Sekjen PBB Antonio Guterres Peringatkan Nilai-Nilai Multilateralisme Semakin Tergerus

- Sekjen PBB Antonio Guterres memperingatkan nilai-nilai multilateralisme semakin tergerus dan menekankan perlunya sistem yang kuat untuk menghadapi tantangan global yang saling terkait.
- Guterres menyoroti konflik brutal di Gaza, Ukraina, dan Sudan, serta dampak pandemi COVID-19 yang memperkuat nasionalisme dan menghambat pembangunan serta aksi iklim.
- Guterres bertemu PM Inggris Keir Starmer untuk membahas reformasi ambisius PBB agar mampu menjawab tantangan modern di tengah pergeseran pusat kekuatan global.
, LONDON – Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres, Sabtu (17/1), menegaskan perlunya sistem yang kuat untuk menghadapi tantangan global yang saling terkait. Dia memperingatkan bahwa nilai-nilai multilateralisme semakin terkikis.
Berbicara di Methodist Central Hall, London, tempat Sidang Umum PBB pertama digelar pada 10 Januari 1946, Guterres mendorong para delegasi untuk berani melakukan perubahan.
“Berani menemukan kembali keberanian mereka yang datang ke gedung ini 80 tahun lalu untuk membangun dunia yang lebih baik,” ujar Guterres dalam acara peringatan yang diselenggarakan United Nations Association-UK dan dihadiri lebih dari 1.000 delegasi dari berbagai negara.
Dia menyinggung makna simbolis lokasi tersebut, seraya mengingatkan bahwa Sidang Umum PBB pertama berlangsung di gedung yang sama, empat bulan setelah berakhirnya Perang Dunia II, sebagai pengingat kuat alasan dibentuknya PBB.
“Untuk mencapai gedung ini, para delegasi harus melewati kota yang terluka akibat perang. Saat bom-bom berjatuhan, warga sipil yang ketakutan berlindung di ruang bawah tanah Methodist Central Hall, salah satu tempat perlindungan serangan udara terbesar di London,” katanya.
Guterres mengakui bahwa kerja Sidang Umum PBB tidak selalu berjalan mudah atau mulus. Namun, menurutnya, lembaga itu merupakan cermin dunia, dengan segala perpecahan dan harapannya, sekaligus panggung bagi kisah bersama umat manusia.
Menilik satu dekade terakhir, Guterres menyebut konflik di Gaza, Ukraina, dan Sudan berlangsung sangat brutal.
Dia juga menyoroti kecerdasan buatan yang menyebar luas dalam waktu singkat, serta pandemi virus corona yang memperkuat nasionalisme dan menghambat kemajuan pembangunan serta aksi iklim.
Dia menilai 2025 sebagai tahun yang sangat menantang bagi kerja sama internasional dan nilai-nilai PBB.
Menurut Guterres, dunia membutuhkan sistem multilateralisme yang kuat, responsif, dan didukung sumber daya memadai untuk menghadapi tantangan global yang saling terkait.
Namun, dia memperingatkan bahwa nilai-nilai multilateralisme saat ini terus terkikis.
“Seiring pergeseran pusat kekuatan global, kita memiliki peluang untuk membangun masa depan yang lebih adil atau justru lebih tidak stabil,” tambahnya.
Guterres tiba di London pada Jumat dan bertemu Perdana Menteri Inggris Keir Starmer untuk membahas agenda reformasi ambisius PBB.
Keduanya sepakat bahwa reformasi tersebut penting agar PBB mampu menjawab tantangan modern di tengah situasi global yang semakin bergejolak.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: