah. India juga mempercepat pembangunan pembangkit tenaga surya, angin, dan air untuk memperkuat bauran energinya.
Para analis menilai, kondisi ini dapat menjadi indikasi awal tercapainya puncak konsumsi batu bara global, yang selama satu dekade terakhir didorong terutama oleh pertumbuhan ekonomi China dan India. Jika tren ini berlanjut, emisi karbon dunia berpotensi melambat bahkan menurun dalam beberapa tahun ke depan.
Meski demikian, sejumlah faktor non-struktural seperti kondisi cuaca yang lebih sejuk dan perlambatan pertumbuhan permintaan listrik juga ikut memengaruhi penurunan penggunaan batu bara, khususnya di India. Para ahli memperingatkan bahwa gelombang panas ekstrem di masa depan masih berpotensi meningkatkan kembali konsumsi energi.
Kendati demikian, perkembangan ini dipandang sebagai tonggak penting transisi energi global, sekaligus memperkuat optimisme bahwa investasi besar-besaran pada energi terbarukan mulai memberikan dampak nyata terhadap pengurangan ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: