TODAY'S RECAP
Dorong Transformasi Pendidikan, 150 Alumni LPDP Diterjunkan ke Wilayah 3TKomdigi Kembali Panggil Meta dan Google, Kepatuhan PP Tunas DisorotKabar Baik untuk Dapur: Cabai dan Daging Kompak Turun, tapi Bawang Belum IkutWorkshop PPG UNS: 495 Calon Guru Diperkuat Etika Akademik dan Anti KekerasanKerja Lembur Sampai Akhir Pekan, RUU P2SK Ditargetkan Tuntas Minggu DepanDorong Transformasi Pendidikan, 150 Alumni LPDP Diterjunkan ke Wilayah 3TKomdigi Kembali Panggil Meta dan Google, Kepatuhan PP Tunas DisorotKabar Baik untuk Dapur: Cabai dan Daging Kompak Turun, tapi Bawang Belum IkutWorkshop PPG UNS: 495 Calon Guru Diperkuat Etika Akademik dan Anti KekerasanKerja Lembur Sampai Akhir Pekan, RUU P2SK Ditargetkan Tuntas Minggu DepanDorong Transformasi Pendidikan, 150 Alumni LPDP Diterjunkan ke Wilayah 3TKomdigi Kembali Panggil Meta dan Google, Kepatuhan PP Tunas DisorotKabar Baik untuk Dapur: Cabai dan Daging Kompak Turun, tapi Bawang Belum IkutWorkshop PPG UNS: 495 Calon Guru Diperkuat Etika Akademik dan Anti KekerasanKerja Lembur Sampai Akhir Pekan, RUU P2SK Ditargetkan Tuntas Minggu DepanDorong Transformasi Pendidikan, 150 Alumni LPDP Diterjunkan ke Wilayah 3TKomdigi Kembali Panggil Meta dan Google, Kepatuhan PP Tunas DisorotKabar Baik untuk Dapur: Cabai dan Daging Kompak Turun, tapi Bawang Belum IkutWorkshop PPG UNS: 495 Calon Guru Diperkuat Etika Akademik dan Anti KekerasanKerja Lembur Sampai Akhir Pekan, RUU P2SK Ditargetkan Tuntas Minggu Depan

Rubrikasi

Informasi

Ikuti Kami

4 April 2026

Cari berita

Arkeolog Temukan Bangkai Kapal Pesta Kerajaan Era Cleopatra di Alexandria

Poin Penting (3)
  • Tim arkeolog IEASM menemukan bangkai kapal pesiar mewah berusia lebih dari 2.000 tahun di lepas Pulau Antirhodos, kurang dari 50 meter dari Kuil Isis, yang sesuai dengan deskripsi sejarawan Yunani Strabo tentang perahu pesta kerajaan era Cleopatra.
  • Kapal diduga tenggelam sekitar tahun 50 Masehi akibat gempa bumi yang menghancurkan Kuil Isis dan kompleks istana Cleopatra, bagian dari Portus Magnus Alexandria yang kini terendam di dasar Laut Mediterania.
  • Penemuan ini merupakan bagian dari ekspedisi berkelanjutan sejak 1996 yang telah mengungkap lebih dari 20.000 artefak, termasuk patung Sphinx, koin, keramik, dan struktur istana yang memberikan bukti nyata tentang kemewahan kehidupan di Alexandria pada masa Cleopatra VII.

Resolusi.co, JAKARTA – Tim arkeolog bawah laut menemukan bangkai kapal pesiar mewah berusia lebih dari 2.000 tahun di lepas pantai Alexandria, Mesir. Kapal yang ditemukan di perairan sekitar Pulau Antirhodos yang tenggelam ini diduga merupakan perahu pesta kerajaan yang pernah digunakan pada era Ratu Cleopatra VII.

Penemuan spektakuler ini dilakukan oleh Institut Arkeologi Bawah Air Eropa (IEASM) di bawah arahan Franck Goddio, seorang arkeolog bawah laut Prancis yang telah mengabdikan lebih dari dua dekade untuk mengungkap kota-kota kuno yang hilang di dasar laut Mediterania.

Kapal ditemukan kurang dari 50 meter dari situs Kuil Isis yang saat ini sedang digali. Goddio meyakini perahu tersebut tenggelam ketika kuil hancur total akibat rangkaian gempa bumi dan gelombang pasang sekitar tahun 50 Masehi.

“Lokasi ini merupakan situs unik di dunia,” ujar Goddio yang telah melewatkan dua dekade untuk mencari kota yang hilang tersebut.

Bangkai kapal ini memiliki karakteristik yang sangat tidak biasa dan sesuai dengan deskripsi detail yang ditinggalkan sejarawan Yunani kuno Strabo. Strabo mengunjungi Alexandria sekitar tahun 29-25 SM, tidak lama setelah kematian Cleopatra, dan menuliskan catatan terperinci tentang kehidupan mewah di kota pelabuhan tersebut.

Dalam catatannya, Strabo menggambarkan perahu-perahu pesiar yang digunakan oleh istana kerajaan untuk bertamasya.

“Perahu-perahu ini diperlengkapi dengan mewah dan digunakan oleh istana kerajaan untuk bertamasya; dan kerumunan orang yang bersuka ria yang turun dari Alexandria melalui kanal menuju festival-festival umum; karena setiap hari dan setiap malam penuh dengan orang-orang di atas perahu yang memainkan seruling dan menari tanpa kendali dan dengan sangat bebas,” tulis Strabo.

Goddio menjelaskan bahwa perahu yang ditemukan memiliki konstruksi dan ornamen yang menunjukkan fungsinya sebagai kapal pesiar kerajaan, bukan kapal dagang atau kapal perang biasa. Detail arsitektur dan ukurannya mengindikasikan bahwa kapal ini dirancang khusus untuk kenyamanan dan kemewahan, bukan untuk keperluan militer atau komersial.

Pulau Antirhodos tempat kapal ditemukan merupakan bagian dari Portus Magnus atau pelabuhan besar Alexandria kuno. Pulau kecil ini dulunya menjadi lokasi istana pribadi Cleopatra yang dikenal dengan kemegahan arsitekturnya.

Sejarawan Yunani mencatat bahwa Antirhodos memiliki istana yang lebih sederhana dibandingkan kompleks kerajaan utama di Alexandria, dengan ukuran sekitar 90 meter kali 30 meter. Lantainya terbuat dari marmer abad ketiga SM dan dihiasi dengan berbagai artefak mewah.

Kompleks istana dan Kuil Isis di Pulau Antirhodos sempat terlupakan selama lebih dari 2.000 tahun hingga tim Goddio pertama kali menemukannya pada 1996. Sejak itu, penggalian berkelanjutan telah mengungkap lebih dari 20.000 artefak yang memberikan gambaran luar biasa tentang kehidupan di

Alexandria pada masa kejayaan Cleopatra.
Arkeolog bawah laut Ashraf Abdel Raouf, yang terlibat dalam ekspedisi tersebut, mengungkapkan bahwa berbagai benda berharga telah ditemukan di lokasi.

“Keramik, koin perunggu hingga benda-benda kecil yang ditemukan, sekarang berada di laboratorium dan dirawat. Benda-benda luar biasa yang berhasil ditemukan,” kata Abdel Raouf.

Di antara temuan spektakuler lainnya terdapat dua patung Sphinx raksasa, salah satunya diyakini menggambarkan wajah ayah Cleopatra, Raja Ptolemy XII Auletes. Ada juga patung kolosal yang terbuat dari granit merah yang mewakili penguasa Ptolemeus.

Tim penyelam juga menemukan bongkahan kwarsit dengan ukiran seorang Firaun yang menggambarkan Seti I, ayah dari Ramses II. Penemuan ini mengonfirmasi catatan sejarah bahwa para penguasa Ptolemeus membawa benda-benda Firaun dari Heliopolis, yang kini menjadi bagian dari Kairo, untuk membangun bangunan-bangunan mereka di Alexandria.

“Kami telah menemukan benda-benda Firaun yang dibawa dari Heliopolis, tempat yang sekarang disebut Kairo. Jadi, para penguasa Ptolemeus kembali menggunakan benda-benda firaun untuk membangun bangunan-bangunan mereka,” jelas Abdel Raouf.

Kerja sama antara IEASM dan Kementerian Purbakala Mesir telah berlangsung sejak awal 1990-an. Survei topografi canggih memungkinkan tim untuk menaklukkan hambatan utama penggalian bawah laut di Alexandria: visibilitas yang sangat rendah akibat sedimen tebal yang menutupi dasar pelabuhan.

Penemuan kapal pesiar ini merupakan kelanjutan dari serangkaian temuan penting yang telah dibuat Goddio di perairan Mesir. Pada tahun 2000, timnya menemukan kota kuno Thonis-Heracleion dan sebagian kota Canopus di Teluk Abu Qir, yang dianggap sebagai salah satu penemuan arkeologi terbesar di zaman modern.

Pada 2019, Goddio dan timnya juga menemukan bangkai kapal lain di perairan sekitar Thonis-Heracleion yang detailnya sangat cocok dengan deskripsi sejarawan Yunani kuno Herodotus tentang kapal Mesir kuno.

Pelabuhan Alexandria timur ditinggalkan setelah gempa bumi dahsyat pada abad kedelapan Masehi. Setelah itu, area tersebut tidak tersentuh dan menjadi salah satu teluk terbuka yang menyimpan harta karun arkeologi bawah laut terkaya di dunia.

Portus Magnus dan bagian garis pantai kuno Alexandria tenggelam di bawah laut setelah serangkaian gempa bumi dan gelombang tsunami yang melanda kawasan tersebut selama berabad-abad. Bencana alam ini menelan istana, kuil, dan bangunan monumental lainnya.

Para ahli memperkirakan bahwa gempa bumi besar terjadi pada tahun 365 Masehi dan 956 Masehi, yang secara bertahap merusak dan menenggelamkan sebagian besar pelabuhan kuno Alexandria. Fenomena subsidence atau penurunan tanah juga memperparah kondisi, membuat banyak struktur kuno terbenam semakin dalam di bawah permukaan air.

Cleopatra VII, yang berkuasa dari 51 SM hingga 30 SM, adalah penguasa terakhir dari Dinasti Ptolemeus yang memerintah Mesir sebelum wilayah tersebut dianeksasi oleh Kekaisaran Romawi. Ia dikenal bukan hanya karena kecantikannya, tetapi juga kecerdasan, kemampuan berbahasa, dan keahlian diplomatiknya.

Ratu yang fasih berbicara dalam sembilan bahasa ini menjalin aliansi politik dan romantis dengan dua pemimpin Romawi paling berkuasa pada masanya: Julius Caesar dan Mark Antony. Kehidupannya yang dramatis berakhir dengan bunuh diri pada tahun 30 SM, menyusul kekalahan Mark Antony dari Octavian yang kemudian menjadi Kaisar Augustus.

Alexandria pada masa Cleopatra adalah salah satu kota terbesar dan paling kosmopolitan di dunia kuno. Kota ini terkenal dengan Perpustakaan Alexandria yang legendaris, Mercusuar Pharos yang menjadi salah satu Keajaiban Dunia Kuno, serta pelabuhan megah yang menjadi pusat perdagangan internasional.

Kehidupan di istana Cleopatra digambarkan sebagai sangat mewah dengan pesta-pesta besar yang sering diadakan di kapal-kapal pesiar yang melintasi pelabuhan. Festival dan perayaan berlangsung hampir setiap hari, dengan musik, tarian, dan hiburan yang berlimpah.

Goddio menegaskan bahwa masih banyak rahasia yang tersimpan di dasar laut Alexandria. Timnya berencana melanjutkan eksplorasi dan ekskavasi di area sekitar Pulau Antirhodos untuk mengungkap lebih banyak detail tentang kehidupan pada era Ptolemeus.

“Kami memiliki ini semua sebagai kawasan terbuka bagi arkeologi,” ujar Goddio optimis.

Artefak-artefak yang ditemukan, termasuk bangkai kapal pesiar kerajaan, akan dipamerkan di berbagai museum untuk memberikan wawasan kepada publik tentang kejayaan peradaban Mesir kuno. Beberapa temuan telah dipamerkan di Amerika Serikat dan berbagai negara lainnya, menarik perhatian jutaan pengunjung yang terpesona dengan kemegahan zaman Cleopatra.

Penemuan ini tidak hanya penting dari sisi arkeologi, tetapi juga memberikan konfirmasi terhadap catatan-catatan sejarah kuno yang selama ini hanya diketahui melalui tulisan.

Keberadaan kapal pesiar mewah membuktikan bahwa deskripsi Strabo tentang kehidupan glamor di Alexandria bukanlah sekadar legenda, melainkan kenyataan sejarah.

Dengan teknologi sonar dan peralatan penyelaman modern, tim arkeolog terus memetakan dasar laut Alexandria untuk menemukan lebih banyak struktur dan artefak yang masih terkubur. Setiap penemuan baru membuka jendela lebih lebar untuk memahami salah satu periode paling menarik dalam sejarah peradaban manusia.