Potensi Perbedaan Awal Ramadhan 2026, Jatuh 18 atau 19 Februari
- Awal Ramadhan 1447 Hijriah berpotensi berbeda antara 18 atau 19 Februari 2026 tergantung kriteria hilal yang digunakan, MABIMS atau Turki
- BMKG mencatat ketinggian hilal 17 Februari masih negatif di seluruh Indonesia, sedangkan 18 Februari sudah mencapai 7,62-10,03 derajat dengan elongasi 10,7-12,21 derajat
- Muhammadiyah telah menetapkan 1 Ramadhan jatuh 18 Februari menggunakan metode hisab, sedangkan pemerintah dan NU menunggu hasil rukyat dengan kriteria MABIMS untuk sidang isbat
, Jakarta – Awal Ramadhan 1447 Hijriah atau Puasa 2026 berpotensi berbeda penentuan tanggalnya. Perbedaan kriteria hilal membuat ada dua kemungkinan, 18 Februari atau 19 Februari.
Peneliti Pusat Riset Antariksa BRIN Thomas Djamaluddin menyebut posisi hilal saat waktu maghrib 17 Februari belum memenuhi kriteria MABIMS yang digunakan pemerintah. Ketinggian hilal belum mencapai minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat.
“Fakta Astronomi pada saat maghrib 17 Februari 2026 di wilayah Asia Tenggara, posisi hilal belum memenuhi kriteria MABIMS,” kata Thomas dalam video di kanal Youtube-nya, Sabtu (20/12).
Kriteria MABIMS dipakai pemerintah dan sebagian besar ormas Islam untuk menentukan awal bulan hijriah. Dengan kriteria itu, 1 Ramadhan 1447 jatuh pada 19 Februari 2026.
Namun ada ormas Islam yang menggunakan kriteria Turki. Kriteria ini mensyaratkan tinggi minimal 5 derajat dan elongasi 8 derajat.
Di wilayah Amerika, khususnya Alaska, posisi hilal sudah memenuhi kriteria Turki pada saat tersebut. Sehingga 1 Ramadhan 1447 Hijriah jatuh 18 Februari 2026.
“Jadi, ada potensi perbedaan Awal Ramadan, ada yang 19 Februari, dan ada yang 18 Februari,” jelasnya.
BMKG dalam laman resminya mengungkap kondisi hilal di Indonesia. Ketinggian hilal saat Matahari terbenam 17 Februari 2026 berkisar antara minus 2,41 derajat di Jayapura sampai minus 0,93 derajat di Tua Pejat, Sumatera Barat.
Sementara ketinggian hilal pada 18 Februari 2026 berkisar antara 7,62 derajat di Merauke sampai 10,03 derajat di Sabang.
Elongasi hilal pada 17 Februari 2026 berkisar antara 0,94 derajat di Banda Aceh sampai 1,89 derajat di Jayapura. Sedangkan pada 18 Februari berkisar antara 10,7 derajat di Jayapura sampai 12,21 derajat di Banda Aceh.
Penentu awal bulan hijriah versi Kementerian Agama dan Nahdlatul Ulama memakai kriteria MABIMS. Patokan utamanya adalah hilal punya ketinggian 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat.
Di bawah angka tersebut, belum dianggap masuk bulan hijriah baru.
Pengukuran kondisi hilal bisa dilakukan jauh-jauh hari berdasarkan hitungan astronomi. Namun Kemenag memverifikasinya lewat pengamatan lapangan sehari sebelumnya dan mengesahkan dalam sidang isbat.
Muhammadiyah telah menetapkan 1 Ramadhan 1447 Hijriah jatuh pada 18 Februari 2026. Organisasi ini menggunakan metode hisab hakiki wujudul hilal.
Perbedaan metode antara Muhammadiyah dan pemerintah merupakan hal wajar setiap tahun. Pemerintah bersama Nahdlatul Ulama lebih mengedepankan metode rukyat atau pengamatan hilal langsung.
Karena itu, tanggal awal Ramadhan versi pemerintah bisa sama atau berbeda dengan hasil hisab Muhammadiyah.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: