Tekanan Berlanjut di Awal 2026, Nilai Tukar Rupiah Melorot ke Rp 16.800

- Dolar AS menembus level Rp 16.800 pada perdagangan Kamis pagi (8/1/2026), menguat 20 poin atau 0,12 persen, melanjutkan tren penguatan terhadap hampir seluruh mata uang global termasuk yuan, yen, euro, dan pound sterling.
- Pelemahan rupiah dipicu faktor eksternal seperti penguatan indeks dolar AS ke level 98,63, kenaikan yield US Treasury, ketegangan geopolitik global, dan gejolak politik Venezuela pasca penangkapan Presiden Maduro.
- Dari sisi domestik, surplus perdagangan Indonesia menyempit dengan ekspor turun 6,6 persen pada November 2025, terutama komoditas nonmigas, membatasi ruang penguatan rupiah meski Bank Indonesia terus memantau stabilitas nilai tukar.
, JAKARTA – Mata uang rupiah kembali mengalami pelemahan signifikan terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Kamis pagi (8/1/2026). Nilai tukar dolar AS menembus level psikologis Rp 16.800, mencerminkan tekanan yang terus dialami rupiah sejak awal tahun.
Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar dolar AS tercatat berada pada posisi Rp 16.800 atau menguat 20 poin, setara dengan kenaikan 0,12 persen dibandingkan penutupan sebelumnya. Pelemahan rupiah ini menjadi kelanjutan dari tren negatif yang telah dimulai sejak pekan pertama 2026.
Pergerakan dolar AS di pasar global menunjukkan dominasi yang cukup kuat. Mata uang Negeri Paman Sam mengalami penguatan terhadap hampir seluruh mata uang utama dunia, termasuk yuan China, dolar Australia, yen Jepang, dolar Singapura, pound sterling, dan euro.
Secara rinci, dolar AS menguat 0,06 persen terhadap yuan China dan naik 0,12 persen menghadapi yen Jepang. Terhadap euro, greenback mencatat kenaikan 0,01 persen, sementara menguat 0,15 persen melawan dolar Singapura.
Mata uang Amerika itu juga terapresiasi 0,04 persen terhadap pound sterling Inggris dan meningkat 0,12 persen menghadapi dolar Australia. Penguatan menyeluruh ini menandakan kekuatan dolar AS di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Analis pasar menilai beberapa faktor eksternal menjadi pemicu utama pelemahan rupiah. Penguatan indeks dolar AS atau Dollar Index (DXY) yang bertengger di kisaran 98,32 hingga 98,63 memberikan tekanan signifikan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.
Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury yield tenor 10 tahun yang mencapai 4,167 persen turut memperkuat dolar. Kondisi ini meningkatkan daya tarik aset denominasi dolar bagi para investor global.
Ketegangan geopolitik di berbagai belahan dunia juga memicu sentimen penghindaran risiko atau risk-off di pasar keuangan. Konflik yang masih berlangsung antara Rusia dan Ukraina, serta eskalasi ketegangan di Timur Tengah, mendorong pelaku pasar mencari safe haven dalam dolar AS.
Gejolak politik di Venezuela turut memberikan sentimen negatif. Penangkapan Presiden Nicolas Maduro oleh pasukan Amerika Serikat pada 3 Januari 2026 mengejutkan pasar global. Presiden AS Donald Trump yang mengambil kendali sementara Venezuela dan membuka keran industri minyak negara tersebut menambah ketidakpastian pasar komoditas.
Dari sisi domestik, surplus neraca perdagangan Indonesia menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Badan Pusat Statistik mencatat surplus November 2025 sebesar 2,66 miliar dolar AS, dengan ekspor turun 6,6 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.
Penurunan ekspor terutama terjadi pada komoditas nonmigas seperti bahan bakar mineral, lemak nabati, serta besi dan baja. Meskipun surplus masih berlanjut untuk bulan ke-67 berturut-turut sejak Mei 2020, ruang penguatan rupiah menjadi terbatas.
Data ekonomi AS yang lebih solid dari perkiraan juga menambah tekanan. Purchasing Managers Index manufaktur Institute for Supply Management AS pada Desember 2025 tercatat 47,9 persen, sementara indeks sektor jasa menunjukkan ekspansi di atas ekspektasi pasar.
Bank Indonesia terus memantau pergerakan nilai tukar dengan cermat. Meskipun yield Surat Berharga Negara tenor 10 tahun relatif stabil di kisaran 6,04 persen, tekanan terhadap rupiah diperkirakan masih akan berlanjut dalam jangka pendek.
Premi credit default swap Indonesia tenor lima tahun tercatat turun menjadi 67,78 basis poin dari sebelumnya 69,95 basis poin, mencerminkan persepsi risiko yang masih terkendali meski nilai tukar tertekan.
Mayoritas mata uang Asia lainnya juga mengalami pelemahan serupa. Rupee India mencatat depresiasi 0,31 persen, dolar Taiwan melemah 0,27 persen, sementara won Korea dan dolar Hong Kong masing-masing turun 0,09 persen.
Para analis memproyeksikan rupiah akan terus bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada kisaran Rp 16.750 hingga Rp 16.800 per dolar AS dalam beberapa hari ke depan. Pelaku pasar disarankan tetap waspada terhadap rilis data ekonomi yang dapat memicu volatilitas lebih tinggi.
Bank Indonesia dan pemerintah diharapkan terus mengambil langkah-langkah untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan memastikan keseimbangan antara supply dan demand di pasar valuta asing domestik.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: