Ketua Umum PP Fatayat NU Margaret Aliyatul Maimunah Wafat di Usia 47, Gus Yahya: Kehilangan Besar bagi Jam’iyah

- Margaret Aliyatul Maimunah, Ketua Umum PP Fatayat NU dan Ketua KPAI, wafat pada Ahad (1/3/2026) pukul 08.25 WIB di RS Fatmawati, Jakarta Selatan, dalam usia 47 tahun setelah menjalani perawatan sejak 16 Februari 2026.
- Salat jenazah digelar di Kantor PBNU, Jl. Kramat Raya 164, Jakarta Pusat, dipimpin KH Yahya Cholil Staquf yang menyebutnya sebagai kehilangan besar bagi Fatayat dan seluruh keluarga NU.
- Jenazah dimakamkan di Kompleks Pesantren Mamba'ul Ma'arif, Denanyar, Jombang, Jawa Timur, tempat asal keluarga besarnya dari jalur KH Bisri Syansuri, salah satu pendiri Nahdlatul Ulama.
, Jakarta – Kabar duka datang dari keluarga besar Nahdlatul Ulama pada Ahad pagi. Margaret Aliyatul Maimunah, Ketua Umum Pimpinan Pusat Fatayat NU sekaligus Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia, berpulang ke rahmatullah pada Ahad (1/3/2026) pukul 08.25 WIB di RS Fatmawati, Jakarta Selatan, dalam usia 47 tahun.
Kabar wafatnya disampaikan langsung oleh sang suami, KH Abdullah Masud, yang juga menjabat Ketua PCNU Tangerang Selatan. Sebelum meninggal, almarhumah menjalani perawatan di RS Fatmawati sejak 16 Februari 2026. Kehadirannya di Rapat Anggota Tahunan INKOP YASMIN Fatayat NU pada 15 Februari, sehari sebelum dirawat, menjadi salah satu momen terakhirnya tampil di forum resmi.
Jenazah kemudian dibawa ke Kantor PBNU di Jalan Kramat Raya 164, Jakarta Pusat, untuk disemayamkan dan disalatkan. Ratusan pelayat memadati gedung tersebut. Salat jenazah yang didahului salat zuhur berjamaah itu dipimpin langsung oleh Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf.
“Hari ini kita melepas sahabat Margaret Aliyatul Maimunah, kehilangan besar bagi Fatayat dan jam’iyah. Tapi insyaallah masih ada banyak Margaret-Margaret lain yang siap menyerahkan jiwa raganya bagi jam’iyah, bangsa, dan negara,” ujar KH Yahya Cholil Staquf dalam sambutannya usai menyalatkan jenazah.
Gus Yahya, sapaan akrabnya, juga menyampaikan penghargaan kepada keluarga almarhumah atas kesabaran mendampingi selama almarhumah mengabdikan diri.
“Semoga kesabaran dan ketabahan itu terus dikuatkan oleh Allah dalam sanubari keluarga yang ditinggalkan, juga di hati kita semua,” tambahnya.
Dari Kantor PBNU di Jakarta Pusat, jenazah kemudian diberangkatkan melalui jalur darat menuju kampung halamannya di Jombang, Jawa Timur, untuk dimakamkan di Kompleks Pemakaman Pesantren Mamba’ul Ma’arif, Denanyar, Jombang, tempat leluhurnya, KH Bisri Syansuri, juga bersemayam.
Margaret lahir 11 Mei 1979, putri dari KH Mohammad Faruq dan Hj Lilik Chodijah. Ia merupakan cicit KH Bisri Syansuri, ulama pendiri NU dan pendiri Pesantren Denanyar, Jombang. Akar pesantren yang kuat itu tidak membuatnya berhenti di lingkungan Jombang. Ia merantau ke Surabaya untuk menempuh S1 di IAIN Sunan Ampel, lalu melanjutkan S2 di Universitas Indonesia dengan fokus kajian perempuan. Karier organisasinya panjang dan ditempuh tahap demi tahap, dari Ketua IPPNU, Sekretaris Umum PP Fatayat NU, hingga akhirnya memimpin Fatayat NU di Kongres XVI di Palembang pada 2022.
KPAI merespons kepergiannya dengan penuh duka. Dalam pernyataan resmi di akun Instagram lembaga, KPAI menyebut Margaret sebagai sosok yang teguh, lembut, dan tak pernah berhenti berpihak pada perlindungan anak Indonesia.
Ada sesuatu yang terasa berat dari kepergian ini. Margaret bukan sosok yang tiba-tiba muncul di puncak jabatan karena nama keluarganya. Ia meniti setiap jenjang dengan sabar, dan justru itulah yang membuat kepergiannya terasa seperti kehilangan yang belum sempurna selesai.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: