Bukan Kabar Baik bagi Rupiah: Ekonom Sebut Kembali ke Rp 16.000 Masih Jauh dari Kenyataan

- Ekonom Bank Permata Josua Pardede memprediksi rupiah masih akan bertahan di atas Rp 17.000 dalam waktu dekat, jauh dari level Rp 16.000 yang dianggap ideal secara teori nilai tukar riil efektif.
- Lonjakan permintaan dolar di kuartal II 2026 dipicu pembayaran dividen emiten dan kebutuhan valas musim haji, sementara investor masih bersikap wait and see terhadap ekonomi Indonesia.
- Bank Indonesia menaikkan suku bunga 50 basis poin menjadi 5,25% sebagai langkah agresif menjaga stabilitas, tapi Josua menilai kebijakan ini belum cukup tanpa perbaikan faktor fundamental lainnya.
, Jakarta – Rupiah belum akan beranjak dari zona lemah dalam waktu dekat. Ekonom Bank Permata Josua Pardede menyebut nilai tukar mata uang Indonesia sulit kembali ke level Rp 16.000 per dolar AS, bahkan dalam jangka menengah sekalipun.
“Kalau melihat kondisi seperti saat ini, kami melihat bahwa rupiah masih di level Rp 17.000-an, hopefully masih di bawah Rp 17.500 per dolar AS,” kata Josua dalam acara Pelatihan Wartawan yang digelar Bank Indonesia, dikutip Minggu (24/5/2026).
Josua menambahkan, secara teori nilai tukar riil efektif rupiah seharusnya bisa berada di bawah Rp 17.000. Tapi kondisi pasar saat ini tidak cukup mendukung pergerakan ke sana.
Dua tekanan besar datang bersamaan. Permintaan dolar AS di pasar domestik melonjak pada kuartal II 2026, didorong pembayaran dividen emiten kepada pemegang saham sekaligus kebutuhan valuta asing untuk pemberangkatan jemaah haji. Menurut Josua, pola ini berulang setiap tahun tanpa bisa dihindari.
“Jadi itu sangat wajar bahwa akan ada peningkatan permintaan dolar di kuartal dua ini. Itu mau di tahun mana saja itu nggak akan bisa mundur,” ujarnya.
Ia turut mendorong penguatan transaksi menggunakan mata uang lokal atau Local Currency Transaction (LCT) sebagai salah satu cara mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS di pasar domestik.
Di tengah tekanan itu, Bank Indonesia sudah bergerak. BI menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen, respons yang Josua nilai lebih agresif dari biasanya, setelah rupiah sempat menyentuh level Rp 17.700 pekan ini.
“Langkah BI ini bukan sekadar penyesuaian biasa, melainkan langkah yang lebih agresif untuk memulihkan kepercayaan pasar dan memberi sinyal bahwa stabilitas rupiah menjadi prioritas utama,” imbuh Josua.
Kenaikan BI Rate memang punya efek langsung: aset rupiah menjadi lebih menarik bagi investor, arus modal keluar bisa ditahan, dan tekanan spekulatif di pasar valuta asing berkurang. Tapi ada batasnya.
Josua menegaskan, kenaikan suku bunga saja tidak cukup untuk memulihkan rupiah secara struktural jika fondasi lain tidak ikut membaik. Nilai tukar juga dipengaruhi harga minyak global, kebutuhan dolar untuk impor energi, pembayaran utang luar negeri, arus modal asing, kredibilitas fiskal pemerintah, hingga cara investor membaca arah kebijakan secara keseluruhan.
“Nilai tukar tidak hanya ditentukan oleh suku bunga,” tegasnya.
Pasar memang sedang dalam mode menunggu. Investor belum mau mengambil posisi tegas selama ketidakpastian global belum mereda. Sikap wait and see itu yang membuat tekanan pada rupiah tidak mudah reda hanya dengan satu kebijakan.
Data pasar hari ini mencatat USD/IDR berada di posisi Rp 17.712, sementara IHSG ditutup di level 6.162. Rupiah sudah melemah lebih dari 5 persen sejak awal tahun.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: