TODAY'S RECAP

Rubrikasi

Informasi

Ikuti Kami

16 Maret 2026
TODAY'S RECAP
Megawati Kirim Surat Selamat kepada Mojtaba Khamenei, Serukan Visi Trisakti Bung Karno untuk Iran Ayam Rp40.000, Cabai Jauh di Bawah HET, Minyakita Turun Rp1.000: Hasil Sidak Mendag di Pasar Rawasari IHSG Dibuka Melemah 0,30% ke 7.115 di Awal Pekan, Pasar Lebih Khawatir Eskalasi Geopolitik ketimbang Janji Disiplin Fiskal Prabowo Dorong Kurikulum Koperasi Merah Putih di Sekolah, Chusni Mubarok: Perkuat Fondasi Ekonomi Kerakyatan Pakar: Trump Kehilangan Kendali dan Putus Asa Hadapi Iran Dari Persia untuk Dunia: Tiga Ilmuwan Iran yang Karyanya Jadi Rujukan Berabad-abad Perintah Presiden, Kapolri Jamin Lindungi Identitas Pemberi Informasi Kasus Andrie Yunus Trump Minta Inggris dan China Kirim Kapal Perang ke Selat Hormuz Megawati Kirim Surat Selamat kepada Mojtaba Khamenei, Serukan Visi Trisakti Bung Karno untuk Iran Ayam Rp40.000, Cabai Jauh di Bawah HET, Minyakita Turun Rp1.000: Hasil Sidak Mendag di Pasar Rawasari IHSG Dibuka Melemah 0,30% ke 7.115 di Awal Pekan, Pasar Lebih Khawatir Eskalasi Geopolitik ketimbang Janji Disiplin Fiskal Prabowo Dorong Kurikulum Koperasi Merah Putih di Sekolah, Chusni Mubarok: Perkuat Fondasi Ekonomi Kerakyatan Pakar: Trump Kehilangan Kendali dan Putus Asa Hadapi Iran Dari Persia untuk Dunia: Tiga Ilmuwan Iran yang Karyanya Jadi Rujukan Berabad-abad Perintah Presiden, Kapolri Jamin Lindungi Identitas Pemberi Informasi Kasus Andrie Yunus Trump Minta Inggris dan China Kirim Kapal Perang ke Selat Hormuz

Cari berita

329 WNI di Iran Berstatus Siaga 1, DPR Desak Pemerintah Tak Tunda Langkah Evakuasi

Poin Penting (3)
  • Anggota Komisi I DPR dari Fraksi PAN mendesak pemerintah menyiapkan rencana evakuasi WNI di Iran dan negara-negara Teluk, menyusul serangan AS-Israel yang terus meluas.
  • Kemlu RI dan KBRI Teheran telah menetapkan status Siaga 1 bagi 329 WNI di Iran, namun DPR menilai langkah itu belum cukup mengingat cepatnya eskalasi di lapangan.
  • Pemerintah juga diminta segera berkoordinasi dengan maskapai dan otoritas penerbangan untuk memastikan keselamatan jemaah umrah WNI yang terdampak gangguan rute udara di kawasan Timur Tengah.

Resolusi.co, JAKARTA – Eskalasi serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran memaksa DPR angkat bicara. Anggota Komisi I dari Fraksi PAN, Farah Puteri Nahlia, mendesak pemerintah segera mengambil langkah konkret melindungi Warga Negara Indonesia yang tersebar di kawasan konflik, terutama mereka yang berada di Iran dan negara-negara Teluk.

“Pemerintah harus selalu siap untuk melakukan rencana kontingensi dan memfasilitasi evakuasi WNI kita ke tempat aman sebagai bentuk langkah antisipatif yang matang,” kata Farah Puteri Nahlia kepada wartawan.

Farah menegaskan, kesiapan itu tidak cukup hanya menyasar titik pusat konflik. Pekerja Migran Indonesia yang bekerja di negara-negara Teluk, yang secara geografis berdekatan dengan zona eskalasi, juga harus masuk dalam lingkup pengamanan pemerintah.

Kemlu RI dan KBRI Teheran sejauh ini telah memberlakukan status Siaga 1 bagi 329 WNI yang berada di Iran. Farah mengapresiasi langkah itu, namun menilai perkembangan situasi yang bergerak cepat menuntut respons yang lebih menyeluruh, bukan sekadar penetapan status.

Satu kelompok yang luput dari perhatian dalam situasi seperti ini adalah jemaah umrah. Farah secara khusus menyoroti nasib WNI yang sedang atau hendak kembali dari Mekkah dan Madinah, Arab Saudi. Ketidakpastian jalur udara di kawasan Timur Tengah bisa membuat ribuan jemaah terjebak tanpa kepastian kapan bisa pulang.

“Konflik ini tentu berdampak langsung terhadap keamanan rute penerbangan jemaah WNI yang hendak pulang dari ibadah umrah. Kami meminta kementerian terkait untuk segera berkoordinasi secara intensif dengan otoritas penerbangan dan maskapai,” tambahnya.

Di sini terlihat bahwa tekanan DPR tidak hanya soal evakuasi darurat, tetapi juga menyentuh dimensi yang lebih praktis, yakni mobilitas warga biasa yang kebetulan berada di kawasan genting pada waktu yang tidak tepat.

Farah juga memberikan dukungan terhadap inisiatif Presiden Prabowo Subianto yang menawarkan diri sebagai mediator konflik. Bagi PAN, langkah diplomasi itu relevan bukan sekadar sebagai gestur politik luar negeri, tetapi sebagai upaya mencegah krisis yang dampaknya bisa merambat jauh.

“Dengan kredibilitas yang kita miliki, Indonesia siap menjadi mediator demi mencegah krisis kemanusiaan dan ekonomi yang lebih luas,” pungkas Farah.