TODAY'S RECAP

Rubrikasi

Informasi

Ikuti Kami

9 April 2026

Cari berita

Harga Plastik Meledak Gara-Gara Perang, Ekspor Air Kemasan Indonesia Ikut Terseret

Poin Penting (3)
  • Ekspor AMDK Indonesia diproyeksikan tumbuh hanya 5% pada 2026, melambat dibanding tahun sebelumnya akibat tekanan biaya produksi dari gejolak global.
  • Harga bahan baku kemasan plastik seperti PET resin, HDPE, dan polipropilena melonjak 25%-100% dipicu gangguan pasokan petrokimia akibat konflik di Selat Hormuz.
  • Biaya produksi AMDK secara keseluruhan naik 35%-45%, dan produsen kecil-menengah paling terpukul, dengan banyak yang terpaksa mengurangi produksi.

Resolusi.co, Jakarta – Industri air minum dalam kemasan Indonesia harus merelakan laju ekspor yang lebih lambat tahun ini. Gejolak global yang mengacak-acak rantai pasok bahan baku menjadi batu sandungan yang sulit dihindari.

Ketua Umum Perkumpulan Usaha Air Minum Dalam Kemasan Nusantara (Amdatara) Karyanto Wibowo memperkirakan ekspor produk AMDK hanya akan tumbuh sekitar 5% sepanjang 2026. Angka itu lebih rendah dari capaian tahun sebelumnya, dengan pasar tujuan yang masih bertumpu pada kawasan Asia Tenggara.

“Ekspor diproyeksikan tumbuh 5% pada 2026, yang mana pasar utama tetap berada di negara-negara Asia Tenggara,” ujar Karyanto Wibowo.

Di balik angka itu ada tekanan yang cukup serius dari sisi biaya produksi. Harga tiga bahan baku kemasan plastik utama, yaitu PET resin, HDPE, dan polipropilena, melambung antara 25% hingga 60%. Bahkan untuk jenis material tertentu, kenaikannya menembus 100%.

Pemicunya bukan semata dinamika pasar biasa.

“Bahkan pada beberapa jenis material mencapai kenaikan hingga 100%, seiring terganggunya pasokan minyak dan petrokimia global akibat ketegangan di Selat Hormuz,” kata Karyanto.

Ketegangan di Timur Tengah memang punya efek berantai yang panjang. Gangguan pada jalur pengiriman minyak memengaruhi pasokan petrokimia, yang kemudian memukul harga plastik industri secara global. Bagi produsen AMDK, ini bukan soal angka di laporan keuangan saja, tapi soal seberapa dalam mereka bisa bertahan.

Secara keseluruhan, biaya produksi AMDK naik 35% hingga 45%. Produsen skala kecil dan menengah menjadi kelompok yang paling terasa dampaknya, dan sebagian terpaksa memangkas volume produksi mereka.

Karyanto tetap menyebut industri AMDK akan berkontribusi pada surplus neraca perdagangan sektor makanan dan minuman. Dari sisi impor, tekanannya relatif minimal karena kapasitas produksi dalam negeri masih terjaga kuat.

Yang menarik, ketahanan sisi impor ini justru menjadi satu-satunya bantalan yang dimiliki industri di tengah guncangan eksternal. Ekspor boleh melambat, tapi pasar domestik yang besar setidaknya menjaga industri tetap berputar.