Profil Zulfa Mustofa, Keponakan Ma’ruf Amin yang Gantikan Gus Yahya jadi Ketum PBNU Baru

- Rapat Pleno Syuriyah PBNU tetapkan Zulfa Mustofa sebagai Pj Ketum PBNU gantikan Gus Yahya hingga muktamar 2026, prioritas kepemimpinan fokus normalisasi organisasi lewat komunikasi intensif dengan seluruh elemen NU.
- Zulfa lahir 7 Agustus 1977 di Jakarta, keponakan Ma'ruf Amin, cucu kemenakan Syekh Nawawi al-Bantani, tempuh pendidikan pesantren di Simbangkulon dan Kajen Pati, dirikan majelis taklim Darul Musthofa tahun 2000.
- Karier organisasi meliputi Mutasyar PBNU, Sekjen MUI Jakarta (2013-2018), Wakil Majelis Pertimbangan MUI Pusat, Wakil Ketum PBNU, dan Ketua Komite Fatwa BPJPH Kemenag sebelum jadi Pj Ketum.
, JAKARTA – Rapat Pleno Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama menetapkan Zulfa Mustofa sebagai Penjabat Ketua Umum PBNU menggantikan Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya. Keputusan ini diambil dalam Rapat Pleno yang digelar di Hotel Sultan, Jakarta Pusat, Selasa (9/12) malam.
“Penetapan pejabat Ketua Umum PBNU masa bakti sisa sekarang ini, yaitu yang mulia Bapak K.H. Zulfa Mustofa,” kata Rais Syuriyah PBNU Muhammad Nuh usai rapat pleno.
Zulfa akan memimpin organisasi Islam terbesar di Indonesia ini hingga muktamar yang dijadwalkan pada 2026. Sebelum diangkat sebagai Pj Ketum, ia menjabat sebagai Wakil Ketua Umum PBNU.
Dalam sambutannya, Zulfa menegaskan bahwa prioritas kepemimpinannya adalah normalisasi organisasi melalui komunikasi intensif dengan seluruh elemen NU, baik struktural maupun kultural.
“Langkah awal secepatnya dalam rangka normalisasi organisasi pasti akan ada komunikasi-komunikasi intensif kepada seluruh pihak yang kemarin kita tahu ada sedikit perbedaan,” ujar Zulfa.
Latar Belakang Keluarga
Zulfa Mustofa lahir di Jakarta pada 7 Agustus 1977. Ia berasal dari keluarga besar ulama terkemuka Nusantara. Ayahnya, KH Muqarrabin, berasal dari Pekalongan, sementara ibunya Nyai Hajjah Marhumah Latifah berasal dari Kresek, Tangerang.
Ibunda Zulfa merupakan putri dari Nyai Hajjah Maimunah, yang juga merupakan ibunda Wakil Presiden ke-13 Indonesia Ma’ruf Amin. Dengan demikian, Zulfa adalah keponakan dari Ma’ruf Amin, salah satu tokoh sentral NU.
Dari sisi silsilah keluarga, Zulfa juga merupakan cucu kemenakan dari Syekh Nawawi al-Bantani, ulama besar Indonesia yang sangat disegani di Timur Tengah pada abad ke-19.
Pendidikan Pesantren
Perjalanan pendidikan Zulfa mencerminkan tradisi santri yang kuat. Ia memulai pendidikan dasar di SD Al-Jihad, Tanjung Priok, Jakarta Utara hingga kelas tiga. Ketika naik ke kelas empat, ia pindah ke Pekalongan dan menyelesaikan pendidikan dasar di sana.
Pendidikan menengahnya ditempuh di Madrasah Tsanawiyah Salafiyah Simbangkulon. Saat naik ke kelas dua tsanawiyah, ia kemudian pindah ke Kajen, Margoyoso, Pati, Jawa Tengah, salah satu pusat pendidikan Islam tradisional di Jawa.
Setelah menyelesaikan pendidikan madrasah aliyah, Zulfa kembali ke Jakarta pada 1996. Di ibu kota, ia mulai melanjutkan warisan ayahnya dalam dunia pendidikan agama.
Perjalanan Dakwah
Kepulangan Zulfa ke Jakarta menandai babak baru dalam perjalanan dakwahnya. Ia mengambil alih peran mengajar di berbagai majelis taklim yang sebelumnya diasuh oleh sang ayah. Sekitar lima majelis taklim warisan ayahnya diteruskan dengan konsisten.
Pada tahun 2000, Zulfa mendirikan majelis taklim sendiri yang diberi nama Darul Musthofa. Majelis ini menjadi salah satu pusat kajian Islam di Jakarta yang dikenal luas di kalangan masyarakat.
Melalui Darul Musthofa, Zulfa membangun basis jamaah yang kuat di Jakarta. Pendekatan dakwahnya yang inklusif dan moderat mencerminkan nilai-nilai NU yang selalu menjunjung toleransi dan keberagaman.
Karier Organisasi
Perjalanan karier Zulfa dalam organisasi keagamaan dimulai dari posisi-posisi strategis di berbagai lembaga. Ia pernah menjabat sebagai Mutasyar PBNU, memberikan masukan dan pertimbangan kepada pimpinan organisasi.
Antara 2013 hingga 2018, Zulfa menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Posisi ini menempatkannya di garda terdepan dalam merumuskan fatwa-fatwa keagamaan di tingkat ibu kota.
Ia kemudian dipercaya sebagai Wakil Majelis Pertimbangan MUI Pusat, sebuah posisi yang menunjukkan kapasitasnya dalam memberikan pertimbangan strategis pada level nasional.
Di PBNU, Zulfa menduduki jabatan Wakil Ketua Umum sebelum akhirnya ditunjuk sebagai Pj Ketum. Ia juga pernah menjabat sebagai Ketua Komite Fatwa Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Kementerian Agama.
Tantangan ke Depan
Pengangkatan Zulfa sebagai Pj Ketum PBNU terjadi di tengah dinamika internal organisasi yang sedang menghadapi ketegangan. Konflik antara berbagai kubu dalam PBNU memerlukan penanganan yang bijaksana dan diplomatis.
Sebagai Pj Ketum, Zulfa diharapkan mampu menjadi jembatan komunikasi antara berbagai elemen yang berselisih. Pengalaman organisasinya yang luas dan latar belakang keluarga yang kuat di kalangan ulama menjadi modal penting.
Komitmennya untuk melakukan normalisasi organisasi melalui dialog intensif menunjukkan pendekatan yang matang dalam mengelola konflik internal. Zulfa tampak memilih jalan damai ketimbang konfrontasi.
Hingga muktamar 2026, Zulfa memiliki waktu untuk membuktikan kemampuannya memimpin organisasi dengan puluhan juta anggota ini. Keberhasilannya akan sangat menentukan arah NU di masa mendatang.
Dengan latar belakang keilmuan yang kuat, pengalaman organisasi yang luas, serta jaringan keluarga yang dalam di kalangan ulama NU, Zulfa Mustofa memiliki bekal yang cukup untuk menghadapi tantangan kepemimpinan PBNU ke depan.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: