Menteri Keuangan, Gubernur BI, dan Mensesneg Gelar Rapat Koordinasi Bahas Stabilitas Rupiah

- Menkeu Purbaya, Gubernur BI Perry Warjiyo, dan Mensesneg Prasetyo Hadi gelar pertemuan di Wisma Negara untuk sinkronisasi kebijakan fiskal dan moneter demi stabilitas rupiah
- Purbaya menegaskan tidak ada kebijakan khusus dari sisi fiskal untuk menopang rupiah karena nilai tukar merupakan tanggung jawab penuh bank sentral
- Rupiah dibuka melemah 0,01% ke Rp16.957 per dolar AS pada perdagangan Rabu pagi menjelang pengumuman hasil RDG Bank Indonesia
, JAKARTA – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, dan Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengadakan pertemuan di Wisma Negara, Jakarta, pada Rabu (21/1/2026). Pertemuan ini digelar di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang terus bergejolak.
Agenda utama pertemuan tersebut adalah menyelaraskan kebijakan fiskal dan moneter untuk menjaga kestabilan ekonomi nasional, khususnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
“Bahas macam-macam, biasa diskusi. Tadi kan ada gubernur BI kan kita lakukan sinkronisasi kebijakan, saya akan membenahi fiskal dan perekonomian pak Gubernur BI akan memastikan mengambil langkah yang perlu untuk menjaga nilai tukar,” ujar Purbaya.
Menkeu menjelaskan bahwa diskusi berlangsung dalam suasana informal dan bersifat koordinatif antar lembaga. Menurutnya, fokus pembicaraan ada pada tugas masing-masing institusi untuk menjaga stabilitas ekonomi.
“Kami fokus di pekerjaan kami, dan saya kira pak Gubernur sudah melakukan langkah yang tepat untuk melakukan apa yang perlu untuk dilakukan untuk menjaga stabilitas. Saya pikir dia akan mengendalikan hal itu dengan baik. Enggak ada masalah lagi,” katanya.
Ketika ditanya mengenai kemungkinan kebijakan khusus dari Kementerian Keuangan untuk menopang rupiah, Purbaya menegaskan tidak ada perlakuan istimewa dari sisi fiskal. Ia menyatakan bahwa pengelolaan nilai tukar merupakan tanggung jawab bank sentral sepenuhnya.
“Enggak. Rupiah adalah tugas dari bank sentral, dan saya percaya bank indonesia akan mengambil langkah tepat untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah,” katanya.
Purbaya juga memastikan tidak ada instruksi atau arahan khusus dari Menteri Sekretaris Negara dalam pertemuan tersebut. Pertemuan lebih bersifat konsolidasi dan koordinasi rutin antar pejabat tinggi negara.
“Enggak ada. Yang penting konsolidasi juga supaya kami sering ketemu juga, supaya lebih erat,” ujarnya.
Menkeu menambahkan bahwa pertemuan berlangsung santai tanpa format formal yang kaku. Diskusi dilakukan sambil sarapan tanpa ada yang memimpin secara khusus.
“Kan kalau tadi pagi diskusi biasa, di meja makan, enggak ada yang mimpin cuma gitu aja tuk-tak-tik-tuk,” kata Purbaya.
Selain tiga pejabat tinggi tersebut, pertemuan juga dihadiri oleh perwakilan Bank Indonesia dan anggota DPR untuk memperluas koordinasi kebijakan.
“BI saya dan juga ada anggota DPR di situ,” tandas Purbaya.
Pada perdagangan Rabu pagi, nilai tukar rupiah kembali tertekan terhadap dolar AS menjelang pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia. Berdasarkan data Bloomberg pukul 09.04 WIB, rupiah dibuka melemah 0,01 persen ke level Rp16.957 per dolar AS.
Kondisi serupa dialami beberapa mata uang Asia lainnya. Rupee India terkoreksi 0,07 persen, yuan China melemah 0,06 persen, ringgit Malaysia turun 0,05 persen, dan dolar Taiwan terkoreksi 0,07 persen.
Sementara itu, mata uang negara lain justru menguat, seperti yen Jepang naik 0,09 persen, dolar Hong Kong naik 0,02 persen, won Korea menguat 0,51 persen, peso Filipina naik 0,23 persen, dan baht Thailand menguat 0,44 persen.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: