Korban Banjir dan Longsor Sumatera Terus Bertambah, BNPB Catat 593 Meninggal dan 468 Hilang

- BNPB catat 593 orang meninggal dan 468 hilang akibat banjir-longsor Sumatera, dengan 2.600 luka dan 1,5 juta terdampak.
- Kerusakan infrastruktur masif: 3.500 rumah rusak berat, 271 jembatan, dan 282 fasilitas pendidikan terdampak.
- Kementan catat 27.000 hektare sawah terendam, 385 hektare puso, pemerintah siapkan bantuan benih gratis untuk petani.
, JAKARTA – Jumlah korban akibat banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera kembali bertambah. Badan Nasional Penanggulangan Bencana melaporkan 593 orang meninggal dunia dan 468 lainnya masih hilang berdasarkan pembaruan data per Senin (1/12/2025) petang.
Data tersebut diperbarui secara berkala melalui Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Bencana BNPB. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menyampaikan bahwa data yang ditampilkan bersifat live dan ter-update secara langsung.
“Data yang tampil data ter-update,” ujar Abdul Muhari kepada wartawan.
Berdasarkan data BNPB, rincian korban jiwa di Aceh sebanyak 156 orang meninggal dunia, 181 orang hilang, dan 1.800 orang mengalami luka-luka. Provinsi ini menjadi salah satu daerah yang paling terdampak bencana hidrometeorologi.
Kemudian di Sumatera Barat tercatat 165 orang meninggal dunia, 114 jiwa hilang, dan 112 orang mengalami luka-luka. Sementara di Sumatera Utara, jumlah korban meninggal mencapai 272 orang, 172 orang hilang, dan 613 orang mengalami luka-luka.
Selain korban jiwa, bencana ini juga menimbulkan dampak masif terhadap kehidupan masyarakat. Data BNPB mencatat sebanyak 2.600 orang mengalami luka-luka dan sekitar 1,5 juta orang terdampak bencana. Jumlah pengungsi mencapai 578 ribu orang yang tersebar di berbagai titik pengungsian.
Bencana ini juga memicu kerusakan masif pada infrastruktur dan permukiman. BNPB melaporkan 3.500 rumah rusak berat, 4.100 rumah rusak sedang, dan 20.500 rumah rusak ringan. Sementara itu, 271 jembatan serta 282 fasilitas pendidikan turut terdampak.
Tidak hanya infrastruktur, sektor pertanian juga mengalami kerugian besar. Kementerian Pertanian mencatat sebanyak 27.000 hektare lahan sawah terendam banjir di tiga provinsi, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Dari jumlah tersebut, sekitar 385 hektare sawah mengalami kerusakan parah atau puso. Hal ini disampaikan Sekretaris Jenderal Kementan, Suwandi, dalam rapat koordinasi inflasi di Kementerian Dalam Negeri, Jakarta Pusat, pada Senin (1/12/2025).
Data tersebut diperoleh melalui pemantauan tim yang dipimpin oleh Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman yang telah turun langsung ke lapangan.
“Bapak Menteri mengidentifikasi tim sudah turunkan ke 3 provinsi, sudah ketemu yang kena banjir 27.000 hektare padi, yang puso 385 hektare, sebagian ada jagung 200 hektare untuk jagung,” ujar Suwandi.
Untuk mengatasi dampak bencana terhadap pertanian, Kementerian Pertanian telah menyiapkan sejumlah langkah strategis. Langkah-langkah tersebut meliputi pembentukan brigade antisipasi, mitigasi, dan adaptasi bencana, memperkuat sistem irigasi dan pengolahan air, serta memperbaiki drainase yang rusak.
Selain itu, Kementan juga akan memanfaatkan benih padi yang tahan genangan, melakukan penanganan serangan hama dan penyakit tanaman, serta memberikan penyuluhan kepada petani tentang adaptasi iklim. Pemerintah juga akan memberikan bantuan benih gratis untuk petani terdampak.
“Intinya masing-masing daerah mesti mapping daerah-daerah banjir. Penting benih yang tahan genangan karena banyak angin juga, kemudian serangan hama penyakit. Yang terakhir, membantu bantuan benih gratis,” pungkas Suwandi.
Peningkatan jumlah korban ini terjadi seiring dengan perluasan operasi pencarian dan penyelamatan ke wilayah-wilayah yang sebelumnya sulit dijangkau. Tim gabungan BNPB, TNI/Polri, Basarnas, kementerian/lembaga, serta pemerintah daerah terus bekerja mempercepat operasi pencarian, pertolongan, distribusi logistik, dan pembukaan akses wilayah terdampak.
Pemerintah terus mengerahkan seluruh sumber daya untuk mempercepat proses evakuasi, memastikan pemenuhan kebutuhan dasar korban, dan membuka akses ke wilayah yang masih terisolasi. Bantuan logistik terus mengalir dari pemerintah maupun lembaga non-pemerintah untuk membantu masyarakat terdampak.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: