TODAY'S RECAP
Dorong Transformasi Pendidikan, 150 Alumni LPDP Diterjunkan ke Wilayah 3TKomdigi Kembali Panggil Meta dan Google, Kepatuhan PP Tunas DisorotKabar Baik untuk Dapur: Cabai dan Daging Kompak Turun, tapi Bawang Belum IkutWorkshop PPG UNS: 495 Calon Guru Diperkuat Etika Akademik dan Anti KekerasanKerja Lembur Sampai Akhir Pekan, RUU P2SK Ditargetkan Tuntas Minggu DepanDorong Transformasi Pendidikan, 150 Alumni LPDP Diterjunkan ke Wilayah 3TKomdigi Kembali Panggil Meta dan Google, Kepatuhan PP Tunas DisorotKabar Baik untuk Dapur: Cabai dan Daging Kompak Turun, tapi Bawang Belum IkutWorkshop PPG UNS: 495 Calon Guru Diperkuat Etika Akademik dan Anti KekerasanKerja Lembur Sampai Akhir Pekan, RUU P2SK Ditargetkan Tuntas Minggu DepanDorong Transformasi Pendidikan, 150 Alumni LPDP Diterjunkan ke Wilayah 3TKomdigi Kembali Panggil Meta dan Google, Kepatuhan PP Tunas DisorotKabar Baik untuk Dapur: Cabai dan Daging Kompak Turun, tapi Bawang Belum IkutWorkshop PPG UNS: 495 Calon Guru Diperkuat Etika Akademik dan Anti KekerasanKerja Lembur Sampai Akhir Pekan, RUU P2SK Ditargetkan Tuntas Minggu DepanDorong Transformasi Pendidikan, 150 Alumni LPDP Diterjunkan ke Wilayah 3TKomdigi Kembali Panggil Meta dan Google, Kepatuhan PP Tunas DisorotKabar Baik untuk Dapur: Cabai dan Daging Kompak Turun, tapi Bawang Belum IkutWorkshop PPG UNS: 495 Calon Guru Diperkuat Etika Akademik dan Anti KekerasanKerja Lembur Sampai Akhir Pekan, RUU P2SK Ditargetkan Tuntas Minggu Depan

Rubrikasi

Informasi

Ikuti Kami

3 April 2026

Cari berita

Fasilitas Kesehatan Iran Kesulitan Tangani Lonjakan Korban Demo Anti-Pemerintah

Poin Penting (3)
  • Rumah sakit Iran kolaps menangani ratusan korban demo: Tiga fasilitas kesehatan kewalahan dengan pasien luka tembak di bagian vital, jenazah menumpuk hingga ruang salat.
  • 26 demonstran tewas termasuk 6 anak-anak: Protes anti-pemerintah meluas ke 100+ kota sejak dua pekan lalu, dipicu kesulitan ekonomi, ratusan terluka dan ditahan.
  • AS ancam respons militer, Trump tawarkan bantuan: Washington peringatkan Iran soal pembunuhan demonstran, pemerintah Iran balas tuding AS picu kekerasan.

Resolusi.co, TEHERAN – Sejumlah rumah sakit di Iran menghadapi situasi darurat akibat membanjirnya korban luka dan tewas dari gelombang demonstrasi anti-pemerintah yang terus berlangsung. Setidaknya tiga fasilitas kesehatan dilaporkan kewalahan menampung pasien dengan berbagai jenis cedera serius.

Tenaga medis yang dihubungi BBC menyebutkan bahwa mereka harus menangani ratusan pasien dengan luka tembak di bagian-bagian vital tubuh. Kondisi ini dipicu oleh aksi unjuk rasa yang kini telah menyebar ke lebih dari 100 kota dan desa di berbagai provinsi Iran.

Demonstrasi yang awalnya dipicu kesulitan ekonomi ini dimulai di Teheran sekitar dua pekan lalu. Sejak itu, situasi terus memburuk dengan jatuhnya ratusan korban jiwa dan luka-luka, sementara banyak demonstran lainnya ditahan pihak berwenang.

“Ada tembakan langsung ke kepala para pemuda, juga ke jantung mereka,” ujar seorang petugas medis di salah satu rumah sakit Teheran.

Seorang dokter lain mengonfirmasi bahwa rumah sakit mata utama di ibu kota telah menetapkan status krisis. Dua tenaga medis yang berbicara kepada BBC menyatakan mereka merawat korban luka dari peluru tajam maupun peluru karet dengan jumlah yang terus bertambah.

Di tengah situasi ini, Amerika Serikat kembali mengeluarkan peringatan keras pada Jumat lalu. Washington mengancam akan membalas dengan respons militer jika pembunuhan terhadap pengunjuk rasa terus terjadi.

Pemerintah Iran merespons dengan menuding Washington telah mengubah aksi damai menjadi tindakan subversif yang penuh kekerasan dan vandalisme. Presiden AS Donald Trump menanggapi melalui media sosial dengan menyatakan kesiapan Amerika membantu Iran.

“Iran sedang melihat kebebasan, mungkin seperti belum pernah terjadi sebelumnya. AS siap membantu!!!” tulis Trump.

BBC Persia telah mengonfirmasi identitas 26 korban tewas, termasuk enam anak di bawah umur. Sementara itu, sedikitnya 14 anggota pasukan keamanan juga dilaporkan tewas dalam rangkaian kerusuhan tersebut menurut organisasi hak asasi manusia.

Verifikasi BBC Persia menunjukkan bahwa 70 jenazah dibawa ke Rumah Sakit Poursina di Rasht pada Jumat malam. Karena kamar jenazah sudah penuh, mayat-mayat tersebut harus dipindahkan ke tempat lain.

Seorang sumber rumah sakit mengungkapkan pihak berwenang meminta keluarga korban membayar sekitar 7 miliar rial untuk dapat membawa pulang jenazah dan melakukan pemakaman. Peliputan dari dalam Iran menjadi sangat terbatas karena BBC dan sebagian besar media internasional tidak dapat meliput langsung dari lokasi.

Pemadaman internet yang hampir total sejak Kamis malam semakin menyulitkan proses verifikasi informasi. Seorang staf rumah sakit di Teheran menggambarkan kondisi yang sangat mengerikan dengan jumlah korban luka yang sangat besar.

“Sekitar 38 orang meninggal. Banyak yang tewas begitu tiba di ruang gawat darurat,” katanya.

Tenaga medis tidak sempat melakukan tindakan penyelamatan dasar seperti CPR karena membludaknya pasien. Keterbatasan ruang membuat jenazah ditumpuk di kamar mayat, bahkan hingga ke ruang salat di rumah sakit.

“Yang meninggal atau terluka sebagian besar anak muda berusia 20 hingga 25 tahun,” ujarnya.

Dokter lain yang menghubungi BBC melalui sambungan satelit Starlink mengatakan Rumah Sakit Farabi, pusat spesialis mata utama di Teheran, telah mengaktifkan mode krisis. Seluruh layanan non-darurat dan operasi elektif ditangguhkan, sementara staf tambahan dipanggil untuk menangani kasus darurat.

Dalam menghadapi demonstrasi, pasukan keamanan Iran diketahui kerap menggunakan senapan yang menembakkan peluru berisi pelet selain peluru karet. Jenis senjata ini berpotensi menyebabkan luka serius hingga kematian pada para demonstran.