TODAY'S RECAP

Rubrikasi

Informasi

Ikuti Kami

15 April 2026

Cari berita

PM Denmark: NATO Akan Bubar Jika AS Serang Greenland

Poin Penting (3)
  • PM Denmark memperingatkan NATO akan bubar jika AS menyerang Greenland secara militer, merespons ancaman berulang Donald Trump untuk mengambil alih pulau Arktik tersebut.
  • Tujuh pemimpin Eropa mengeluarkan pernyataan bersama yang menegaskan Greenland milik rakyatnya dan hanya Denmark serta Greenland yang berhak memutuskan masa depan wilayah tersebut.
  • Trump mengklaim AS membutuhkan Greenland untuk keamanan nasional karena ancaman Tiongkok dan Rusia di Arktik, meski pakar membantah klaim kapal asing menjadi ancaman langsung.

Resolusi.co, JAKARTA – Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen menyampaikan peringatan keras kepada Amerika Serikat. Jika Washington benar-benar menyerang Greenland secara militer, maka aliansi pertahanan NATO yang telah berdiri sejak akhir Perang Dunia II akan berakhir.

Pernyataan tegas ini disampaikan Frederiksen kepada stasiun televisi Denmark TV2 pada Senin (6/1/2026) waktu setempat. Langkah tersebut merupakan respons atas pernyataan Presiden AS Donald Trump yang kembali mengincar Greenland, pulau Arktik yang kaya mineral dan sangat strategis.

“Jika Amerika Serikat memilih untuk menyerang negara NATO lain secara militer, maka semuanya akan berakhir. Artinya, itu termasuk NATO kita dan dengan demikian keamanan yang telah diberikan sejak akhir Perang Dunia Kedua,” tegas Frederiksen.

Ketegangan meningkat setelah Trump pada Minggu (5/1) mengatakan kepada wartawan bahwa AS “membutuhkan Greenland dari sudut pandang keamanan nasional.” Trump bahkan menyindir upaya Denmark memperkuat pertahanan Greenland dengan mengatakan negara Skandinavia itu hanya menambah “satu kereta luncur anjing lagi” ke wilayah Arktik tersebut.

Pernyataan Trump muncul setelah operasi militer AS di Venezuela yang menangkap Presiden Nicolás Maduro dan istrinya pada Sabtu (4/1) dini hari mengejutkan dunia. Aksi tersebut memicu kekhawatiran di Denmark dan Greenland, yang merupakan wilayah semi-otonom Kerajaan Denmark dan karenanya bagian dari NATO.

Trump berulang kali tidak mengesampingkan penggunaan kekuatan militer untuk mengambil alih pulau tersebut. Bahkan, presiden AS itu mengatakan akan “membicarakan Greenland dalam 20 hari,” yang semakin mempertebal kekhawatiran intervensi AS dalam waktu dekat.

Perdana Menteri Greenland, Jens Frederik Nielsen, dalam konferensi pers pada Senin menyatakan situasi di pulau tersebut masih kondusif. Nielsen menegaskan AS tidak akan menyerang Greenland seperti yang dilakukan terhadap Venezuela karena pulau ini tidak memiliki masalah serupa.

“Kita tidak dalam situasi seperti yang kita pikirkan bahwa mungkin akan terjadi pengambilalihan negara dalam semalam. Karena itu, saya menekankan bahwa kita ingin kerja sama yang baik,” kata Nielsen.

Trump beralasan bahwa AS memerlukan kontrol atas Greenland untuk memastikan keamanan di tengah meningkatnya ancaman Tiongkok dan Rusia di wilayah Arktik. Ia mengklaim Greenland “dipenuhi kapal Rusia dan Tiongkok di mana-mana” dan Denmark tidak mampu melindunginya.

Namun, klaim tersebut dibantah oleh Ulrik Pram Gad, pakar keamanan global dari Institut Studi Internasional Denmark. Dalam laporannya tahun lalu, Gad menyatakan memang ada kapal Rusia dan Tiongkok di Arktik, namun kapal-kapal tersebut berada terlalu jauh dari Greenland untuk menjadi ancaman langsung.

Tujuh pemimpin Eropa, termasuk Presiden Prancis Emmanuel Macron, Kanselir Jerman Friedrich Merz, dan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, mengeluarkan pernyataan bersama pada Selasa (7/1) yang menyatakan Greenland “milik rakyatnya.” Mereka menegaskan bahwa hanya Denmark dan Greenland yang berhak memutuskan hal-hal yang menyangkut kedua wilayah tersebut.

Perdana Menteri Polandia Donald Tusk menyatakan Denmark dapat mengandalkan solidaritas seluruh Eropa dalam isu Greenland. Ia menegaskan tidak ada anggota NATO yang boleh menyerang atau mengancam anggota lain, karena hal tersebut akan menghilangkan makna aliansi pertahanan tersebut.

Greenland merupakan pulau terbesar di dunia dengan posisi geografis yang sangat strategis. AS sendiri mengoperasikan Pangkalan Luar Angkasa Pituffik di barat laut Greenland berdasarkan perjanjian pertahanan tahun 1951 dengan Denmark. Pangkalan ini mendukung operasi peringatan rudal, pertahanan rudal, dan pengawasan luar angkasa untuk AS dan NATO.

Meski demikian, Frederiksen menekankan bahwa Denmark dan Greenland telah berinvestasi signifikan dalam keamanan Arktik dan akan terus membela hak rakyat Greenland untuk menentukan masa depan mereka sendiri sesuai hukum internasional yang melarang penggunaan kekerasan untuk mengubah batas negara.