BPS Catat Telur dan Cabai Rawit Berpotensi Melonjak Jelang Lebaran 2026

- BPS mencatat harga telur ayam ras rata-rata nasional Rp32.475 per kilogram dan cabai rawit Rp71.429 per kilogram pada pekan pertama Maret 2026, keduanya melampaui harga acuan dan berpotensi terus naik menjelang Lebaran 2026.
- Harga tertinggi telur ayam ras dan daging ayam ras terpantau di Kabupaten Intan Jaya, Papua, masing-masing mencapai Rp100.000 per kilogram, sementara cabai rawit tertinggi Rp200.000 per kilogram di Kabupaten Nduga.
- Kementerian Pertanian menggelar operasi pasar cabai dan bawang merah di 20 titik Jakarta pada 10–19 Maret 2026 untuk meredam kenaikan harga dan memperpendek rantai distribusi.
, JAKARTA – Mendekati Idulfitri 1447 Hijriah, tekanan harga di pasar bahan pangan mulai terasa. Badan Pusat Statistik mencatat sejumlah komoditas strategis sudah bergerak naik, dan beberapa di antaranya bahkan sudah jauh melampaui harga acuan yang ditetapkan pemerintah.
Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menyebut telur ayam ras dan cabai rawit sebagai dua komoditas yang paling perlu dikendalikan menjelang Lebaran. Permintaan atas keduanya secara historis selalu melonjak di momen ini.
Pada pekan pertama Maret 2026, rata-rata harga telur ayam ras secara nasional mencapai Rp32.475 per kilogram. Angka itu sudah mengkhawatirkan, tapi yang lebih mencolok adalah harga tertingginya: Rp100.000 per kilogram, tercatat di Kabupaten Intan Jaya dan Kabupaten Mamberamo Tengah. Sebanyak 210 kabupaten/kota dilaporkan mengalami kenaikan harga pada periode yang sama.
Di Buton Utara, harga telur ayam ras mencapai Rp37.293 per kilogram, atau 24,31 persen di atas harga acuan penjualan yang ditetapkan pemerintah.
Kondisi cabai rawit tidak lebih baik. Rata-rata harga nasionalnya tercatat Rp71.429 per kilogram pada pekan pertama Maret 2026, dengan harga tertinggi Rp200.000 per kilogram di Kabupaten Nduga. Kenaikan Indeks Perkembangan Harga terjadi di hampir separuh wilayah Indonesia, tepatnya 49,17 persen.
Daging ayam ras ikut terdampak. Harga rata-rata nasionalnya sudah melampaui harga acuan penjualan, berada di Rp41.181 per kilogram, dengan harga tertinggi kembali tercatat di Kabupaten Intan Jaya pada angka Rp100.000 per kilogram.
Yang sedikit memberi napas, bawang merah menunjukkan tren penurunan, meski masih tipis di atas harga acuan Rp41.500 per kilogram, berada di Rp41.906 per kilogram. Minyak goreng juga relatif stabil, bahkan cenderung turun. Rata-rata nasional minyak goreng turun 0,40 persen menjadi Rp19.319 per liter. Untuk Minyakita, harganya turun 1,64 persen dibanding Februari 2026 menjadi Rp16.441 per liter, meski masih melampaui harga eceran tertinggi.
Naiknya harga jelang Lebaran sebenarnya bukan hal yang mengejutkan siapa pun di pasar. Yang menarik justru seberapa cepat pemerintah bergerak kali ini.
Kementerian Pertanian sudah bersiap turun langsung ke pasar. Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Kementan, Muhammad Agung Sunusi, menyatakan operasi pasar cabai dan bawang merah akan digelar di 20 titik di Jakarta mulai 10–19 Maret 2026.
“Kami akan melakukan aksi cabai dan bawang merah harga terjangkau, yang kami mulai titiknya nanti, kurang lebih insya Allah di 20 titik Pasar Pemantauan SP2KP atau Info Pangan gerai Perumda Pasar Jaya,” kata Muhammad Agung Sunusi dalam rapat koordinasi pengendalian inflasi daerah yang disiarkan melalui YouTube Kemendagri, Senin (9/3/2026).
Komoditas tersebut akan dijual dalam kemasan dengan volume 300 hingga 500 kilogram per hari di Toko Tani Modern Pasar Minggu, Jakarta Selatan, serta di titik-titik pasar pemantauan lainnya. Agung menyebut perpendekkan rantai distribusi menjadi tujuan utama, agar harga yang sampai ke tangan konsumen bisa lebih terjangkau.
Dari sisi pasokan, Kementan memantau produksi cabai rawit merah di Blitar yang mencakup sekitar 2.000 hektare dan tersebar di tiga kecamatan. Hasil panen dari sana didistribusikan ke Pasar Pare Kediri dan Pasar Induk Jakarta. Distribusi dari Enrekang dan Sulawesi Selatan juga mulai diarahkan ke wilayah yang harganya tinggi, seperti Lombok Timur dan Lombok Tengah.
Meski masa panen di sejumlah sentra produksi sudah berlangsung dan harga cabai rawit mulai menunjukkan tren turun, data Kementan per pekan pertama Maret 2026 mencatat harga di tingkat produsen masih Rp59.039 per kilogram, sedangkan di tingkat konsumen Rp71.574 per kilogram, keduanya masih di atas harga acuan penjualan.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: