Mengerikan, Politisi Kolombia Diculik dan Presiden Nyaris Dibunuh Jelang Pemilu

- Senator Kolombia Aida Quilcue diculik di wilayah Cauca dan berhasil diselamatkan oleh masyarakat adat, sementara Presiden Gustavo Petro mengklaim lolos dari upaya pembunuhan
- Presiden Petro mengatakan helikopternya tidak bisa mendarat di pantai Karibia karena ancaman penembakan dan terpaksa terbang ke laut lepas selama empat jam
- Kekerasan politik meningkat menjelang pemilu legislatif 8 Maret dan pemilihan presiden 31 Mei, dengan lebih dari 300 kotamadya berisiko mengalami kekerasan
, BOGOTA – Kekerasan politik merebak di Kolombia menjelang pemilu. Seorang senator baru diselamatkan dari penculikan, sementara Presiden Gustavo Petro mengklaim lolos dari upaya pembunuhan.
Senator Aida Quilcue, aktivis masyarakat adat dan penerima penghargaan hak asasi manusia, diculik orang tak dikenal di Cauca pada Selasa kemarin. Wilayah penghasil koka ini dikuasai kelompok bekas pemberontak Angkatan Bersenjata Revolusioner Kolombia (FARC).
Kendaraan yang ditumpangi Quilcue bersama dua pengawal ditemukan terbengkalai. Wanita berusia 53 tahun itu kemudian diselamatkan oleh sekelompok masyarakat adat.
“Saya baik-baik saja sekarang,” kata Quilcue sambil menangis dalam video yang diunggah Menteri Pertahanan Pedro Sanchez.
Video itu menunjukkan Quilcue dimasukkan ke kendaraan lapis baja oleh anggota unit anti-penculikan militer Kolombia.
Penculikan tersebut memicu reaksi keras Presiden Petro. Ia memperingatkan para penculik untuk membebaskan Quilcue atau melanggar “garis merah.”
Di kesempatan yang sama, Petro mengklaim dirinya juga menjadi target pembunuhan. Ia mengatakan sudah berbulan-bulan mendapat peringatan soal rencana tersebut.
“Pada Senin malam, helikopter Presiden tidak dapat mendarat di tujuannya di pantai Karibia karena kekhawatiran bahwa orang-orang yang tidak disebutkan namanya akan menembakinya,” lapor Petro.
“Kami menuju ke laut lepas selama empat jam dan saya tiba di suatu tempat yang seharusnya tidak kami tuju, lolos dari upaya pembunuhan,” ujarnya merujuk geng narkoba.
Kolombia tengah dilanda konflik kompleks. Lebih dari seperempat juta orang tewas selama enam dekade konflik bersenjata yang melibatkan gerilyawan sayap kiri, paramiliter sayap kanan, pengedar narkoba, dan militer.
Kekerasan sempat menurun drastis setelah FARC menyetujui kesepakatan damai pada 2016. Namun, pembangkang FARC yang menolak kesepakatan itu terus melawan kelompok lain untuk menguasai perdagangan kokain di negara produsen terbesar dunia tersebut.
Kekerasan kembali meningkat menjelang pemilu. Kolombia dijadwalkan mengadakan pemilihan legislatif pada 8 Maret dan pemilihan presiden pada 31 Mei, dengan putaran kedua pada Juni jika diperlukan.
Minggu lalu, sebuah kelompok pengamat mengatakan lebih dari 300 kotamadya berisiko mengalami kekerasan karena pemilu. Ini mencakup sepertiga wilayah nasional.
Akhir Januari, pria bersenjata membunuh dua pengawal seorang senator dalam serangan terhadap konvoinya di wilayah Arauca dekat Venezuela. Senator tersebut tidak berada di dalam mobil.
Petro sendiri telah lama mengklaim kelompok perdagangan narkoba mengincar nyawanya sejak ia menjabat pada Agustus 2022. Ia melaporkan upaya pembunuhan lain terhadap dirinya pada 2024.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: