Mojtaba Khamenei Ditunjuk Pimpin Iran, Para Analis Nilai Operasi Militer AS-Israel Gagal Ubah Rezim

- Majelis Ahli Iran menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi baru pada 9 Maret 2026, menggantikan sang ayah yang tewas dalam serangan AS-Israel pada 28 Februari.
- Para analis menyebut operasi militer besar-besaran AS-Israel gagal memicu pergantian rezim, karena Iran tetap dipimpin figur garis keras dari keluarga Khamenei.
- Mojtaba dinilai lebih keras dari ayahnya, dengan prediksi IRGC akan makin berkuasa dan penindasan domestik di Iran semakin parah ke depannya.
, TEHERAN – Majelis Ahli Iran secara resmi menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi baru negara itu pada Senin (9/3), menggantikan sang ayah, Ayatollah Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel sebelas hari sebelumnya.
Penunjukan itu menyimpan ironi yang tajam bagi Washington dan Tel Aviv. Setelah melancarkan operasi militer besar-besaran ke Teheran pada 28 Februari, membeli waktu dengan dua kapal induk, dan membakar triliunan rupiah untuk membunuh para petinggi Iran, hasilnya adalah kursi pemimpin tertinggi berpindah tangan ke putra kandung Khamenei yang dikenal lebih keras dari ayahnya.
“Merupakan penghinaan besar bagi Amerika Serikat untuk melakukan operasi sebesar ini, mengambil risiko sebesar itu, dan akhirnya hanya menewaskan seorang pria berusia 86 tahun untuk kemudian digantikan oleh putranya yang juga berhaluan keras,” ujar Alex Vatanka, peneliti senior di Middle East Institute, kepada Reuters.
Vatanka menilai penunjukan Mojtaba bukan sekadar pergantian kepemimpinan, melainkan sinyal bahwa Iran secara sadar menolak segala kemungkinan kompromi dengan AS. Taktiknya sama, pesannya tegas: konfrontasi tetap menjadi pilihan utama Teheran.
Sebelum pengumuman itu dibuat, Presiden AS Donald Trump sempat meremehkan Mojtaba secara terbuka. Trump memamerkan bahwa ia seharusnya punya andil dalam menentukan siapa yang memimpin Iran.
“Jika dia tidak mendapat persetujuan dari kami, dia tidak akan bertahan lama,” kata Trump kepada ABC News.
Kenyataannya berbeda. Iran mengumumkan pemimpin baru tanpa menggubris pernyataan Trump.
Militer Israel pun sempat memperingatkan siapa pun yang bakal naik menggantikan Khamenei, menyatakan Tel Aviv tidak akan segan menargetkan penerusnya. Ancaman itu terbukti tidak mengubah keputusan Majelis Ahli.
Ini yang membuat para pengamat menyebut operasi AS-Israel ke Iran lebih banyak memperlihatkan keterbatasan kekuatan militer ketimbang keberhasilannya. AS menggelontorkan aset tempur mahal, termasuk rencana pengiriman kapal induk ketiga, sebagian besar hanya untuk mencegat drone Iran yang harganya jauh lebih murah. Sementara penutupan Selat Hormuz oleh Iran membuat harga minyak dunia meroket, membebani ekonomi global.
Sumber regional anonim yang dekat dengan Teheran memberi gambaran lebih suram tentang apa yang akan datang.
“Dunia akan merindukan era ayahnya,” katanya kepada Reuters.
“Mojtaba tidak punya pilihan selain menunjukkan tangan besi. Bahkan jika perang berakhir, akan ada penindasan internal yang parah,” lanjutnya.
Mojtaba memang bukan ulama dengan pangkat tinggi dan selama ini tidak menduduki jabatan resmi di pemerintahan Iran. Namun putra kedua Khamenei itu dikenal punya akar kuat di Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), serta kedekatan langsung dengan Basij, pasukan paramiliter sukarelawan yang menjadi tulang punggung represi domestik rezim.
Alan Eyre, mantan diplomat AS yang mengkhususkan diri pada urusan Iran, tidak menyembunyikan kekhawatirannya.
“Mojtaba bahkan lebih buruk dan lebih garis keras daripada ayahnya,” katanya.
“Dia menyimpan banyak hal untuk dibalas,” lanjut Eyre.
Pernyataan itu bukan tanpa dasar. Iran saat ini menanggung krisis ekonomi yang kian parah, dikombinasikan dengan ketidakpuasan publik yang terus menumpuk sejak era Ali Khamenei. Tekanan dari dalam itu justru dinilai mendorong Mojtaba untuk cepat mengonsolidasikan kekuasaan, yang berarti IRGC akan makin leluasa bergerak dan kontrol atas warga sipil akan semakin diperketat.
Paul Salem, peneliti senior lain di Middle East Institute, menyimpulkannya dengan ringkas.
“Tidak seorang pun yang muncul sekarang akan mampu berkompromi. Ini adalah pilihan garis keras, yang dibuat pada saat yang genting,” kata Salem.
Yang belum terjawab, setidaknya untuk saat ini, adalah seberapa jauh harga mahal yang sudah dibayar AS dan Israel itu akan berubah menjadi tekanan nyata terhadap Teheran di bawah pemimpin yang oleh para analis digambarkan lebih keras dari pendahulunya.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: