Jemaah Haji Asal Brebes Kembali Wafat di Tanah Suci Menjelang Puncak Haji

- Jemaah haji asal Brebes kembali wafat di Tanah Suci, setelah sebelumnya Akhmad Nurokhman bin Zaeni (65) meninggal di Madinah pada 6 Mei 2026 akibat gangguan jantung dan kini dimakamkan di Baqi.
- Kondisi cuaca Arab Saudi yang mencapai 44 derajat Celsius dan padatnya aktivitas ibadah menjadi faktor utama yang memperburuk kesehatan jemaah, terutama yang memiliki riwayat penyakit bawaan.
- Pemerintah menjamin badal haji gratis dan asuransi jiwa bagi jemaah yang wafat sebelum sempat melaksanakan wukuf di Arafah.
, Makkah – Kabar duka kembali datang dari rombongan jemaah haji asal Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Seorang jemaah dilaporkan meninggal dunia di Tanah Suci, menjadikannya korban kedua dari daerah itu yang wafat selama musim haji 1447 H/2026 M.
Anggota Tim Pemandu Haji Daerah (TPHD) Kabupaten Brebes, Azmi Asmuni Majid, membenarkan kabar tersebut dari Arab Saudi. Petugas langsung berkoordinasi dengan Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) kloter untuk menangani proses administrasi dan mendampingi anggota rombongan lainnya.
Sebelumnya, seorang jemaah dari Kloter 8 (SOC 08) bernama Akhmad Nurokhman bin Zaeni, 65 tahun, warga Desa Keboledan, Kecamatan Wanasari, juga telah wafat. Almarhum meninggal di Saudi German Hospital Madinah pada 6 Mei 2026 sekitar pukul 08.00 waktu Arab Saudi, setelah sempat menjalani perawatan intensif akibat gangguan jantung.
“Jenazah rencananya disalatkan di Masjid Nabawi dan dimakamkan di kawasan Pemakaman Baqi, Madinah,” kata Azmi saat menyampaikan kabar wafatnya jemaah pertama.
Kematian beruntun ini terjadi di tengah kondisi cuaca Arab Saudi yang tengah berada di puncak panasnya. Suhu di Makkah dan Madinah tercatat mencapai 38 hingga 44 derajat Celsius, membuat jemaah dengan riwayat penyakit bawaan rentan mengalami komplikasi serius.
Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) mencatat penyebab kematian terbanyak jemaah Indonesia di Tanah Suci adalah penyumbatan pembuluh darah menuju jantung dan radang paru-paru. Kelelahan fisik akibat perjalanan jauh dan padatnya rangkaian ibadah menjadi faktor yang memperburuk kondisi mereka.
“Penyebab wafat yang paling banyak adalah penyumbatan pembuluh darah ke jantung serta radang paru-paru,” ujar Juru Bicara Kemenhaj Ichsan Marsha.
Situasi kesehatan jemaah Brebes di lapangan sebelumnya juga sudah mengkhawatirkan. Petugas melaporkan ada jemaah yang terpaksa menjalani perawatan di hotel tempat mereka menginap di Makkah, sementara satu orang lainnya dirujuk ke Klinik King Abdul Aziz karena hipertensi. TPHD merespons kondisi ini dengan memperketat pemantauan, termasuk pemeriksaan rutin, edukasi soal asupan cairan, dan imbauan agar jemaah tidak memaksakan diri keluar di tengah terik yang menyengat.
Menjelang puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina yang dijadwalkan mulai 25 Mei 2026, tekanan fisik pada jemaah diprediksi akan meningkat. Fase Armuzna dikenal sebagai tahap paling menguras tenaga dalam seluruh rangkaian ibadah haji.
Azmi mengimbau jemaah segera melapor kepada petugas kesehatan bila merasakan keluhan apapun, sekecil apapun. Persoalan yang dianggap sepele di kondisi normal bisa dengan cepat memburuk di tengah suhu ekstrem dan kepadatan jutaan orang.
Bagi jemaah yang wafat sebelum sempat melaksanakan wukuf, pemerintah memastikan hak mereka tetap terpenuhi. Keluarga akan mendapatkan badal haji yang dijalankan oleh petugas tanpa biaya tambahan, serta asuransi jiwa senilai biaya perjalanan ibadah haji yang telah dibayarkan.
Tahun ini, total jemaah Indonesia yang diberangkatkan ke Tanah Suci melampaui 103 ribu orang. Di balik kelancaran arus pemberangkatan, duka terus mewarnai perjalanan ibadah yang bagi sebagian jemaah ternyata menjadi perjalanan terakhir mereka.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: