Harlah ke-100 NU, Gus Yahya Ungkap Kesamaan Visi dengan Pendiri Bangsa

- Gus Yahya menegaskan visi NU sejalan dengan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, keduanya berjuang membangun peradaban mulia bagi seluruh umat manusia sebagaimana tercermin dalam tema Harlah ke-100
- Ketum PBNU mengutip Pembukaan UUD 1945 bahwa Indonesia didirikan untuk kemaslahatan segala bangsa, bukan hanya kelompok atau suku tertentu, dengan menghapus penjajahan demi perikemanusiaan dan perikeadilan
- Harlah ke-100 NU dihadiri perwakilan 38 PWNU dan 548 PCNU seluruh Indonesia, dengan undangan juga diberikan kepada Presiden Prabowo, menteri Kabinet Merah Putih, dan duta besar berbagai negara
, Jakarta – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Yahya Cholil Staquf menegaskan keselarasan visi organisasi dengan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Pernyataan itu disampaikan saat peringatan Harlah ke-100 NU di Istora Senayan, Jakarta, Sabtu (31/1/2026).
Gus Yahya menjelaskan tema Harlah tahun ini, “Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Mulia”, telah ditetapkan sejak rapat gabungan PBNU pada Agustus 2025.
“Kenapa mengawal Indonesia merdeka? Karena visi dan idealisme Nahdlatul Ulama sama dan sebangun dengan visi dan idealisme Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia,” katanya.
Dia menekankan bahwa NU dan Indonesia sama-sama berjuang membangun peradaban yang lebih mulia bagi seluruh umat manusia.
Gus Yahya menyoroti hubungan erat NU dengan Indonesia menggunakan metafora religius. NU disebut sebagai misbah yang ingin menyinari sekitar, sementara Indonesia sebagai misykat.
Menurutnya, Indonesia didirikan bukan hanya untuk kepentingan kelompok atau suku tertentu. Negara ini berdiri dengan cita-cita untuk kemaslahatan segala bangsa.
“Ini jelas sekali bahwa Indonesia ini didirikan dengan cita-cita untuk kemaslahatan segala bangsa. Bukan cuma orang Betawi saja, bukan cuma Sunda, Jawa, Batak, Bugis dan lain-lain saja menjadi bagian Indonesia, tetapi untuk segala bangsa,” jelasnya.
Gus Yahya mengutip Pembukaan UUD 1945 yang menegaskan kemerdekaan sebagai hak seluruh bangsa di dunia. Penjajahan harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.
Dalam kesempatan itu, dia mengajak seluruh warga NU dan masyarakat Indonesia untuk terus menghidupkan cita-cita peradaban mulia dalam pikiran dan tindakan.
Gus Yahya juga mengingatkan pesan pendiri NU, Hadratusyekh KH Hasyim Asy’ari, tentang pentingnya menjaga kasih sayang dan persaudaraan di antara sesama Nahdliyin.
“Masuklah kalian semua ke dalam Jamiyyah Nahdlatul Ulama ini dengan mahabbah, dengan rasa cinta, wal widaad, dan kasih sayang,” ujarnya menirukan pesan Hadratusyekh.
Dia menegaskan bahwa prinsip saling menyayangi merupakan syarat utama menjadi bagian dari NU.
Harlah ke-100 NU dihadiri perwakilan dari 38 PWNU dan 548 PCNU seluruh Indonesia. Presiden Prabowo Subianto, seluruh menteri Kabinet Merah Putih, dan duta besar dari berbagai negara juga diundang dalam acara tersebut.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: