Trump Ngotot Kuasai Greenland, Eropa Gelar Rapat Darurat dan Kirim Militer

- Trump tetap ngotot ingin menguasai Greenland dengan alasan geopolitik mencegah Rusia dan China, memicu Prancis gelar rapat darurat dan kirim 15 personel militer untuk latihan gabungan dengan Denmark
- Eropa menunjukkan solidaritas dengan Greenland melalui pengiriman pasukan dari Prancis (15), Jerman (13), Norwegia, dan Swedia untuk latihan militer bersama sebagai sinyal politik menolak klaim AS
- Trump tunda rencana serang Iran setelah dapat laporan penindakan demonstran berhenti, meski kelompok HAM catat ribuan tewas dan ditangkap, situasi mereda karena ketakutan bukan perbaikan kondisi
, Jakarta – Ambisi Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mengakuisisi Greenland kini menarik perhatian dunia. Situasi ini bertambah rumit dengan kondisi Iran yang masih diwarnai penindakan keras terhadap aksi demonstrasi.
Presiden Prancis Emmanuel Macron merespons dengan menggelar rapat darurat kabinet pertahanan di Paris pada Kamis (15/1/2026). Langkah ini menandai meningkatnya kekhawatiran negara-negara Eropa terhadap stabilitas keamanan global.
Rapat darurat dilakukan setelah perundingan antara Amerika Serikat, Denmark, dan Greenland tidak menghasilkan kesepakatan. Macron mengambil sikap tegas menyatakan solidaritas Eropa dalam menghadapi tekanan geopolitik.
Isu Greenland mencuat setelah Trump secara terbuka menyatakan Amerika Serikat membutuhkan wilayah tersebut. Greenland merupakan wilayah otonom milik Denmark yang kaya sumber daya alam dan memiliki posisi strategis di Arktik.
Pernyataan Trump memicu reaksi keras dari Denmark dan Greenland. Kedua pihak menegaskan tidak ingin berada di bawah kendali Amerika Serikat dalam kondisi apa pun.
Macron langsung menggelar rapat darurat pertahanan untuk membahas perkembangan situasi ini. Dalam pernyataan di media sosial X, ia mengumumkan pengiriman personel militer ke Greenland.
“Atas permintaan Denmark, Prancis memutuskan ikut dalam latihan militer bersama di Greenland. Elemen militer pertama sudah dalam perjalanan, dan akan disusul lainnya,” ujar Macron.
Pasukan Prancis yang dikirim berjumlah sekitar 15 personel dengan sebagian besar merupakan spesialis medan ekstrem. Mereka akan mengikuti latihan gabungan bersama Denmark dan otoritas setempat.
Jerman juga mengirim 13 personel untuk bergabung dalam latihan militer tersebut. Sementara itu, Norwegia dan Swedia turut berpartisipasi dalam misi ini.
Langkah negara-negara Eropa ini dipandang sebagai sinyal politik yang kuat. Eropa menunjukkan persatuan dalam mendukung Denmark dan Greenland menghadapi tekanan dari Amerika Serikat.
Namun, pertemuan tingkat tinggi di Washington justru mempertegas perbedaan pandangan. Menteri Luar Negeri Denmark Lars Løkke Rasmussen mengakui tidak ada perubahan sikap dari pihak Amerika Serikat.
“Kami tidak berhasil mengubah posisi Amerika. Presiden Trump masih memiliki keinginan untuk menguasai Greenland,” katanya, sebagaimana dilansir dari Al Jazeera.
Trump kembali menegaskan sikapnya dengan mendasarkan pada alasan geopolitik. Ia menilai penguasaan Greenland penting untuk mencegah masuknya kekuatan saingan Amerika Serikat.
“Kami benar-benar membutuhkan Greenland. Jika kami tidak masuk, Rusia dan China akan masuk,” ujar Trump.
Di tengah ketegangan Greenland, perhatian dunia juga tertuju pada Iran. Dalam beberapa hari terakhir, kekhawatiran akan serangan militer AS ke Teheran sempat meningkat tajam.
Namun Trump menyatakan rencana serangan ditahan setelah mendapat laporan bahwa kekerasan terhadap demonstran di Iran telah berhenti. Keputusan ini sedikit meredakan ketegangan di kawasan Timur Tengah.
The Guardian melaporkan, Trump menyebut pihaknya menerima informasi bahwa penindakan terhadap demonstran di Iran telah berhenti. Meski demikian, laporan berbagai kelompok hak asasi manusia menyebut ribuan orang tewas dan ditangkap selama gelombang penindakan.
Meredanya aksi protes lebih disebabkan oleh ketakutan warga, bukan karena situasi benar-benar membaik. Kondisi di Iran masih tetap tegang meski intensitas demonstrasi berkurang.
Iran juga berupaya meredakan tekanan internasional melalui diplomasi publik. Menteri Luar Negeri Iran bahkan muncul di media AS untuk menegaskan tidak ada eksekusi massal dalam waktu dekat.
Namun, analis menilai langkah tersebut bersifat taktis dan sementara. Rezim Iran dianggap hanya mengulur waktu untuk meredakan kritik internasional tanpa perubahan fundamental.
Dalam pidato terpisah kepada militer Prancis, Macron menggambarkan kondisi global saat ini sebagai fase dunia yang brutal dan tidak stabil. Ia menyinggung munculnya kekuatan-kekuatan destabilisasi yang sebelumnya tidak diperkirakan Eropa.
Meski tidak menyebut nama, pernyataannya jelas merujuk pada dinamika kebijakan luar negeri AS di bawah Trump. Presiden Prancis menekankan Eropa harus siap menghadapi situasi di mana ketegangan bisa muncul dari berbagai arah.
Menurut Macron, Eropa bahkan harus bersiap menghadapi ketegangan yang bisa muncul dari sekutu tradisional. Pernyataan ini mengindikasikan kekhawatiran mendalam terhadap arah kebijakan Amerika Serikat.
Situasi Greenland dan Iran menunjukkan kompleksitas geopolitik global yang semakin tinggi. Ketegangan di dua kawasan berbeda ini berpotensi mengubah keseimbangan kekuatan internasional secara signifikan.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: