Harga Batu Bara Sentuh Rekor Setahun di US$120, China Rapikan Sektor Energi

- Harga batu bara mencetak rekor tertinggi setahun di US$120,1 setelah menguat 3,3% dalam tiga hari beruntun, didorong China yang merapikan sektor energinya
- China Shenhua Energy disetujui mengakuisisi aset US$19 miliar dari induknya untuk meningkatkan kapasitas produksi tahunan menjadi 512 juta ton
- Stok batu bara di pelabuhan utara China menurun karena konsumsi lebih kuat dari pasokan, sementara AS mengalirkan US$175 juta untuk pembangkit listrik batu bara
, China – Harga batu bara terus menanjak hingga mencetak rekor tertinggi setahun.
Pada perdagangan Senin kemarin, harga batu bara ditutup di posisi US$120,1 atau menguat 0,17 persen. Penguatan ini memperpanjang tren positif dengan menguat 3,3 persen selama tiga hari beruntun.
Kenaikan ini membawa harga komoditas hitam tersebut ke rekor tertinggi sejak 6 Januari 2025.
Lonjakan harga terjadi karena China, produsen sekaligus konsumen batu bara terbesar dunia, mulai merapikan sektor batu baranya. Ini dilakukan di tengah tanda-tanda konsumsi yang mulai mencapai puncak.
Regulator menyetujui rencana China Shenhua Energy Co untuk mengakuisisi sekitar US$19 miliar aset dari induknya, China Energy Investment Corp. Aset tersebut mencakup bisnis batu bara ke kimia, pertambangan, pembangkit listrik, serta operasi logistik.
Transaksi ini bertujuan memperdalam integrasi vertikal dan meningkatkan efisiensi rantai pasok. Setelah akuisisi, kapasitas produksi batu bara tahunan Shenhua akan meningkat menjadi 512 juta ton.
Di Amerika Serikat, Presiden Donald Trump mengambil langkah untuk mendukung sektor pembangkit listrik tenaga batu bara yang tengah menurun. Pemerintah mengarahkan US$175 juta dana federal untuk meningkatkan enam pembangkit listrik serta menginstruksikan Departemen Pertahanan untuk membeli listrik dari fasilitas tambahan.
Harga batu bara juga menanjak karena persediaan di China menurun.
Stok batu bara di pelabuhan utara China, termasuk pelabuhan transshipment utama seperti Qinhuangdao, menunjukkan tren penurunan persediaan dalam minggu yang berakhir pada 13 Februari. Penurunan ini terutama karena pengeluaran batu bara yang terus melampaui masuknya pasokan melalui kereta api ke pelabuhan tersebut.
Di beberapa pelabuhan di wilayah utara Laut Bohai, total stok batu bara tercatat lebih rendah secara mingguan. Walaupun ada sedikit variasi harian tergantung arus masuk dan keluar, tren mingguan tetap menunjukkan stok yang menurun.
Kondisi ini mencerminkan bahwa konsumsi dan pengiriman keluar masih kuat relatif terhadap suplai masuk.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: