Bicara di Diklat GMPK, Angga Raka Prabowo Beberkan Sisi Gelap Algoritma Medsos

- Algoritma media sosial cenderung memperkuat konten emosi negatif, sehingga literasi media dan etika pemilihan judul berita menjadi krusial untuk mencegah polarisasi dan konflik sosial.
- Bangsa yang terpecah secara internal akan lemah dalam mempertahankan kekayaan alamnya dari eksploitasi pihak luar atau oligarki.
- Kader GMPK didorong menjadi garda terdepan penyebar konten positif dan agen literasi digital di daerah masing-masing.
, BOGOR – Lanskap digital yang kian dinamis tidak hanya membawa kemudahan, tetapi juga tantangan besar berupa kerentanan polarisasi sosial akibat perang persepsi. Diperlukan kedewasaan berpikir kritis dan nasionalisme yang kokoh agar publik tidak mudah terjebak dalam pusaran hoaks yang sengaja diproduksi untuk memecah belah bangsa.
Pesan strategis tersebut disampaikan oleh Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamen Komdigi), Angga Raka Prabowo, dalam Diklat Pratama Se-Indonesia Angkatan I yang diselenggarakan oleh DPP Gerakan Mahasiswa Pelajar Kebangsaan (GMPK) di Bogor, Jawa Barat.
Di hadapan ratusan kader muda, Angga mengawali pemaparannya dengan membagikan refleksi personal mengenai keterlibatan anak muda di ruang publik.
Ia mengisahkan perjalanannya yang telah bergabung dengan Partai Gerindra sejak usia belum genap 19 tahun, merangkak dari bawah, hingga kini dipercaya mengemban amanat sebagai wakil menteri pada usia 30 tahun.
“Bapak Prabowo Subianto selalu memberikan ruang dan kesempatan yang luas bagi generasi muda untuk berkembang, berproses, serta berkontribusi nyata dalam membangun bangsa,” ujar Angga.
Algoritma Medsos dan Tanggung Jawab Jurnalistik
Memasuki substansi materi digital, Angga menyoroti sisi gelap ekosistem digital hari ini yang dikendalikan oleh algoritma. Ia mengungkapkan, sistem algoritma media sosial saat ini cenderung memberikan panggung dan perhatian lebih kepada konten-konten yang memancing emosi negatif publik, ketimbang menonjolkan kebenaran substantif.
Kondisi ini diperparah oleh pengaruh produk jurnalistik di meja redaksi yang sangat menentukan persepsi publik. Angga mengingatkan bahwa pemilihan judul berita memiliki dampak sosial yang masif di masyarakat.
“Pemilihan judul berita yang tepat dan beretika dapat menjaga ketenangan serta persatuan bangsa. Sebaliknya, judul yang provokatif berpotensi menjadi sumbu pemicu munculnya konflik dan kekacauan sosial,” tegas Wamen Komdigi itu.
Tata kelola media dan pembentukan persepsi publik, karena itu, harus dilakukan secara bijaksana. Masyarakat pun diimbau untuk mempertebal literasi media agar memiliki kemampuan memilah serta memverifikasi informasi guna membentengi diri dari provokasi dan disinformasi.
“Apabila Indonesia terus terpecah karena konflik internal, kondisi tersebut justru dapat menguntungkan pihak luar, oligarki, atau kelompok tertentu yang ingin mengeruk kekayaan alam kita demi keuntungan pribadi,” ujarnya.
Ketahanan Sumber Daya Alam
Lebih lanjut, Angga menegaskan bahwa setiap kebijakan yang disusun oleh Presiden Prabowo selalu berlandaskan pada Pancasila dan UUD 1945, terutama Pasal 33 yang memandatkan bahwa seluruh sumber daya alam harus dikelola demi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
Ia mengingatkan, sejarah mencatat kemerdekaan Indonesia diraih karena persatuan dan cinta tanah air, bukan karena saling menjatuhkan antar-kelompok. Ketika sebuah bangsa gaduh dan terpecah secara internal, pertahanan terhadap kekayaan alam akan melemah.
Melalui pembekalan ini, para kader GMPK diharapkan mampu menjadi garda terdepan dalam menyebarkan konten positif yang merajut persatuan, sekaligus menjadi agen literasi digital yang menjembatani edukasi publik di daerah masing-masing.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: