The Fed Tahan Suku Bunga, Saham Goyang tapi Dolar Malah Menguat 0,4 Persen

- The Fed mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,5-3,75 persen dengan voting 10 banding 2, memicu fluktuasi di pasar saham dan obligasi global.
- Dolar AS menguat 0,4 persen setelah Menteri Keuangan Scott Bessent menegaskan kebijakan dolar kuat, sementara yen Jepang melemah hampir 1 persen.
- Ketua The Fed Jerome Powell tidak memberikan sinyal pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat, pelaku pasar memperkirakan penurunan suku bunga akan terjadi di paruh akhir tahun.
, JAKARTA – Bank sentral Amerika Serikat memutuskan menahan suku bunga acuan pada Kamis (29/1/2026) waktu Indonesia. Keputusan itu memicu pergerakan tidak menentu di pasar keuangan global, sementara dolar AS justru menguat setelah Menteri Keuangan Scott Bessent menegaskan dukungan pemerintah terhadap mata uang kuat.
Indeks S&P 500 yang sebelumnya menembus level 7.000 mereda pada akhir perdagangan. Dikutip dari Bloomberg, saham teknologi bergerak bervariasi. Meta Platforms naik didorong proyeksi positif, Tesla menguat karena laba melampaui ekspektasi, tapi Microsoft melemah karena kekhawatiran belanja investasi kecerdasan buatan yang tinggi.
Di pasar obligasi, imbal hasil surat utang pemerintah AS tenor 10 tahun nyaris tak bergerak di kisaran 4,25 persen. Dolar AS menguat sekitar 0,4 persen, kenaikan harian terbesar sejak November.
Penguatan dolar terjadi setelah Menteri Keuangan Bessent menegaskan AS tetap menganut kebijakan dolar kuat dan menepis spekulasi intervensi terhadap yen Jepang. Yen pun melemah hampir 1 persen. Di tengah gejolak ini, harga emas terus menguat dan menembus level 5.300 dolar AS per troy ons.
Dalam rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) dini hari tadi waktu Indonesia, Dewan Gubernur The Fed memutuskan menahan suku bunga dana federal di kisaran 3,5 hingga 3,75 persen. Hasil pemungutan suara 10 banding 2.
Dua gubernur, Christopher Waller dan Stephen Miran, menyatakan perbedaan pendapat dengan mendukung pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin.
Ketua The Fed Jerome Powell menilai terdapat perbaikan yang jelas dalam prospek perekonomian. Pasar tenaga kerja menunjukkan tanda-tanda stabilisasi, meski masih ada indikasi pendinginan.
Powell menolak memberikan sinyal waktu kapan pemangkasan suku bunga berikutnya dapat dilakukan.
Sejumlah pelaku pasar menilai sikap The Fed mencerminkan pendekatan tunggu dan lihat di tengah data ekonomi yang masih solid. Inflasi dinilai belum sepenuhnya jinak. Ekspektasi pemangkasan suku bunga bergeser ke paruh akhir tahun, sementara kebijakan moneter jangka pendek diperkirakan tetap ketat.
“Pesan dari The Fed tetap sama, suku bunga yang lebih rendah mungkin akan segera datang, tetapi investor harus tetap bersabar,” kata Ellen Zentner dari Morgan Stanley Wealth Management.
Dengan tanda-tanda stabilisasi di pasar tenaga kerja dan inflasi yang tetap stabil, The Fed berada dalam posisi untuk memainkan strategi tunggu dan lihat, tambahnya.
Pernyataan pemerintah AS mengenai dukungan terhadap dolar kuat turut meredakan kekhawatiran pasar valuta asing. Sebelumnya muncul volatilitas akibat komentar Presiden Donald Trump terkait pelemahan dolar. Meski menguat pada perdagangan terakhir, dolar AS masih tercatat melemah sekitar 1 persen secara mingguan.
Pasar bersiap mengalihkan fokus ke kinerja laba perusahaan teknologi dan perkembangan data ekonomi lanjutan. Kedua hal itu akan menentukan arah kebijakan moneter The Fed berikutnya.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: