TODAY'S RECAP
Dorong Transformasi Pendidikan, 150 Alumni LPDP Diterjunkan ke Wilayah 3TKomdigi Kembali Panggil Meta dan Google, Kepatuhan PP Tunas DisorotKabar Baik untuk Dapur: Cabai dan Daging Kompak Turun, tapi Bawang Belum IkutWorkshop PPG UNS: 495 Calon Guru Diperkuat Etika Akademik dan Anti KekerasanKerja Lembur Sampai Akhir Pekan, RUU P2SK Ditargetkan Tuntas Minggu DepanDorong Transformasi Pendidikan, 150 Alumni LPDP Diterjunkan ke Wilayah 3TKomdigi Kembali Panggil Meta dan Google, Kepatuhan PP Tunas DisorotKabar Baik untuk Dapur: Cabai dan Daging Kompak Turun, tapi Bawang Belum IkutWorkshop PPG UNS: 495 Calon Guru Diperkuat Etika Akademik dan Anti KekerasanKerja Lembur Sampai Akhir Pekan, RUU P2SK Ditargetkan Tuntas Minggu DepanDorong Transformasi Pendidikan, 150 Alumni LPDP Diterjunkan ke Wilayah 3TKomdigi Kembali Panggil Meta dan Google, Kepatuhan PP Tunas DisorotKabar Baik untuk Dapur: Cabai dan Daging Kompak Turun, tapi Bawang Belum IkutWorkshop PPG UNS: 495 Calon Guru Diperkuat Etika Akademik dan Anti KekerasanKerja Lembur Sampai Akhir Pekan, RUU P2SK Ditargetkan Tuntas Minggu DepanDorong Transformasi Pendidikan, 150 Alumni LPDP Diterjunkan ke Wilayah 3TKomdigi Kembali Panggil Meta dan Google, Kepatuhan PP Tunas DisorotKabar Baik untuk Dapur: Cabai dan Daging Kompak Turun, tapi Bawang Belum IkutWorkshop PPG UNS: 495 Calon Guru Diperkuat Etika Akademik dan Anti KekerasanKerja Lembur Sampai Akhir Pekan, RUU P2SK Ditargetkan Tuntas Minggu Depan

Rubrikasi

Informasi

Ikuti Kami

3 April 2026

Cari berita

Ketegangan AS-Iran Memanas, Trump Ancam Intervensi Jika Demonstran Ditembak

Poin Penting (3)
  • Trump dan pejabat Iran saling mengancam di tengah protes yang menewaskan tujuh orang, dengan Trump mengancam intervensi AS jika demonstran ditembak dan Tehran memperingatkan hal itu akan memicu kekacauan regional.
  • Protes dimulai karena krisis ekonomi dengan rial Iran anjlok ke 1,4 juta per dolar AS, namun berkembang menjadi seruan anti-pemerintah yang menyebar ke lebih dari 50 kota, menjadikannya protes terbesar sejak kematian Mahsa Amini pada 2022.
  • Dukungan terbuka Trump kepada demonstran menandai pergeseran kebijakan AS yang sebelumnya menghindari dukungan eksplisit, dengan para ahli memperingatkan risiko memperkuat narasi Tehran bahwa protes dikendalikan dari luar.

Resolusi.co, WASHINGTON – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas pada Jumat (2/1/2026) setelah Presiden Donald Trump dan sejumlah pejabat tinggi Tehran saling melontarkan ancaman. Pernyataan keras ini muncul di tengah gelombang protes yang semakin meluas di wilayah Republik Islam, menewaskan sedikitnya tujuh orang dan memicu bentrokan antara demonstran dengan pasukan keamanan.

Aksi protes yang kini memasuki hari keenam dipicu oleh anjloknya nilai tukar mata uang rial Iran dan krisis ekonomi berkepanjangan. Namun, tuntutan demonstran telah berevolusi dari persoalan ekonomi menjadi seruan-seruan bernada anti-pemerintah yang keras, menjadikan protes ini yang terbesar sejak kematian Mahsa Amini pada 2022.

Trump memulai perang kata-kata melalui platform Truth Social miliknya. Presiden AS mengancam akan turun tangan jika pemerintah Iran membunuh para demonstran secara brutal.

“Kami berada dalam kondisi siaga penuh.”

Pernyataan singkat namun tegas tersebut tidak disertai penjelasan rinci mengenai bentuk intervensi yang dimaksud. Namun, ancaman Trump menandai dukungan langsung Washington terhadap para demonstran, suatu langkah yang selama ini dihindari presiden-presiden AS sebelumnya karena khawatir aktivis Iran akan dituduh bekerja sama dengan Barat.

Respons dari Tehran tidak membutuhkan waktu lama. Ali Larijani, sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran yang juga mantan ketua parlemen, langsung menuduh Israel dan AS sebagai dalang di balik demonstrasi. Tuduhan ini disampaikan melalui platform X tanpa menyertakan bukti pendukung.

“Trump harus tahu bahwa campur tangan AS dalam masalah domestik akan berujung pada kekacauan di seluruh kawasan dan kehancuran kepentingan AS. Rakyat AS harus tahu bahwa Trump memulai petualangan ini. Mereka seharusnya memikirkan keselamatan prajurit mereka sendiri.”

Ancaman Larijani tampaknya merujuk pada kehadiran militer AS yang signifikan di Timur Tengah. Pada Juni lalu, Iran pernah menyerang Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar sebagai respons terhadap serangan AS pada tiga fasilitas nuklir Iran selama konflik bersenjata 12 hari antara Israel dan Iran.

Ali Shamkhani, penasihat Pemimpin Tertinggi Ayatullah Ali Khamenei, turut mempertajam ancaman. Ia memperingatkan bahwa setiap bentuk intervensi yang mengancam keamanan Iran akan direspons tegas.

Shamkhani menyinggung pengalaman Irak, Afghanistan, dan Gaza sebagai contoh konsekuensi dari “penyelamatan” oleh AS. Ketua parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf bahkan menyatakan seluruh pangkalan militer dan pasukan AS akan dianggap sebagai target yang sah.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei menanggapi Trump dengan mengingatkan sejumlah peristiwa historis yang menjadi tuduhan lama Tehran terhadap Washington. Ia menyebut kudeta yang didukung CIA pada 1953, penembakan jatuh pesawat penumpang Iran pada 1988, serta keterlibatan AS dalam perang Juni lalu.

Gelombang protes terbaru ini dimulai pada akhir pekan lalu ketika para pemilik toko di Tehran mogok kerja sebagai bentuk protes terhadap kondisi ekonomi yang memburuk. Nilai tukar rial Iran merosot tajam, di mana satu dolar AS kini bernilai sekitar 1,4 juta rial anjlok drastis dari 1,38 juta rial hanya dalam dua hari.

Sebagai negara yang sangat bergantung pada impor, kejatuhan mata uang ini melumpuhkan aktivitas perdagangan. Yang menarik, demonstrasi awal justru dipimpin kalangan pebisnis dan pedagang. Sebuah fenomena relatif jarang di Iran menandakan krisis telah menghantam kelas menengah ekonomi.

Dalam hitungan hari, tuntutan ekonomi bertransformasi menjadi seruan politik radikal. Di berbagai kota, massa meneriakkan slogan anti-pemerintah dan menyebut nama Ayatullah Ali Khamenei secara terbuka. Dukungan terhadap Reza Pahlavi, putra mahkota terakhir Iran sebelum Revolusi Islam 1979, juga semakin lantang disuarakan.

Eskalasi signifikan terjadi pada 1 Januari di Kota Fasa, Iran selatan. Massa demonstran menyerbu kantor gubernur dan berhasil masuk secara paksa. Dalam peristiwa ini, Garda Revolusi Iran dilaporkan menolak perintah untuk melepaskan tembakan, sebuah perkembangan mengejutkan yang mencerminkan retaknya loyalitas internal.

Video yang beredar luas memperlihatkan pengunjuk rasa merebut perisai dan perlengkapan keamanan dari aparat, simbol kuat bahwa momentum protes semakin tidak terkendali. Protes juga menyebar ke Qom, kota suci yang selama ini dianggap sebagai jantung ideologis kekuasaan teokrasi Iran.

Pemerintah sipil di bawah Presiden Masoud Pezeshkian berupaya memberi sinyal negosiasi dengan demonstran. Pezeshkian mengakui pemerintah bertanggung jawab atas krisis ekonomi dan mendesak para pejabat untuk tidak menyalahkan aktor eksternal.

Namun, presiden Iran ini mengakui keterbatasannya dalam menangani krisis rial yang merosot tajam. Dalam beberapa bulan terakhir sejak konflik Juni, pemerintah di Tehran mengalami kesulitan besar menopang perekonomian negara.

Sebagai upaya meredakan tekanan, Iran baru-baru ini menyatakan tidak lagi memperkaya uranium di lokasi mana pun di dalam negeri. Pernyataan ini dimaksudkan sebagai sinyal kepada Barat bahwa Tehran terbuka terhadap perundingan mengenai program nuklir guna melonggarkan sanksi.

Namun hingga kini, perundingan tersebut belum terwujud. Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu justru memperingatkan Tehran agar tidak membangun kembali program nuklirnya.

Dukungan terbuka Trump terhadap demonstran menimbulkan perdebatan. Naysan Rafati, analis dari International Crisis Group, menilai langkah ini mengandung risiko tinggi.

“Meski keluhan yang memicu protes ini bersumber dari kebijakan pemerintah Iran sendiri, otoritas kemungkinan akan menggunakan pernyataan Presiden Trump sebagai bukti bahwa keresahan ini digerakkan oleh aktor eksternal. Namun jika hal itu dijadikan pembenaran untuk melakukan penindasan yang lebih brutal, langkah tersebut justru berisiko mengundang keterlibatan AS, sebagaimana telah disinggung oleh Trump.”

Presiden Barack Obama pernah menahan diri untuk tidak secara terbuka mendukung protes Gerakan Hijau Iran pada 2009. Ia kemudian mengakui pada 2022 bahwa sikap tersebut merupakan sebuah kesalahan.

Pernyataan Trump menandai pergeseran signifikan dari kebijakan AS sebelumnya yang lebih berhati-hati. Namun, ahli memperingatkan bahwa dukungan eksplisit dari Gedung Putih tetap mengandung risiko memperkuat narasi Tehran bahwa protes dikendalikan dari luar.

Protes berlanjut pada hari Jumat di berbagai kota, termasuk Zahedan di Provinsi Sistan dan Baluchestan yang rawan, di perbatasan dengan Pakistan. Pemakaman beberapa demonstran yang tewas memicu pawai dan aksi lanjutan di sejumlah wilayah.

Ekonomi Iran telah terpuruk sejak AS menarik diri dari kesepakatan nuklir pada 2018 dan memberlakukan kembali sanksi. Inflasi mencapai 40 persen, dan serangan udara Israel serta AS pada Juni terhadap infrastruktur nuklir dan kepemimpinan militer Iran semakin memperparah kondisi.

Gelombang protes kali ini belum meluas secara nasional dan intensitasnya belum menyamai demonstrasi pascakematian Mahsa Amini. Namun, momentum yang terus berkembang dan respons keras dari kedua belah pihak menandakan situasi berpotensi semakin memburuk di tengah kebuntuan diplomatik antara Washington dan Tehran.