COP30 di Brasil Usai, Hasil Perundingan Dinilai Belum Mampu Jawab Krisis Iklim

- COP30 di Belem, Brasil, berakhir tanpa langkah tegas keluar dari energi fosil sehingga PBB menilai dunia belum mendekati kemenangan atas krisis iklim.
- Konferensi menghasilkan beberapa kemajuan seperti pendanaan adaptasi, mekanisme transisi berkeadilan, dan penguatan hak masyarakat adat, tetapi dianggap masih jauh dari tuntutan sains.
- PBB, Greenpeace, dan Uni Eropa sama-sama melihat hasil COP30 hanya sebagai langkah kecil yang belum memadai untuk menjawab darurat iklim global.
, Jakarta, Konferensi Iklim PBB COP30 di Belem, Brasil, resmi ditutup dengan kesepakatan yang dinilai belum cukup untuk menjawab kedaruratan krisis iklim. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menegaskan, dunia belum memenangkan pertarungan melawan pemanasan global meski sejumlah komitmen baru disepakati.
Dalam dokumen akhir, negara-negara peserta gagal menyetujui langkah tegas untuk mengakhiri penggunaan bahan bakar fosil. Kepala Urusan Iklim PBB, Simon Stiell, menyebut hasil COP30 mencerminkan kuatnya tekanan politik dan perbedaan posisi antarnegara.
“Kita belum memenangkan pertarungan iklim, tetapi kita masih berada di dalamnya dan terus berupaya,” kata Stiell seusai sidang pleno penutupan yang berlangsung lama dan beberapa kali diwarnai ketegangan. Ia menambahkan, penolakan, perpecahan, dan dinamika geopolitik tahun ini telah menguji kerja sama internasional. Stiell juga menyinggung keputusan Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump yang tidak mengirim delegasi ke COP30, sementara Trump sebelumnya berulang kali meremehkan krisis iklim.
Meski demikian, Stiell menilai masih ada sinyal positif. Ia menyoroti kesepakatan yang menyatakan bahwa transisi global menuju pembangunan rendah emisi dan berketahanan iklim bersifat tidak dapat diputar balik. Menurutnya, formulasi tersebut merupakan pesan politik yang penting dari 194 negara peserta.
COP30 dibuka lebih dari dua pekan lalu dengan pertemuan para pemimpin dunia dan berakhir pada Sabtu (22/11/2025) larut malam. Brasil semula berharap konferensi selesai tepat waktu, namun perbedaan tajam dalam perundingan sempat membuat proses hampir buntu pada Jumat (21/11/2025). Negosiasi yang berlangsung sepanjang malam disertai serangkaian kompromi akhirnya menghasilkan teks kesepakatan.
Konferensi melahirkan beberapa keputusan, di antaranya janji untuk melipatgandakan pendanaan adaptasi bagi negara rentan, kesepakatan mengenai mekanisme transisi berkeadilan, serta penguatan pengakuan atas hak-hak masyarakat adat. Namun, usulan untuk merumuskan peta jalan penghentian bahan bakar fosil dan penghentian deforestasi tidak tercapai. Isu tersebut kemudian dialihkan untuk dibahas dalam kerja sama sukarela di luar kerangka formal PBB oleh koalisi negara-negara yang bersedia.
Sejumlah pihak menilai hasil COP30 masih jauh dari cukup. Deputi Direktur Program Greenpeace International, Jasper Inventor, menyatakan konferensi ini “dimulai dengan ambisi tinggi namun berakhir dengan kekecewaan”. Menurutnya, COP30 seharusnya menjadi titik balik dari sekadar perundingan menuju implementasi kebijakan yang lebih konkret.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyebut masih terdapat kemajuan yang bisa dicatat, tetapi mengingatkan bahwa proses konsensus menjadi kian sulit di tengah perpecahan geopolitik. “Saya tidak bisa mengatakan COP30 memberikan semua yang dibutuhkan, karena kesenjangan antara kondisi saat ini dan apa yang direkomendasikan sains masih sangat lebar,” ujarnya.
Dari pihak Uni Eropa, Komisioner Lingkungan Wopke Hoekstra menyatakan hasil COP30 belum ideal, namun tetap dipandang sebagai langkah maju. Dalam pernyataannya, ia menilai kesepakatan yang dicapai bukanlah solusi akhir, melainkan tahapan berikutnya dalam upaya panjang menangani krisis iklim.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: