Negara Ini Kekurangan Pria Hingga Perempuan Ramai-ramai Sewa “Husband for an Hour”

- Latvia alami ketimpangan gender ekstrem dengan 80.000 perempuan lebih banyak dari laki-laki, selisih 15,5% atau tiga kali lipat rata-rata Uni Eropa, ketimpangan paling terasa di kelompok usia lanjut dengan rasio hampir 2:1.
- Penyebab: migrasi pria ke Eropa Barat, disparitas kesehatan, dan populasi menua, harapan hidup pria 68 tahun vs perempuan 78 tahun akibat konsumsi alkohol, rokok, kecelakaan, dan bunuh diri yang tinggi.
- Muncul fenomena "sewa suami per jam" sebagai adaptasi sosial, platform seperti Komanda24 sediakan jasa pria untuk pekerjaan rumah tangga, diterima luas sebagai solusi praktis menghadapi realitas demografis yang tidak seimbang.
, JAKARTA – Informasi terkini mengungkapkan bahwa Latvia sedang berhadapan dengan situasi ketimpangan gender yang sangat mencolok. Negara di Eropa Timur tersebut mencatat jumlah penduduk perempuan sekitar 80.000 orang lebih banyak dibandingkan populasi laki-laki.
Selama beberapa dekade terakhir, ketidakseimbangan ini semakin memburuk akibat berbagai faktor yang saling berkaitan. Tingginya angka migrasi kaum pria, disparitas kesehatan yang signifikan, serta meningkatnya populasi kelompok usia lanjut turut memperparah kondisi.
Ketimpangan demografis ini paling terasa di wilayah-wilayah perkotaan dan komunitas kelompok usia tua, di mana jumlah perempuan hampir mencapai dua kali lipat dibandingkan laki-laki.
Berdasarkan data Eurostat, Latvia memiliki sekitar 15,5 persen lebih banyak perempuan daripada laki-laki, angka yang tiga kali lipat lebih tinggi dari rata-rata negara-negara Uni Eropa lainnya.
Para peneliti menilai kesenjangan tersebut memberikan dampak pada berbagai aspek kehidupan, mulai dari pola pembentukan keluarga, tingkat pernikahan, hingga stabilitas populasi dalam jangka panjang.
Minimnya jumlah pria menciptakan kompetisi yang semakin ketat bagi perempuan untuk menemukan pasangan hidup. Banyak wanita Latvia terpaksa mencari pasangan ke luar negeri atau memilih tetap lajang karena keterbatasan pilihan.
Sementara itu, migrasi ekonomi ke kawasan Eropa Barat terus mengikis jumlah pria usia produktif di Latvia. Banyak laki-laki muda yang memilih bekerja di negara-negara seperti Jerman, Inggris, atau negara-negara Skandinavia demi mendapatkan penghasilan yang lebih baik.
Pemerintah Latvia mengakui bahwa ketidakseimbangan demografis yang berkepanjangan dapat mengganggu partisipasi angkatan kerja dan menekan angka kelahiran di negara tersebut.
Saat ini, para pembuat kebijakan sedang menyusun langkah untuk menarik kembali pekerja migran yang telah berpindah, serta menjaga stabilitas demografis jangka panjang negara.
Sebagai bentuk adaptasi terhadap kondisi ini, muncul fenomena unik di Latvia berupa layanan “husband for an hour” atau sewa suami per jam. Layanan ini bukan untuk keperluan romantis, melainkan menyewa pria untuk mengerjakan berbagai pekerjaan rumah tangga seperti memperbaiki keran, mengganti lampu, atau pekerjaan teknis lainnya.
Platform seperti Komanda24 menyediakan jasa tersebut dengan tarif per jam layaknya teknisi profesional. Fenomena ini diterima secara luas oleh masyarakat Latvia sebagai solusi praktis menghadapi realitas demografis yang tidak seimbang.
Faktor kesehatan juga menjadi penyebab utama ketimpangan gender di Latvia. Tingkat konsumsi alkohol dan rokok yang tinggi di kalangan pria berkontribusi pada angka harapan hidup yang jauh lebih rendah dibandingkan perempuan.
Data menunjukkan harapan hidup pria Latvia hanya sekitar 68 tahun, sementara perempuan mencapai 78 tahun atau 10 tahun lebih panjang. Tingginya angka kecelakaan, bunuh diri, serta penyakit jantung dan kanker pada pria juga memperburuk kesenjangan ini.
Kondisi Latvia menjadi refleksi menarik tentang bagaimana perubahan demografis dapat membentuk budaya dan layanan baru dalam masyarakat modern.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: