TODAY'S RECAP
Sidang Isbat Awal Ramadhan 2026 Digelar Hari Ini di Jakarta, Ini Jadwal dan Lokasi Pemantauan HilalMUI Bicara soal Sahur On The Road dan Kentongan: Ada Batasnya, Ini AturannyaTerseret Ombak, Pelajar 17 Tahun Asal Tangerang Ditemukan Tewas di Pantai PandeglangPemerintah Gelar Sidang Isbat Hari Ini, BMKG dan BRIN Rilis Data Hilal RamadhanKM Intim Teratai Tenggelam di Perairan Halmahera Selatan, Tim SAR Evakuasi PenumpangAktor “The Godfather” Robert Duvall Meninggal Dunia di Usia 95 TahunHarga Batu Bara Sentuh Rekor Setahun di US$120, China Rapikan Sektor EnergiPanduan Lengkap Niat dan Tata Cara Sholat Tarawih untuk RamadhanHarga Minyak Naik Menjelang Dialog AS-Iran, WTI Tembus US$64 per BarelPrabowo Hadiri Rapat Board of Peace Trump, DPR: Jangan Lupa Soal PalestinaBupati hingga Ketua DPRD Kumpul di Bakorwil, PWI Pamekasan Bahas Empat PilarSidang Isbat Awal Ramadhan 2026 Digelar Hari Ini di Jakarta, Ini Jadwal dan Lokasi Pemantauan HilalMUI Bicara soal Sahur On The Road dan Kentongan: Ada Batasnya, Ini AturannyaTerseret Ombak, Pelajar 17 Tahun Asal Tangerang Ditemukan Tewas di Pantai PandeglangPemerintah Gelar Sidang Isbat Hari Ini, BMKG dan BRIN Rilis Data Hilal RamadhanKM Intim Teratai Tenggelam di Perairan Halmahera Selatan, Tim SAR Evakuasi PenumpangAktor “The Godfather” Robert Duvall Meninggal Dunia di Usia 95 TahunHarga Batu Bara Sentuh Rekor Setahun di US$120, China Rapikan Sektor EnergiPanduan Lengkap Niat dan Tata Cara Sholat Tarawih untuk RamadhanHarga Minyak Naik Menjelang Dialog AS-Iran, WTI Tembus US$64 per BarelPrabowo Hadiri Rapat Board of Peace Trump, DPR: Jangan Lupa Soal PalestinaBupati hingga Ketua DPRD Kumpul di Bakorwil, PWI Pamekasan Bahas Empat PilarSidang Isbat Awal Ramadhan 2026 Digelar Hari Ini di Jakarta, Ini Jadwal dan Lokasi Pemantauan HilalMUI Bicara soal Sahur On The Road dan Kentongan: Ada Batasnya, Ini AturannyaTerseret Ombak, Pelajar 17 Tahun Asal Tangerang Ditemukan Tewas di Pantai PandeglangPemerintah Gelar Sidang Isbat Hari Ini, BMKG dan BRIN Rilis Data Hilal RamadhanKM Intim Teratai Tenggelam di Perairan Halmahera Selatan, Tim SAR Evakuasi PenumpangAktor “The Godfather” Robert Duvall Meninggal Dunia di Usia 95 TahunHarga Batu Bara Sentuh Rekor Setahun di US$120, China Rapikan Sektor EnergiPanduan Lengkap Niat dan Tata Cara Sholat Tarawih untuk RamadhanHarga Minyak Naik Menjelang Dialog AS-Iran, WTI Tembus US$64 per BarelPrabowo Hadiri Rapat Board of Peace Trump, DPR: Jangan Lupa Soal PalestinaBupati hingga Ketua DPRD Kumpul di Bakorwil, PWI Pamekasan Bahas Empat PilarSidang Isbat Awal Ramadhan 2026 Digelar Hari Ini di Jakarta, Ini Jadwal dan Lokasi Pemantauan HilalMUI Bicara soal Sahur On The Road dan Kentongan: Ada Batasnya, Ini AturannyaTerseret Ombak, Pelajar 17 Tahun Asal Tangerang Ditemukan Tewas di Pantai PandeglangPemerintah Gelar Sidang Isbat Hari Ini, BMKG dan BRIN Rilis Data Hilal RamadhanKM Intim Teratai Tenggelam di Perairan Halmahera Selatan, Tim SAR Evakuasi PenumpangAktor “The Godfather” Robert Duvall Meninggal Dunia di Usia 95 TahunHarga Batu Bara Sentuh Rekor Setahun di US$120, China Rapikan Sektor EnergiPanduan Lengkap Niat dan Tata Cara Sholat Tarawih untuk RamadhanHarga Minyak Naik Menjelang Dialog AS-Iran, WTI Tembus US$64 per BarelPrabowo Hadiri Rapat Board of Peace Trump, DPR: Jangan Lupa Soal PalestinaBupati hingga Ketua DPRD Kumpul di Bakorwil, PWI Pamekasan Bahas Empat Pilar

Rubrikasi

Informasi

Ikuti Kami

17 Februari 2026

Cari berita

Puan Maharani Minta Evaluasi Sistem Pendidikan Nasional Usai Tragedi Siswa SD di NTT

Poin Penting (3)
  • Ketua DPR RI Puan Maharani menyoroti kasus siswa SD di Ngada, NTT yang bunuh diri karena tak mampu membeli buku dan alat tulis, menilainya sebagai teguran bagi negara
  • Puan menekankan program pendidikan harus melampaui sekolah gratis, sekolah perlu memetakan latar belakang ekonomi siswa dan memastikan kebutuhan pendidikan terpenuhi
  • Puan mendesak evaluasi sistem pendidikan yang ramah anak dengan memperhatikan kesehatan mental dan psikologi, serta menghilangkan akar masalah kemiskinan

Resolusi.co, JAKARTA – Ketua DPR RI Puan Maharani menyoroti kasus siswa sekolah dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, yang bunuh diri karena tak mampu membeli buku dan alat tulis. Ia menekankan pentingnya perhatian terhadap kesehatan mental dan psikologi anak.

“Kasus kematian anak di Kabupaten Ngada tersebut tentunya merupakan duka yang cukup memilukan dan harus menjadi pembelajaran,” ujar Puan dalam keterangan tertulis.

Seorang siswa kelas IV SD di Kecamatan Jerebuu berinisial YBR (10) meninggal dunia karena gantung diri. Anak itu kecewa tidak dibelikan buku tulis dan pulpen untuk sekolah. Sang ibu yang merupakan janda tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar sekolah YBR karena kondisi ekonomi sangat terbatas.

Puan menilai kebutuhan dasar anak yang tidak terpenuhi ini menjadi sebuah teguran bagi negara. Menurut Puan, program pendidikan dari pemerintah tidak cukup hanya memberikan layanan sekolah gratis.

Kebutuhan penunjang sekolah seperti alat tulis juga dapat menjadi persoalan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.

“Program-program pendidikan terutama beasiswa dan bantuan pendidikan harus bisa mengatasi persoalan ini,” kata Puan.

Puan mendesak sekolah untuk memetakan latar belakang anak didiknya dan memastikan setiap kebutuhan pendidikan dapat diberikan. Ia juga menyoroti pentingnya isu kesehatan mental anak.

“Kasus di NTT ini menjadi satu contoh lagi betapa psikologi anak dapat berpengaruh terhadap karakter dan keputusan mereka. Kesehatan mental anak harus menjadi perhatian,” ungkap Puan.

Puan berharap meninggalnya YBR dapat menjadi pembelajaran bagi semua pihak, terutama pemerintah dalam merancang program dan sistem pendidikan nasional.

“Peristiwa ini harus menjadi titik balik untuk mengevaluasi sistem pendidikan yang ramah anak dan mampu menjaga kesehatan anak didik secara menyeluruh termasuk kesehatan mental dan psikologi,” tuturnya.

Puan mendorong agar isu kesehatan mental dan psikologi anak di sekolah diperkuat. Pendidikan yang baik, menurutnya, harus mampu memberikan ruang nyaman bagi anak saat belajar, termasuk memperhatikan latar belakang personal dan ekonomi siswa.

Puan meminta pemerintah lebih menjangkau masyarakat di daerah melalui program bantuan sosial. Ia menyatakan kepedulian sosial di lingkungan sekolah harus menjadi peta jalan dalam sistem pendidikan.

“Kita perlu lihat persoalan di Ngada secara lebih jauh lagi, kasus ini muncul karena kemiskinan. Sehingga negara harus menghilangkan akar masalah kemiskinan,” ucap Puan.

Semasa hidup, YBR tinggal bersama neneknya yang berusia 80 tahun di pondok kecil yang reot. YBR dititipkan oleh ibunya yang bekerja sebagai petani dan buruh serabutan.

Ibunya harus menafkahi lima orang anak dan tidak mampu membelikan alat tulis serta buku seharga Rp10 ribu saat diminta YBR.

Puan mendorong agar program pendidikan diselaraskan dengan program bantuan sosial karena saling berkesinambungan.

“Program-program pemerintah harus diarahkan untuk mengatasi persoalan mendasar dalam kasus ini, yaitu kemiskinan,” tegas Puan.

“Jangan sampai ada nyawa generasi muda Indonesia yang hilang lagi, hanya karena merasa tertekan karena tidak mampu membeli buku dan pulpen,” tutupnya.