TODAY'S RECAP
Dorong Transformasi Pendidikan, 150 Alumni LPDP Diterjunkan ke Wilayah 3TKomdigi Kembali Panggil Meta dan Google, Kepatuhan PP Tunas DisorotKabar Baik untuk Dapur: Cabai dan Daging Kompak Turun, tapi Bawang Belum IkutWorkshop PPG UNS: 495 Calon Guru Diperkuat Etika Akademik dan Anti KekerasanKerja Lembur Sampai Akhir Pekan, RUU P2SK Ditargetkan Tuntas Minggu DepanDorong Transformasi Pendidikan, 150 Alumni LPDP Diterjunkan ke Wilayah 3TKomdigi Kembali Panggil Meta dan Google, Kepatuhan PP Tunas DisorotKabar Baik untuk Dapur: Cabai dan Daging Kompak Turun, tapi Bawang Belum IkutWorkshop PPG UNS: 495 Calon Guru Diperkuat Etika Akademik dan Anti KekerasanKerja Lembur Sampai Akhir Pekan, RUU P2SK Ditargetkan Tuntas Minggu DepanDorong Transformasi Pendidikan, 150 Alumni LPDP Diterjunkan ke Wilayah 3TKomdigi Kembali Panggil Meta dan Google, Kepatuhan PP Tunas DisorotKabar Baik untuk Dapur: Cabai dan Daging Kompak Turun, tapi Bawang Belum IkutWorkshop PPG UNS: 495 Calon Guru Diperkuat Etika Akademik dan Anti KekerasanKerja Lembur Sampai Akhir Pekan, RUU P2SK Ditargetkan Tuntas Minggu DepanDorong Transformasi Pendidikan, 150 Alumni LPDP Diterjunkan ke Wilayah 3TKomdigi Kembali Panggil Meta dan Google, Kepatuhan PP Tunas DisorotKabar Baik untuk Dapur: Cabai dan Daging Kompak Turun, tapi Bawang Belum IkutWorkshop PPG UNS: 495 Calon Guru Diperkuat Etika Akademik dan Anti KekerasanKerja Lembur Sampai Akhir Pekan, RUU P2SK Ditargetkan Tuntas Minggu Depan

Rubrikasi

Informasi

Ikuti Kami

3 April 2026

Cari berita

70 Bulan Surplus Beruntun, tapi Defisit Dagang RI dengan China Justru Kian Dalam

Poin Penting (3)
  • Neraca perdagangan Indonesia surplus US$1,27 miliar pada Februari 2026, memperpanjang tren surplus beruntun selama 70 bulan sejak Mei 2020, dengan ekspor ke AS dan India sebagai penopang utama sektor nonmigas.
  • Defisit perdagangan terbesar masih terjadi dengan China, didorong oleh tingginya impor mesin, perlengkapan elektrik, dan kendaraan sebagai kebutuhan industri dalam negeri.
  • Impor nonmigas naik 18,24 persen secara tahunan menjadi US$18,90 miliar, sementara impor migas justru turun 30,36 persen, mencerminkan dampak awal kebijakan substitusi energi pemerintah.

Resolusi.co, Jakarta – Indonesia kembali mencetak surplus neraca perdagangan pada Februari 2026, memperpanjang tren positif yang kini sudah berjalan 70 bulan tanpa putus sejak Mei 2020. Di balik angka itu, peta mitra dagang menunjukkan pola yang belum banyak berubah: Amerika Serikat dan India menjadi penopang utama, sementara defisit dengan China masih bertahan dalam posisi yang dalam.

Badan Pusat Statistik mencatat surplus perdagangan Indonesia pada Februari 2026 sebesar US$1,27 miliar. Total ekspor bulan itu mencapai US$22,17 miliar, naik 1,01 persen dibanding Februari 2025. Nilai ekspor nonmigas tercatat US$21,09 miliar, tumbuh 1,30 persen secara tahunan.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono merinci dari mana surplus terbesar itu berasal.

“Yang pertama, dari AS terutama didorong oleh komoditas mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya, pakaian dan aksesori rajutan, serta lemak dan minyak hewan nabati,” kata Ateng, Rabu (1/4/2026).

Surplus dengan India bersumber dari ekspor bahan bakar mineral, yang memang menjadi kebutuhan pokok negara itu seiring pertumbuhan konsumsi energinya. Lemak dan minyak nabati serta mesin dan perlengkapan elektrik turut menyumbang. Adapun surplus dengan Filipina ditopang ekspor kendaraan dan suku cadangnya, mencerminkan seberapa jauh jangkauan industri otomotif Indonesia di kawasan.

Di sisi impor, tekanan terbesar masih datang dari China. Mesin dan peralatan mekanik, perlengkapan elektrik, hingga kendaraan menjadi komoditas yang paling besar menarik devisa keluar ke negara itu. Defisit dengan Australia tercatat karena impor logam mulia, serealia, dan bahan bakar mineral, sedangkan defisit dengan Singapura lebih banyak didorong oleh kebutuhan mesin dan bahan baku plastik untuk industri dalam negeri.

Secara keseluruhan, impor Februari 2026 naik 10,85 persen secara tahunan menjadi US$20,89 miliar. Impor nonmigas menjadi penyumbang terbesar kenaikan itu, tumbuh 18,24 persen dengan andil 15,47 persen terhadap total pertumbuhan impor.

Yang menarik, impor migas justru turun cukup tajam, 30,36 persen secara tahunan, menjadi US$2 miliar. Penurunan ini sejalan dengan berbagai kebijakan substitusi energi yang sedang digenjot pemerintah, termasuk program biodiesel B50 yang rencananya efektif berjalan mulai Juli mendatang.

Tujuh puluh bulan surplus berturut-turut adalah angka yang terdengar impresif. Tapi selama defisit dengan China terus menganga lebar, pertanyaan tentang kedalaman struktur ekspor Indonesia belum benar-benar terjawab. Surplus yang bertumpu pada komoditas berbasis sumber daya alam masih lebih mudah terguncang ketika harga global bergerak, dibanding surplus yang lahir dari produk manufaktur bernilai tambah tinggi.