Menuju Indonesia Emas 2045, Budiman Sudjatmiko Bedah Tantangan Nalar Manusia di Era AI

- Di era AI, keunggulan manusia bukan lagi soal hafalan, melainkan imajinasi, kreativitas, dan keberanian mengakui apa yang belum diketahui.
- Indonesia Emas 2045 butuh 25 tahun konsolidasi, sehingga keberhasilan tidak bisa bergantung pada satu figur, melainkan pada sistem estafet kepemimpinan yang kokoh.
- Kader GMPK disebut sebagai generasi yang akan memegang kendali penuh saat Indonesia berusia 100 tahun, sehingga diklat ini adalah investasi strategis untuk mengisi pos kepemimpinan masa depan.
, BOGOR – Peta jalan menuju Indonesia Emas 2045 tidak sekadar menuntut kesiapan infrastruktur fisik, melainkan transformasi radikal pada kualitas esensial manusia yang akan mengemudikannya. Tanpa adanya lompatan cara berpikir dari generasi muda, lompatan teknologi justru berisiko menjadi jurang ketimpangan baru.
Refleksi filosofis dan teknologis tersebut mengemuka dalam rangkaian hari keenam Diklat Pratama Se-Indonesia Angkatan I yang diselenggarakan oleh Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Gerakan Mahasiswa Pelajar Kebangsaan (GMPK) di Bogor, Jawa Barat, Jumat (3/7/2026).
Hadir sebagai pemateri, tokoh pemikir sekaligus aktivis nasional Budiman Sudjatmiko memaparkan kuliah umum yang membedah disrupsi kecerdasan buatan, redefinisi keunggulan intelektual, hingga urgensi geopolitik berupa kesinambungan kepemimpinan nasional.
Melampaui Kecerdasan Mesin
Budiman menjelaskan, kehadiran AI telah mengubah lanskap kompetensi global secara total. Standardisasi manusia hebat tidak lagi bisa diukur dari seberapa banyak informasi yang mampu dihafal oleh kepala seseorang, sebab fungsi pencarian dan penyimpanan data tersebut kini telah diambil alih oleh mesin secara instan.
“Indonesia Emas 2045 membutuhkan generasi yang mampu melampaui kecerdasan mesin. Di era AI, manusia harus memiliki imajinasi, kreativitas, dan kemampuan berpikir visioner. Tanpa itu, manusia hanya akan tertinggal dan kesulitan mengikuti perkembangan zaman,” ujar Budiman.
Ia menambahkan, keunggulan manusia modern bukan lagi terletak pada sekadar mengetahui banyak hal, melainkan pada aspek kesadaran kognitif. Tantangan terbesar pemuda saat ini adalah keberanian untuk mengakui apa yang belum mereka ketahui, yang kemudian diikuti dengan rasa ingin tahu yang tinggi, serta kelincahan untuk terus belajar, beradaptasi.
Kontinuitas Kepemimpinan
Selain menyoroti aspek kapasitas individu, Budiman juga membedah tantangan struktural yang dihadapi Indonesia dalam mewujudkan cita-cita sebagai negara maju dalam dua dekade ke depan.
Menurut kalkulasi politik ekonominya, target Indonesia Emas membutuhkan waktu konsolidasi dan pembangunan yang ajek selama kurang lebih 25 tahun ke depan.
Di sinilah, kata dia, letak pentingnya kedewasaan bernegara dalam melihat sirkulasi kekuasaan. Mengingat konstitusi membatasi masa jabatan seorang Presiden maksimal hanya 10 tahun, maka keberhasilan cita-cita besar ini tidak boleh digantungkan pada satu figur semata, melainkan pada sistem estafet yang kokoh.
“Mewujudkan Indonesia Emas 2045 memerlukan kesinambungan kepemimpinan. Keberhasilan cita-cita besar ini sangat bergantung pada pemimpin-pemimpin berikutnya yang mampu secara konsisten melanjutkan program-program strategis yang telah dirintis oleh pemerintahan sebelumnya,” urai Budiman.
“Generasi muda memiliki peran krusial sebagai jangkar estafet kepemimpinan bangsa. Pemuda hari ini harus mempersiapkan diri sejak dini untuk melanjutkan perjuangan pembangunan nasional serta menjaga keberlanjutan visi Indonesia maju,” imbuhnya.
Budiman lalu mengingatkan para kader GMPK bahwa mereka adalah kelompok yang secara demografis akan memegang kendali penuh saat Indonesia menginjak usia seabad pada 2045 nanti. Karena itu, keterlibatan mereka dalam forum diklat seperti ini harus dipandang sebagai investasi strategis untuk mengisi pos-pos kepemimpinan masa depan.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: