TODAY'S RECAP
Dorong Transformasi Pendidikan, 150 Alumni LPDP Diterjunkan ke Wilayah 3TKomdigi Kembali Panggil Meta dan Google, Kepatuhan PP Tunas DisorotKabar Baik untuk Dapur: Cabai dan Daging Kompak Turun, tapi Bawang Belum IkutWorkshop PPG UNS: 495 Calon Guru Diperkuat Etika Akademik dan Anti KekerasanKerja Lembur Sampai Akhir Pekan, RUU P2SK Ditargetkan Tuntas Minggu DepanDorong Transformasi Pendidikan, 150 Alumni LPDP Diterjunkan ke Wilayah 3TKomdigi Kembali Panggil Meta dan Google, Kepatuhan PP Tunas DisorotKabar Baik untuk Dapur: Cabai dan Daging Kompak Turun, tapi Bawang Belum IkutWorkshop PPG UNS: 495 Calon Guru Diperkuat Etika Akademik dan Anti KekerasanKerja Lembur Sampai Akhir Pekan, RUU P2SK Ditargetkan Tuntas Minggu DepanDorong Transformasi Pendidikan, 150 Alumni LPDP Diterjunkan ke Wilayah 3TKomdigi Kembali Panggil Meta dan Google, Kepatuhan PP Tunas DisorotKabar Baik untuk Dapur: Cabai dan Daging Kompak Turun, tapi Bawang Belum IkutWorkshop PPG UNS: 495 Calon Guru Diperkuat Etika Akademik dan Anti KekerasanKerja Lembur Sampai Akhir Pekan, RUU P2SK Ditargetkan Tuntas Minggu DepanDorong Transformasi Pendidikan, 150 Alumni LPDP Diterjunkan ke Wilayah 3TKomdigi Kembali Panggil Meta dan Google, Kepatuhan PP Tunas DisorotKabar Baik untuk Dapur: Cabai dan Daging Kompak Turun, tapi Bawang Belum IkutWorkshop PPG UNS: 495 Calon Guru Diperkuat Etika Akademik dan Anti KekerasanKerja Lembur Sampai Akhir Pekan, RUU P2SK Ditargetkan Tuntas Minggu Depan

Rubrikasi

Informasi

Ikuti Kami

3 April 2026

Cari berita

Jemaah Haji Indonesia Bakal Makan Nasi dari Beras Lokal, Ini Target Pemerintah

Poin Penting (3)
  • Indonesia menargetkan ekspor 3.913 ton beras ke Arab Saudi untuk memenuhi kebutuhan konsumsi 205.420 jemaah dan petugas haji pada musim 1447 H/2026 M.
  • Kementerian Haji dan Umrah, Perum Bulog, dan Kementerian Pertanian sepakat bekerja sama untuk mewujudkan kemandirian pangan dalam penyelenggaraan ibadah haji.
  • Tantangan utama adalah daya saing harga beras Indonesia yang masih lebih tinggi dibandingkan negara pesaing, sehingga diperlukan dukungan kebijakan khusus.

Resolusi.co, JAKARTA – Kementerian Haji dan Umrah bergerak untuk memastikan konsumsi jemaah haji Indonesia di Arab Saudi menggunakan beras produksi dalam negeri. Langkah ini ditempuh untuk memperkuat ekosistem ekonomi haji nasional.

Direktur Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah Jaenal Effendi mengatakan, pihaknya mengadakan rapat koordinasi bersama Perum Bulog dan Kementerian Pertanian pada Senin.

Tujuannya, mewujudkan kemandirian pangan dalam penyelenggaraan ibadah haji.

“Pemenuhan konsumsi jemaah haji tidak dapat dilakukan secara parsial. Diperlukan sinergi yang kuat dengan kementerian dan lembaga terkait agar kebijakan yang disusun selaras dan rantai pasok pangan haji dapat diperkuat,” kata Jaenal.

Proyeksi kebutuhan beras untuk musim haji 1447 H/2026 M mencapai 3.913 ton. Angka ini dihitung berdasarkan jumlah 205.420 jemaah dan petugas haji yang akan berangkat tahun ini.

Asumsi konsumsi yang digunakan adalah 150 gram per porsi untuk 127 kali makan selama masa operasional haji.

Komitmen bersama disepakati oleh sejumlah pihak untuk mengupayakan pemanfaatan beras nasional. Bulog akan menghitung total kebutuhan beras dan menyiapkan pasokan sesuai standar kualitas yang ditetapkan.

Standar yang diminta adalah beras premium dengan tingkat pecahan maksimal 5 persen.

Sementara Kementerian Pertanian bakal memberikan dukungan dari sisi regulasi. Tujuannya memperlancar proses ekspor beras ke Arab Saudi.

Jaenal menyebut ada tantangan dalam upaya ini. Harga beras premium dari sejumlah negara pesaing masih lebih murah dibandingkan beras Indonesia.

Diperlukan dukungan dan fasilitasi kebijakan agar produk nasional dapat bersaing di pasar konsumsi haji.

Direktur Fasilitasi Kemitraan Kemenhaj Tri Hidayatno melihat langkah ini sebagai upaya membangun warisan baru. Menurutnya, perputaran ekonomi haji yang nilainya sangat besar seharusnya bisa dirasakan langsung oleh pelaku usaha di dalam negeri.

“Melalui sinergi ini, kami menjembatani agar perputaran ekonomi haji dapat dirasakan langsung oleh pelaku usaha dan produsen di tanah air,” katanya.

Kondisi swasembada beras saat ini disebut sebagai momentum emas. Selama ini, tantangan utama penggunaan beras lokal adalah harga yang kurang kompetitif.

Ditjen Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah optimistis bahwa musim haji mendatang bisa menjadi titik awal. Jemaah haji Indonesia akan menikmati nasi dari beras yang ditanam petani Indonesia sendiri.