TODAY'S RECAP
Dorong Transformasi Pendidikan, 150 Alumni LPDP Diterjunkan ke Wilayah 3TKomdigi Kembali Panggil Meta dan Google, Kepatuhan PP Tunas DisorotKabar Baik untuk Dapur: Cabai dan Daging Kompak Turun, tapi Bawang Belum IkutWorkshop PPG UNS: 495 Calon Guru Diperkuat Etika Akademik dan Anti KekerasanKerja Lembur Sampai Akhir Pekan, RUU P2SK Ditargetkan Tuntas Minggu DepanDorong Transformasi Pendidikan, 150 Alumni LPDP Diterjunkan ke Wilayah 3TKomdigi Kembali Panggil Meta dan Google, Kepatuhan PP Tunas DisorotKabar Baik untuk Dapur: Cabai dan Daging Kompak Turun, tapi Bawang Belum IkutWorkshop PPG UNS: 495 Calon Guru Diperkuat Etika Akademik dan Anti KekerasanKerja Lembur Sampai Akhir Pekan, RUU P2SK Ditargetkan Tuntas Minggu DepanDorong Transformasi Pendidikan, 150 Alumni LPDP Diterjunkan ke Wilayah 3TKomdigi Kembali Panggil Meta dan Google, Kepatuhan PP Tunas DisorotKabar Baik untuk Dapur: Cabai dan Daging Kompak Turun, tapi Bawang Belum IkutWorkshop PPG UNS: 495 Calon Guru Diperkuat Etika Akademik dan Anti KekerasanKerja Lembur Sampai Akhir Pekan, RUU P2SK Ditargetkan Tuntas Minggu DepanDorong Transformasi Pendidikan, 150 Alumni LPDP Diterjunkan ke Wilayah 3TKomdigi Kembali Panggil Meta dan Google, Kepatuhan PP Tunas DisorotKabar Baik untuk Dapur: Cabai dan Daging Kompak Turun, tapi Bawang Belum IkutWorkshop PPG UNS: 495 Calon Guru Diperkuat Etika Akademik dan Anti KekerasanKerja Lembur Sampai Akhir Pekan, RUU P2SK Ditargetkan Tuntas Minggu Depan

Rubrikasi

Informasi

Ikuti Kami

3 April 2026

Cari berita

Harga Bitcoin Kembali Menembus US$90 Ribu, Investor Optimistis Jelang Pemangkasan Suku Bunga Fed B

Poin Penting (3)
  • Bitcoin menguat 0,97 persen ke level US$90.352 pada Senin pagi (8/12/2025) setelah sempat anjlok 17 persen di November, didorong ekspektasi pemangkasan suku bunga Fed 25 basis poin dengan peluang 87,2 persen.
  • Pasar masih berhati-hati dengan net outflows ETF Bitcoin US$3,48 miliar pada November, sementara support kritis berada di US$80.400 dan resistance di US$97.100 untuk menentukan arah pergerakan.
  • Institusi besar mulai meningkatkan eksposur ke Bitcoin dengan Vanguard mencabut larangan ETF Bitcoin dan Sovereign Wealth Fund berbagai negara menambah kepemilikan sebagai diversifikasi aset.

Resolusi.co, JAKARTA – Harga Bitcoin mengawali pekan pertama Desember dengan penguatan signifikan setelah sempat tertekan di akhir November 2025. Mata uang kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar ini mencatatkan kenaikan 0,97 persen pada perdagangan Senin (8/12/2025) pagi, bertengger di level US$90.352 per koin.

Berdasarkan data Coinmarketcap yang dipantau pukul 08.00 WIB, Bitcoin menguat 1,14 persen dalam 24 jam terakhir menjadi senilai US$90.275,45 per koin atau setara Rp1,50 miliar dengan asumsi kurs Rp16.650 per dolar Amerika Serikat. Penguatan ini menjadi sinyal positif setelah Bitcoin mengalami penurunan tajam lebih dari 17 persen sepanjang November 2025.

Kapitalisasi pasar kripto secara keseluruhan pada Senin pagi berada di level US$3,06 triliun atau setara Rp50.949 triliun, naik 0,53 persen dalam 24 jam terakhir. Ethereum, mata uang kripto terbesar kedua, turut mengalami penguatan dengan kenaikan lebih dari 6 persen dalam sehari terakhir.

Penguatan Bitcoin di awal Desember ini tidak lepas dari meningkatnya ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve Amerika Serikat. Data CME FedWatch menunjukkan peluang 87,2 persen untuk penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan 10 Desember mendatang, naik dari 63 persen sebulan lalu.

Analis pasar menilai bahwa sentimen positif juga datang dari keputusan Vanguard, salah satu pengelola aset terbesar di dunia, untuk mencabut larangan pembelian Exchange Traded Fund Bitcoin yang telah lama berlaku. Langkah ini membuka akses lebih luas bagi investor institusional untuk masuk ke pasar kripto.

“Pergeseran kebijakan Vanguard ini sangat signifikan. Ini menunjukkan bahwa institusi besar mulai mengakui Bitcoin sebagai kelas aset yang legitimate,” ujar seorang analis dari platform perdagangan kripto, Senin (8/12/2025).

Namun, perjalanan Bitcoin di Desember 2025 masih diwarnai ketidakpastian. Secara historis, Desember bukanlah bulan yang sangat kuat bagi Bitcoin. Data menunjukkan rata-rata pengembalian jangka panjang hanya 8,42 persen, dengan median pengembalian 1,69 persen. Empat tahun terakhir juga menunjukkan hasil yang beragam, dengan tiga di antaranya mencatatkan bulan Desember yang negatif.

Hunter Rogers, Co-Founder TeraHash, memproyeksikan bahwa Desember akan menjadi bulan yang relatif tenang tanpa volatilitas ekstrem.

“Saya tidak mengharapkan Desember yang sangat volatil—tidak ada lonjakan besar maupun penurunan besar. Bulan yang lebih tenang dengan gerakan naik yang lambat terlihat lebih realistis. Ini terasa seperti fase perbaikan,” kata Rogers.

Kehati-hatian pasar tercermin dari data aliran dana Exchange-Traded Fund sepanjang November yang mencatat total net outflows sebesar US$3,48 miliar di seluruh ETF spot Amerika Serikat. Ahli Analisis Utama MEXC, Shawn Young, menegaskan bahwa permintaan ETF yang lebih kuat dan konsisten sangat penting sebelum rebound yang berarti dapat dimulai.

Dari sisi teknikal, Bitcoin saat ini berada di antara dua area penting yang menentukan arah pergerakan harga. Support kritis berada di zona US$80.400, yang sempat menjadi titik pantulan pada awal November. Jika Bitcoin menembus support tersebut, pasar dinilai membuka potensi retest lebih dalam hingga area US$66.800.

Sementara itu, momentum bullish baru berpotensi terbentuk jika Bitcoin mampu merebut kembali level US$97.100. Penutupan harian di atas zona tersebut akan membatalkan struktur bearish dan membuka peluang menuju resistance berikutnya di kisaran US$101.600.

Sean McNulty, APAC Derivatives Trading Lead FalconX, mengidentifikasi bahwa kekhawatiran terbesar pasar saat ini adalah minimnya arus masuk ke ETF Bitcoin dan tidak adanya pembeli yang melakukan pembelian dalam kondisi turun atau “buy the dip”.

“Ini adalah awal Desember yang menghindari risiko. Pasar masih menunggu katalis yang lebih kuat untuk memicu pembelian agresif,” ungkap McNulty.

Di tengah fluktuasi harga, pasar kripto juga menghadapi tantangan keamanan yang semakin kompleks. Platform analisis on-chain Chainalysis dalam pembaruan pertengahan tahun 2025 mencatat bahwa lebih dari US$2,17 miliar atau Rp36,03 triliun telah dicuri dari layanan kripto hingga Juni 2025, naik 17 persen secara year-to-date dibandingkan tahun 2022.

CEO Ripple, Brad Garlinghouse, pada 2 Desember lalu mengingatkan komunitas perdagangan untuk tetap waspada menjelang Natal. Ia membahas inisiatif keamanan baru bernama Strawberry Pie yang bertujuan membantu melindungi pedagang dari penipuan online.

“Kejahatan kripto tidak lagi terbatas pada serangan virtual. Serangan kekerasan fisik juga meningkat selama periode reli pasar,” ungkap laporan Chainalysis.

Meski demikian, proyeksi jangka panjang untuk Bitcoin masih cenderung optimistis. Beberapa analis memperkirakan bahwa jika momentum pemulihan berlanjut dan didukung oleh kebijakan moneter yang lebih longgar dari Federal Reserve, Bitcoin berpotensi menembus level US$100.000 pada kuartal pertama 2026.

Larry Fink, CEO BlackRock, salah satu pengelola aset terbesar di dunia, menyebut bahwa Sovereign Wealth Fund atau dana investasi pemerintah dari berbagai negara terus meningkatkan kepemilikan Bitcoin sebagai bagian dari diversifikasi aset.

Fenomena ini menunjukkan bahwa meski pasar ritel masih berhati-hati, institusi besar mulai melihat Bitcoin sebagai alternatif investasi jangka panjang, terutama sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian ekonomi global.

Turkmenistan menjadi salah satu negara yang mengambil langkah progresif dengan mengesahkan undang-undang yang melegalkan dan mengatur aset digital termasuk lisensi untuk bursa kripto dan perusahaan penambangan kripto. Undang-undang ini akan mulai berlaku pada 1 Januari 2026.

Kazakhstan juga mengambil strategi serupa dengan memasukkan kripto sebagai bagian dari portofolio investasi negara, terinspirasi dari negara-negara seperti Norwegia, Amerika Serikat, dan kawasan Timur Tengah yang sudah lebih dulu mengadopsi kripto dalam strategi investasi mereka.

Para investor diimbau untuk tetap berhati-hati dan melakukan analisis mendalam sebelum mengambil keputusan investasi. Volatilitas tinggi yang melekat pada aset kripto memerlukan manajemen risiko yang ketat dan pemahaman yang baik tentang dinamika pasar.

Dengan kombinasi faktor makroekonomi, sentimen institusional, dan kondisi teknikal yang kompleks, pergerakan Bitcoin di Desember 2025 akan menjadi indikator penting untuk arah pasar kripto pada tahun mendatang.