Rupiah Anjlok ke Rp16.900 per Dolar AS pada Senin, Tertekan Sentimen Global dan Ketidakpastian Kebijakan The Fed

- Rupiah anjlok ke level Rp16.896-Rp16.901 per dolar AS pada perdagangan Jumat (15/1), diproyeksikan bergerak di kisaran Rp16.850-Rp16.950 pada Senin (19/1) akibat tekanan geopolitik, ketidakpastian kebijakan The Fed, dan peningkatan kebutuhan valuta asing domestik
- Pelemahan sejalan dengan mata uang regional: won Korea turun 2,46%, peso Filipina 1,04%, dipicu capital outflow di pasar obligasi dan indeks dolar yang bertahan di atas level 105 karena inflasi AS belum melandai
- BI siap intervensi triple (DNDF, spot, pembelian SBN) jika rupiah tembus Rp16.900, didukung cadangan devisa US$156,5 miliar dan inflow modal asing Rp11,11 triliun ke SRBI dan pasar saham pada Januari 2026
, Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali mengalami tekanan signifikan pada awal pekan ini. Mata uang garuda anjlok hingga menyentuh level Rp16.900-an pada perdagangan Senin (19/1/2026).
Analis pasar uang Lukman Leong memproyeksikan kurs rupiah terhadap dolar AS dalam perdagangan di pasar uang antarbank Senin ini bergerak di kisaran Rp16.850 – Rp16.950 per dolar AS. Proyeksi ini menunjukkan tekanan yang terus menghantui mata uang Garuda.
Pada perdagangan sebelumnya, Kamis (15/1/2026), rupiah di pasar spot merosot 0,18 persen atau Rp31 ke posisi Rp16.896 per dolar AS. Rupiah bahkan sempat menyentuh level terdalamnya di Rp16.901 per dolar AS pada pukul 14.53 WIB.
Kondisi serupa tercermin pada kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia. Pada akhir pekan lalu, Jisdor melemah 0,05 persen ke Rp16.880 per dolar AS.
Dalam kurun waktu sepekan, mata uang Garuda telah melemah sebesar 0,58 persen. Posisi ini jauh lebih rendah dibandingkan Kamis (8/1/2026) yang masih berada di level Rp16.798 per dolar AS.
Pelemahan rupiah dipicu oleh berbagai faktor eksternal yang mempengaruhi pasar keuangan global. Tekanan bersumber dari eskalasi tensi geopolitik, kekhawatiran terhadap independensi bank sentral di sejumlah negara maju, serta ketidakpastian arah kebijakan moneter The Fed.
“Tekanan tersebut bersumber dari eskalasi tensi geopolitik, kekhawatiran terhadap independensi bank sentral di sejumlah negara maju, serta ketidakpastian arah kebijakan moneter The Fed ke depan, di tengah kebutuhan valuta asing domestik yang meningkat pada awal tahun,” terang Deputi Gubernur Bank Indonesia Erwin Rijanto melalui keterangan tertulis.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menambahkan pelemahan kurs rupiah juga dipengaruhi sikap Presiden AS Donald Trump. Trump menyatakan tidak berencana memecat Ketua Federal Reserve Jerome Powell meskipun ada penyelidikan yang sedang berlangsung.
Pernyataan Trump ini meredakan kecemasan investor atas independensi kebijakan moneter AS. Namun, ketidakpastian arah kebijakan The Fed tetap menjadi faktor tekanan bagi mata uang regional termasuk rupiah.
Pelemahan rupiah masih sejalan dengan pergerakan nilai tukar regional yang juga terdampak sentimen global. Won Korea Selatan melemah sebesar 2,46 persen dan peso Filipina terdepresiasi 1,04 persen dalam periode yang sama.
Sebagian besar mata uang Asia juga melemah terhadap dolar AS pada pekan lalu. Won Korea mencatat pelemahan paling dalam yakni 0,34 persen, diikuti ringgit Malaysia 0,15 persen dan yen Jepang 0,13 persen.
Peso Filipina melemah 0,05 persen, dolar Hong Kong terkoreksi 0,04 persen, dan dolar Singapura turun 0,008 persen. Hanya tiga mata uang Asia yang justru menguat di tengah tekanan regional.
Indeks dolar yang mencerminkan nilai tukar dolar AS terhadap mata uang utama dunia menguat 0,10 persen menjadi 99,16. Penguatan ini turut memberikan tekanan tambahan pada mata uang negara berkembang termasuk rupiah.
Meskipun pasar saham domestik sedang bergairah dengan IHSG yang terus mencetak rekor, rupiah mengalami anomali dan tetap tertekan. Analis ekonomi mengidentifikasi beberapa faktor utama penyebab pelemahan.
Capital outflow di pasar obligasi menjadi salah satu penyebab utama. Berbeda dengan pasar saham, pasar obligasi (SBN) mencatat aksi jual oleh investor asing yang mencari yield lebih tinggi di instrumen keuangan Amerika Serikat.
Kekuatan indeks dolar (DXY) yang bertahan kokoh di atas level 105 turut memperparah kondisi. Hal ini dipicu oleh data inflasi AS yang belum melandai sesuai target, memicu spekulasi bahwa The Fed akan menunda pemangkasan suku bunga lebih lanjut.
Permintaan korporasi terhadap dolar juga meningkat di awal tahun. Adanya siklus pembayaran dividen dan pelunasan utang luar negeri oleh sejumlah korporasi besar meningkatkan permintaan terhadap dolar AS di pasar domestik.
Bank Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus melakukan upaya stabilisasi nilai tukar rupiah. Berbagai langkah stabilisasi dilakukan melalui intervensi di pasar valuta asing baik domestik maupun offshore.
BI melakukan intervensi di antaranya melalui transaksi non-delivery forward (NDF) di pasar offshore di kawasan Asia, Eropa, dan Amerika. Di pasar domestik, intervensi dilakukan melalui transaksi spot dan domestic non-delivery forward (DNDF).
Jika rupiah terus menembus level resisten Rp16.900, BI diprediksi akan melakukan intervensi triple intervention. Intervensi ini mencakup pasar DNDF, pasar spot, dan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
Di sisi lain, otoritas moneter mencatat berlanjutnya aliran masuk modal asing. Inflow terutama ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan pasar saham secara neto mencapai Rp11,11 triliun pada Januari 2026.
Aliran masuk modal asing ini mendukung terkendalinya stabilitas rupiah. Hal ini sejalan dengan persepsi investor global terhadap Indonesia yang tetap positif, berdasarkan premi risiko CDS Indonesia tenor 5 tahun yang berada pada level rendah sekitar 72 bps.
Ketahanan eksternal turut tercermin pada posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Desember 2025. Cadangan devisa tercatat sebesar US$156,5 miliar, setara dengan 6,4 bulan impor dan dinilai memadai sebagai buffer dalam menghadapi tekanan pasar keuangan global.
“Bank Indonesia akan terus berada di pasar untuk memastikan nilai tukar rupiah bergerak sesuai dengan nilai fundamental dan mekanisme pasar yang sehat,” terang Erwin.
BI juga akan terus mengoptimalkan instrumen operasi moneter pro-market. Langkah ini guna memperkuat efektivitas transmisi kebijakan moneter dan menjaga kecukupan likuiditas untuk mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
Pasar valuta asing mencatat volatilitas yang rendah pada Januari tahun ini di tengah banyaknya ketidakpastian. Bloomberg melaporkan, rata-rata 10 hari perdagangan pertama bulan Januari terjadi volatilitas terendah untuk pasangan mata uang GBP/USD dan EUR/CHF.
Menjelang pertemuan kebijakan pertama bank sentral tahun ini pada 20–21 Januari, stabilitas valas kemungkinan akan menjadi fokus utama. Ekspektasi pelonggaran moneter lebih lanjut turut memberikan tekanan pada rupiah yang bergerak mendekati rekor terendahnya.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: