BRIN Bidik Peluncuran Roket Mandiri Lebih Cepat dari Target 2040

- Target dipercepat: Kepala BRIN Arif Satria menginginkan Indonesia mampu meluncurkan roket mandiri lebih cepat dari target awal 2040 dengan meningkatkan fokus, alokasi waktu, dan produktivitas.
- Optimalisasi Biak: Bandar Antariksa Biak menjadi fokus utama sebagai pusat peluncuran nasional yang dirancang dengan sistem terintegrasi dan koordinasi lintas kementerian.
- Penguatan riset: BRIN mendorong peningkatan kualitas riset dan pemanfaatan hibah internasional untuk mempercepat pengembangan teknologi antariksa strategis.
, JAKARTA – Indonesia menegaskan komitmennya untuk meraih kemandirian teknologi antariksa melalui optimalisasi Bandar Antariksa Biak sebagai fasilitas peluncuran nasional. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di bawah kepemimpinan Arif Satria menargetkan percepatan program ini melebihi rencana awal yang telah ditetapkan.
Rencana Induk Keantariksaan Nasional (Renduk) 2017-2040 sebenarnya telah menargetkan Indonesia mampu meluncurkan satelit dan roket secara mandiri dari wilayahnya sendiri pada 2040. Namun, Arif menilai target tersebut perlu diakselerasi mengingat dinamika teknologi global yang berkembang pesat.
“Kalau bisa sebelum tahun 2040, mengapa tidak lebih cepat? Kuncinya adalah fokus, alokasi waktu, dan produktivitas,” ujar Arif.
Pernyataan tersebut disampaikan saat kunjungan kerja ke Kawasan Sains M. Ibnoe Subroto, Rancabungur, Bogor, Jawa Barat, pada 31 Desember 2025. Kunjungan ini difokuskan untuk meninjau kesiapan fasilitas riset keantariksaan, persiapan peluncuran satelit A4, dan pengembangan bandar antariksa sebagai fondasi strategis kedaulatan teknologi bangsa.
Perekayasa Ahli Utama Pusat Riset Teknologi Roket BRIN, Rika Andiarti, menjelaskan bahwa pengembangan bandar antariksa telah tercantum dalam Renduk 2017-2040 yang memuat visi jangka panjang Indonesia di bidang antariksa. Dokumen ini dievaluasi setiap lima tahun untuk menyesuaikan dengan perkembangan teknologi dan tantangan global.
“Renduk dievaluasi setiap lima tahun. Dalam konteks saat ini, sejumlah target dan strategi perlu didefinisikan ulang agar lebih adaptif dan realistis,” kata Rika.
Arif menekankan bahwa percepatan pengembangan antariksa tidak cukup hanya mengandalkan infrastruktur fisik semata. Tata kelola yang jelas, pembagian peran, dan koordinasi antarunit menjadi faktor krusial agar program strategis berjalan efektif dan efisien.
“Kita tidak boleh terjebak pada tumpang tindih kewenangan. Yang dibutuhkan adalah sistem yang terintegrasi,” tegasnya.
BRIN saat ini tengah berkoordinasi dengan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN-RB) serta kementerian dan lembaga terkait untuk membahas kelembagaan. Namun, Kepala BRIN menekankan bahwa efektivitas fungsi jauh lebih penting dibandingkan sekadar bentuk organisasi.
“Yang utama adalah bagaimana fungsi keantariksaan berjalan secara terintegrasi dan berkelanjutan,” tuturnya.
Salah satu fokus utama BRIN adalah optimalisasi Bandar Antariksa Biak yang dirancang sebagai pusat peluncuran nasional sekaligus simpul kerja sama internasional di masa depan. Fasilitas ini disiapkan secara bertahap melalui koordinasi lintas kementerian dan lembaga dengan dukungan infrastruktur pendukung yang memadai.
Arif juga mendorong para peneliti untuk meningkatkan intensitas dan kualitas riset, termasuk memanfaatkan peluang hibah riset luar negeri yang semakin terbuka. Menurutnya, keunggulan di bidang keantariksaan hanya dapat dicapai melalui kerja keras dan komitmen penuh.
“Tidak ada negara yang berjaya di antariksa dengan kerja setengah-setengah. Kesuksesan adalah fungsi dari pemanfaatan waktu,” terangnya.
BRIN memastikan akan terus menyempurnakan mekanisme pendanaan dan sistem penghargaan riset untuk mendukung publikasi ilmiah serta pengembangan teknologi strategis. Langkah ini diharapkan mampu memperkuat posisi Indonesia dalam kompetisi antariksa global dan mewujudkan kedaulatan teknologi nasional.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: