Hampir Sebulan Pasca-Tabrakan Kereta di Bekasi Timur, Lima Korban Masih Dirawat di Empat Rumah Sakit

- Lima korban tabrakan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL di Stasiun Bekasi Timur masih dirawat di empat rumah sakit berbeda, hampir sebulan setelah kejadian pada 27 April 2026.
- Menhub Dudy Purwagandhi mengungkap kronologi taksi mogok di rel memicu kerumunan warga, membuat KRL terhenti, sebelum Argo Bromo Anggrek datang dengan kecepatan 108 km/jam dan menghantam KRL tersebut.
- Kecelakaan menewaskan 16 orang dan melukai 90 lainnya, seluruhnya penumpang KRL hasil investigasi KNKT soal kondisi sinyal masih ditunggu.
, Bekasi Timur – Hampir satu bulan setelah tabrakan maut di Stasiun Bekasi Timur, lima orang korban masih terbaring di rumah sakit. Polda Metro Jaya memastikan mereka belum bisa kembali ke rumah dan masih membutuhkan perawatan intensif.
“Terkait kecelakaan kereta api di Bekasi Timur, hingga saat ini masih terdapat 5 orang korban yang menjalani perawatan,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto kepada wartawan, Minggu (24/5/2026).
Kelima korban itu tersebar di empat fasilitas kesehatan yang berbeda.
“Dengan rincian 2 orang di RS Primaya Bekasi Timur, 1 orang di RSUD Kabupaten Bekasi, 1 orang di RS Primaya Bekasi Barat, dan 1 orang di Eka Hospital Harapan Indah,” ujar Budi. Korban lain yang sebelumnya sempat dirawat sudah berangsur dipulangkan.
Kecelakaan itu terjadi pada Senin malam, 27 April 2026. Dalam rapat kerja bersama Komisi V DPR RI, Kamis (21/5/2026), Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi membeberkan kronologi lengkap yang sebelumnya belum pernah dipaparkan secara resmi ke publik.
Rangkaian kejadian bermula dari hal yang tampak sepele. Sebuah taksi hijau mogok di tengah lintasan rel kawasan Bekasi Timur. Pada pukul 20.48 WIB, KRL 5181B relasi Cikarang-Jakarta melintas dan menghantam kendaraan yang terjebak itu. Insiden pertama ini langsung menarik kerumunan warga yang berhenti untuk menyaksikan.
“Timbul kerumunan di mana warga melihat lokasi kecelakaan tersebut,” kata Dudy.
Di sinilah rangkaian kejadian mulai berantai. KRL 5568A yang seharusnya sudah bergerak dari Stasiun Bekasi Timur pada pukul 20.49 WIB terpaksa berhenti di jalurnya karena kerumunan warga itu menghalangi lintasan ke depan.
Satu menit kemudian, pukul 20.51 WIB, KA Argo Bromo Anggrek melintas Stasiun Bekasi tiga menit lebih cepat dari jadwal, dengan kecepatan 108 kilometer per jam. Tak ada yang bisa mencegah yang terjadi berikutnya.
“Tumburan terjadi pada jam 20.52 WIB,” ujar Dudy.
KA Argo Bromo Anggrek menghantam keras KRL 5568A yang sedang berhenti di sekitar Stasiun Bekasi Timur. Seluruh korban jiwa dan luka berasal dari penumpang KRL. Tidak satu pun penumpang kereta jarak jauh itu mengalami cedera.
Ada yang mengganjal dalam urutan kejadian ini. KRL 5568A sudah terlambat sembilan menit saat tiba di Bekasi Timur, lalu berhenti lagi karena kerumunan, sementara Argo Bromo Anggrek justru datang lebih cepat dari jadwal. Dua kondisi yang saling berlawanan itu bertemu di titik yang sama, dalam selisih waktu yang terlalu sempit untuk diantisipasi.
Akibat tabrakan tersebut, 16 orang meninggal dunia dan 90 lainnya menderita luka-luka. Investigasi resmi masih berlangsung, dengan Kementerian Perhubungan menunggu hasil pemeriksaan dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) terkait status sinyal sebelum kecelakaan terjadi.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: