Dua Peserta SPPI Gugur saat Latsarmil, Kemhan Buka Kronologi dan Siapkan Evaluasi Menyeluruh

- Dua peserta SPPI, Anisa Muyassaroh dan Yonanda Muhammad Taufiq, gugur dalam selang sehari saat mengikuti Latsarmil, masing-masing akibat heat stroke di Balikpapan dan cardiac arrest di Baturaja.
- Kemhan memastikan keduanya telah dinyatakan fit sebelum latihan dan kini memberikan pendampingan penuh kepada keluarga korban.
- Evaluasi menyeluruh disiapkan, mencakup perbaikan seleksi kesehatan, pengawasan medis di lapangan, dan sistem komunikasi darurat dalam program SPPI.
, Jakarta – Dua peserta Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) meninggal dunia dalam rentang waktu berdekatan saat mengikuti Latihan Dasar Militer di satuan pendidikan TNI. Kementerian Pertahanan RI menegaskan keduanya telah dinyatakan memenuhi syarat kesehatan sebelum memasuki medan latihan.
Korban pertama, Anisa Muyassaroh, mengalami gangguan kesehatan pada 18 Juni 2026 saat mengikuti pelatihan di Satuan Pendidikan Dodikjur Rindam VI/Mulawarman, Balikpapan. Tim medis satuan segera memberikan penanganan darurat sebelum merujuknya ke rumah sakit terdekat. Dokter menyatakan Anisa meninggal akibat serangan heat stroke.
Sehari sebelumnya, 17 Juni 2026, giliran Yonanda Muhammad Taufiq yang jatuh dalam kondisi kritis di Puslatpur Kodiklatad, Baturaja. Penanganan cepat dari tenaga kesehatan di lokasi tidak mampu menyelamatkan nyawanya. Keterangan medis menyebut Yonanda wafat karena cardiac arrest.
Kemhan memastikan seluruh proses pengurusan jenazah dan hak-hak kedua almarhum telah diselesaikan, dengan pendampingan penuh kepada keluarga masing-masing.
Dua kematian dalam jarak sehari pada program yang sama memunculkan pertanyaan yang wajar apakah standar seleksi kesehatan yang ada sudah cukup untuk menyaring risiko semacam ini? Kemhan tampaknya menyadari beban pertanyaan itu.
Kementerian kini tengah menggodok evaluasi menyeluruh bersama Panitia Seleksi Nasional dan penyelenggara pendidikan. Beberapa aspek yang dikaji meliputi ketatnya prosedur tes kesehatan awal, sistem pemantauan kondisi peserta secara berkala di lapangan, hingga pembenahan jalur komunikasi darurat agar respons bisa lebih cepat saat situasi kritis terjadi.
Program SPPI sendiri dirancang untuk mencetak sarjana penggerak yang akan ditempatkan di Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih dan Kampung Nelayan Merah Putih. Keikutsertaan bersifat sukarela, dengan orientasi pada pengabdian dan percepatan pembangunan dari akar rumput. Kemhan menegaskan keselamatan peserta akan menjadi prioritas paling utama dalam setiap penyelenggaraan program ke depannya.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: