Harga Perak Rebound 2,63% di Akhir Pekan, Konflik Timur Tengah Jadi Katalis Kenaikan

- Harga perak rebound 2,63% ke US$84,33 per troy ons pada Jumat (6/3/2026), meski masih terkoreksi 10,11% sepanjang pekan akibat meredupnya ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed dan kekhawatiran inflasi dari kenaikan harga energi.
- Data pasar kerja AS yang beragam memunculkan sinyal stagflasi, PHK sektor swasta anjlok tajam, tetapi biaya tenaga kerja per unit justru melonjak di Q4 2025, menekan prospek pelonggaran kebijakan moneter The Fed yang kini baru diperkirakan terjadi pada Juli 2026.
- Eskalasi militer Israel ke Teheran pada 5 Maret 2026 menjadi katalis kenaikan perak karena mendorong permintaan aset lindung nilai, memberikan potensi reli lanjutan apabila konflik Timur Tengah terus melebar.
, Jakarta – Harga perak menutup pekan ini dengan rebound yang cukup tajam. Pada perdagangan Jumat (6/3/2026), logam mulia itu menguat 2,63% ke level US$84,33 per troy ons, bangkit setelah investor sempat melepas posisi menyusul lonjakan harga beberapa waktu sebelumnya.
Namun secara mingguan, harga perak masih mencatat koreksi 10,11% secara point-to-point. Ini bukan angka kecil.
Tekanan utama datang dari dua arah. Pertama, ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh bank sentral Amerika Serikat (The Fed) makin memudar. Kedua, kenaikan harga energi global yang dipicu eskalasi di Timur Tengah memunculkan kekhawatiran inflasi baru, yang membuat The Fed semakin sulit bergerak.
Pasar saat ini memperkirakan pelonggaran kebijakan moneter AS tidak lebih dari 40 basis poin sepanjang 2026. Para pembuat kebijakan The Fed akan bertemu pada 18 Maret mendatang, dan hampir tidak ada yang mengharapkan kejutan, pemotongan suku bunga pertama baru diperkirakan terjadi pada Juli 2026.
Data pasar kerja Amerika juga ikut menyumbang kebingungan. Challenger Job Cuts melaporkan pemutusan hubungan kerja di sektor swasta turun drastis pada Februari menjadi 48.307 kasus, dari 108.435 pada Januari. Klaim tunjangan pengangguran mingguan yang berakhir 28 Februari tercatat 213 ribu, lebih rendah dari estimasi pasar 215 ribu.
Di sisi lain, produktivitas tenaga kerja nonpertanian Amerika pada kuartal IV 2025 hanya tumbuh 2,8%, melambat dari 5,2% di kuartal sebelumnya. Pada periode yang sama, biaya tenaga kerja per unit justru melonjak 2,8%, berbalik dari penurunan 1,8% pada kuartal III.
Kombinasi data itulah yang memantik kekhawatiran lebih serius di kalangan pelaku pasar.
“Laporan penggajian yang sangat lemah, yang menunjukkan kehilangan pekerjaan besar-besaran di sektor swasta bersamaan dengan kenaikan upah, mengisyaratkan stagflasi,” kata Tai Wong, pedagang logam independen, kepada Reuters.
Stagflasi, pertumbuhan mandek di tengah inflasi yang merayap naik, adalah skenario terburuk bagi bank sentral manapun. Dan perak, seperti emas, biasanya bergerak tidak linier dalam lingkungan semacam ini.
Yang memberi angin segar bagi perak adalah perang. Israel melancarkan gelombang serangan besar ke Teheran pada Kamis (5/3/2026), menargetkan infrastruktur milik otoritas Iran, menyusul serangan rudal Iran yang sebelumnya memaksa jutaan warga Israel berlari ke bunker. Eskalasi ini mendorong pelarian modal ke aset-aset lindung nilai, termasuk logam mulia.
Pergerakan perak memang selalu mengikuti emas lebih dari komoditasnya sendiri. Ketika emas kembali bangkit, perak ikut terseret naik. Bedanya, volatilitas perak cenderung lebih liar di kedua arah, ketika jatuh lebih dalam, ketika naik juga bisa lebih cepat.
Apakah rebound ini akan berlanjut menjadi reli yang lebih panjang, banyak bergantung pada dua hal yang belum pasti seberapa jauh konflik Timur Tengah akan melebar, dan kapan The Fed akhirnya berani menggerakkan suku bunga ke bawah.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: