Di Hadapan Kader GMPK, Asisten Khusus Presiden Bedah Karakter Pemimpin Problem Solver dan Visi Aksi Prabowo

- Asisten Khusus Presiden Dirgayuza Setiawan menegaskan Presiden Prabowo adalah tipe pemimpin problem solver yang fokus pada eksekusi solusi nyata, bukan sekadar membahas masalah.
- Pemerintah tengah mengakselerasi peta jalan kedaulatan nasional melalui swasembada pangan, diversifikasi energi terbarukan, peningkatan SDM lewat program seperti Makan Bergizi Gratis, serta hilirisasi komoditas dan penguatan ekonomi desa.
- Dirgayuza memotivasi kader GMPK dengan kisah kegigihan Prabowo yang berkali-kali kalah pilpres sebelum akhirnya terpilih, menekankan bahwa ketahanan mental (resilience) adalah kunci kepemimpinan sejati.
, BOGOR – Rangkaian hari keempat Diklat Pratama Se-Indonesia Angkatan I yang diselenggarakan oleh Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Gerakan Mahasiswa Pelajar Kebangsaan (GMPK) di Bogor, Jawa Barat, Rabu (1/7/2026), kembali menghadirkan pemaparan substantif dari lingkar dalam istana.
Kali ini, Asisten Khusus Presiden Republik Indonesia, Dirgayuza Setiawan, hadir untuk membedah arah kebijakan strategis nasional sekaligus anatomi kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.
Di hadapan ratusan kader pelajar dan mahasiswa dari berbagai daerah, Dirgayuza menguraikan transformasi program taktis pemerintah yang bertumpu pada kedaulatan domestik, serta menitipkan sebuah pesan motivasi mengenai pentingnya daya tahan (resilience) seorang calon pemimpin.
Paradigma Pemimpin Pengurai Masalah
Dirgayuza membuka pemaparannya dengan mendefinisikan ulang esensi kepemimpinan tertinggi di Indonesia saat ini. Ia menegaskan bahwa dalam ekosistem pemerintahan modern, seorang kepala negara tidak boleh sekadar terjebak pada tataran diskursus atau perdebatan teoritis mengenai sebuah persoalan.
“Presiden adalah seorang problem solver. Artinya, beliau adalah tipe pemimpin yang fokus mencari solusi nyata dan mengesekusi kebijakan tepat sasaran terhadap berbagai persoalan bangsa, bukan hanya sekadar membahas atau meratapi masalah yang ada,” ujar Dirgayuza.
Ia menjelaskan, paradigma problem solver inilah yang mendasari lahirnya berbagai kebijakan akseleratif pemerintah saat ini. Kebijakan tersebut mencakup pembenahan dari sektor hulu kedaulatan fisik hingga investasi hilir pada kualitas manusia.
Peta Jalan Kedaulatan
Dalam paparan narasinya, Dirgayuza membedah agenda prioritas yang kini tengah dikebut oleh pemerintah untuk mewujudkan kemandirian nasional secara menyeluruh. Langkah ini diawali dari komitmen kuat di sektor pangan, di mana pemerintah secara masif terus meningkatkan eskalasi produksi pertanian, perikanan, hingga peternakan.
Target utamanya adalah memotong rantai ketergantungan terhadap komoditas impor secara bertahap demi mencapai swasembada pangan yang kokoh.
Sejalan dengan kedaulatan pangan, kemandirian di sektor energi menurutnya juga ditempatkan sebagai prioritas nasional yang tidak kalah krusial. Pemerintah mulai menggeser fokus kebijakan pada penguatan diversifikasi energi melalui pemanfaatan energi terbarukan, pengembangan biodiesel dan bioetanol secara masif, serta percepatan konversi ke energi listrik.
Langkah taktis ini diambil guna menekan angka impor Bahan Bakar Minyak (BBM) yang selama ini membebani ruang fiskal negara.

Namun, Dirgayuza mengingatkan bahwa kemandirian fisik tersebut harus ditopang oleh fondasi sumber daya manusia (SDM) yang unggul melalui peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan.
“Di sinilah program kemanusiaan seperti Makan Bergizi Gratis bagi anak sekolah memegang peran penting, yang kemudian diimbangi dengan revitalisasi fisik bangunan sekolah, penyediaan layanan pemeriksaan kesehatan gratis secara berkala, hingga program penuntasan penyakit menular Tuberkulosis,” terangnya.
Pada sektor hilir, lanjut dia, transformasi ekonomi diakselerasi tidak lagi dengan bertumpu pada konsumsi semata, melainkan melalui hilirisasi komoditas, industrialisasi, dan penguatan ekonomi berbasis desa.
Strategi makro ini dirancang untuk menciptakan lapangan kerja baru seluas-luasnya, meningkatkan nilai tambah domestik secara berlipat, sekaligus mengikis angka kemiskinan langsung di akar rumput.
“Jangan pernah menyerah sebelum berhasil. Bayangkan jika Presiden Prabowo Subianto menyerah setelah beberapa kali mengalami kekalahan dalam pemilihan presiden sebelumnya, tentu beliau tidak akan menjadi Presiden Indonesia saat ini. Kegigihan dan konsistensi itulah yang akhirnya mengantarkan beliau meraih kepercayaan penuh dari rakyat untuk memimpin bangsa ini,” ungkapnya.
Laboratorium Ketahanan Pemuda
Berkaca pada rekam jejak perjuangan panjang Presiden Prabowo, Dirgayuza mengingatkan para kader GMPK bahwa kegagalan di tengah jalan adalah hal yang lumrah dalam proses pembentukan mentalitas pemimpin. Keberhasilan, menurutnya, hanya disediakan bagi mereka yang menolak untuk berhenti berjuang.
Pesan ini dirasa sangat relevan bagi para peserta diklat yang merupakan elite muda daerah. Mereka dituntut tidak hanya menguasai teori organisasi, tetapi juga memiliki ketahanan mental ketika menghadapi realitas sosial yang rumit di lapangan kelak.
Hadirnya Asisten Khusus Presiden di hari keempat ini pada Diklat Pratama Angkatan I GMPK di Bogor berhasil memberikan perspektif tangan pertama (first-hand perspective) mengenai bagaimana sebuah visi kepemimpinan diterjemahkan menjadi rencana aksi nasional di meja kerja kepresidenan. Forum ditutup dengan sesi diskusi interaktif yang membedah teknis implementasi program ekonomi desa dan hilirisasi.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: