TODAY'S RECAP

Rubrikasi

Informasi

Ikuti Kami

26 Juni 2026
TODAY'S RECAP
Belum Berhenti di Tiga Tersangka, Kejagung Tambah 40 Hari Penahanan Bos BGN demi Bongkar Korupsi MBG Sudah Tiga Orang Meninggal, DPR Buka Suara soal Latihan Militer Mematikan bagi Peserta SPPI Datang untuk Melahirkan, Perempuan Muda Ini Justru Kehilangan Rahim, Keluarga Geruduk Kantor Dinkes Pamekasan Dua Peserta SPPI Gugur saat Latsarmil, Kemhan Buka Kronologi dan Siapkan Evaluasi Menyeluruh Ketua BEM FH UBK Dinonaktifkan setelah Akui Terima Rp20 Juta untuk Belokkan Arah Demo dari Istana Dapur MBG Tercatat di Sistem tapi Tak Ada Bangunannya, Tim Investigasi Temukan Lokasinya di Kuburan Dasco Buka Suara: Isu Ekonomi Sengaja Digoreng Seolah Indonesia di Ambang Keruntuhan Koorpus BEM Persatuan Indonesia: Jangan Setop Makan Bergizi Gratis, Bersihkan Korupsinya! Belum Berhenti di Tiga Tersangka, Kejagung Tambah 40 Hari Penahanan Bos BGN demi Bongkar Korupsi MBG Sudah Tiga Orang Meninggal, DPR Buka Suara soal Latihan Militer Mematikan bagi Peserta SPPI Datang untuk Melahirkan, Perempuan Muda Ini Justru Kehilangan Rahim, Keluarga Geruduk Kantor Dinkes Pamekasan Dua Peserta SPPI Gugur saat Latsarmil, Kemhan Buka Kronologi dan Siapkan Evaluasi Menyeluruh Ketua BEM FH UBK Dinonaktifkan setelah Akui Terima Rp20 Juta untuk Belokkan Arah Demo dari Istana Dapur MBG Tercatat di Sistem tapi Tak Ada Bangunannya, Tim Investigasi Temukan Lokasinya di Kuburan Dasco Buka Suara: Isu Ekonomi Sengaja Digoreng Seolah Indonesia di Ambang Keruntuhan Koorpus BEM Persatuan Indonesia: Jangan Setop Makan Bergizi Gratis, Bersihkan Korupsinya!

Cari berita

Sudah Tiga Orang Meninggal, DPR Buka Suara soal Latihan Militer Mematikan bagi Peserta SPPI

Poin Penting (3)
  • Tiga peserta SPPI calon pengelola Koperasi Desa dan Koperasi Nelayan Merah Putih meninggal dunia saat mengikuti latihan dasar kemiliteran, termasuk Novia Rahmadhani Sihotang yang berlatih di Satdik Pusbahasa Kodiklatau Jakarta.
  • Komisi I DPR mendesak evaluasi menyeluruh mulai dari seleksi administrasi, pemeriksaan kesehatan komprehensif, hingga kurikulum pelatihan yang dinilai belum disesuaikan dengan karakteristik peserta sipil.
  • DPR menekankan pemeriksaan kesehatan harus mencakup fungsi jantung, tekanan darah, dan riwayat penyakit bawaan, serta meminta penguatan prosedur medis selama pelatihan berlangsung.

Resolusi.co, Jakarta – Tiga peserta program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia meninggal dunia dalam rentang waktu berdekatan saat mengikuti latihan dasar kemiliteran. Kematian terakhir menimpa Novia Rahmadhani Sihotang, peserta SPPI calon pengelola Koperasi Nelayan Merah Putih, yang menjalani pendidikan di Satuan Pendidikan Pusat Bahasa Kodiklatau, Jakarta.

Kementerian Pertahanan membenarkan kejadian itu melalui pernyataan resmi. Kepala Biro Informasi Pertahanan Sekretariat Jenderal Kemhan, Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait, menyampaikan belasungkawa kepada keluarga almarhum dan menyebut pihaknya telah menerima laporan resmi mengenai insiden tersebut.

Kematian ketiga peserta ini memantik reaksi dari Senayan. Wakil Ketua Komisi I DPR, Anton Sukartono Suratto, menilai insiden berulang itu bukan sekadar kemalangan, melainkan sinyal bahwa ada yang perlu dibenahi secara sistemik dalam penyelenggaraan pelatihan.

“Pemeriksaan kesehatan bukan lagi sekadar memiliki surat sehat, tetapi harus benar-benar dilakukan pemeriksaan kesehatan secara mendetail di rumah sakit, seperti pemeriksaan medis komprehensif mulai dari fungsi jantung, tekanan darah, serta riwayat penyakit bawaan sebelum mereka diizinkan mengikuti latihan fisik,” kata Anton kepada wartawan, Jumat (26/6/2026).

Anton menegaskan bahwa semangat peserta untuk mengikuti program bela negara layak dihargai. Namun keselamatan jiwa warga sipil, katanya, adalah hal yang tidak bisa dinegosiasikan.

“Kejadian yang menimpa ketiga peserta harus menjadi pengingat bahwa keselamatan jiwa warga negara adalah prioritas tertinggi yang tidak bisa dikompromikan,” ujarnya.

Politikus Partai Demokrat itu juga mempersoalkan kurikulum pelatihan yang dinilai belum cukup mempertimbangkan kapasitas fisik peserta sipil. Ia meminta modul latihan dikaji ulang agar lebih menekankan pembinaan di dalam ruangan, bukan terfokus pada aktivitas fisik berat di luar ruangan, apalagi dalam kondisi cuaca ekstrem.

Di sinilah pertanyaan yang lebih mendasar sebenarnya muncul, program yang dirancang untuk mencetak pengelola koperasi desa dan koperasi nelayan mengapa mengharuskan pesertanya melewati latihan kemiliteran yang intensitasnya menyamai pembinaan prajurit? Perbedaan antara tujuan program dan jenis latihannya tampaknya belum pernah benar-benar dijawab.

Selain soal kurikulum, Anton meminta prosedur medis selama pelatihan diperkuat. Menurutnya, ketersediaan dokter, ambulans, dan kerja sama dengan fasilitas kesehatan terdekat harus dipastikan berjalan, bukan sekadar tertera di atas kertas.

“Komisi I akan terus mengawal proses ini hingga tuntas dan memastikan ada perbaikan sistem yang benar-benar dijalankan demi menyempurnakan program ini ke depan,” pungkas Anton.