Harta Karun Energi dan Mineral Jadi Alasan AS Bidik Venezuela

- Kekayaan sumber daya alam Venezuela, mulai dari minyak, gas, emas, hingga mineral tanah jarang, dinilai menjadi alasan utama Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump terus menekan negara tersebut.
- Trump secara terbuka menuding pemerintah Venezuela telah menyita hak energi perusahaan AS, merujuk konflik lama dengan Exxon Mobil, serta menegaskan keinginan Washington menguasai kembali minyak Venezuela.
- Di balik krisis dan konflik, Venezuela menyimpan “harta karun” mineral strategis yang menjadi incaran global, namun eksploitasi tambang di Busur Pertambangan Orinoco justru memicu kejahatan terorganisasi, penyelundupan, dan kerusakan lingkungan.
, Jakarta -Kekayaan sumber daya alam Venezuela diduga menjadi faktor utama yang mendorong Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump terus menekan bahkan menyerang negara Amerika Selatan tersebut. Kepentingan Washington dinilai tak semata soal politik, melainkan soal kendali atas energi dan mineral strategis bernilai tinggi.
Dalam beberapa hari terakhir, pemerintahan AS kembali mengemukakan alasan kepentingan ekonomi di balik sikap kerasnya terhadap Caracas. Trump secara terbuka menyinggung kekayaan energi Venezuela, terutama sektor minyak, yang diklaim telah “dirampas” oleh pemerintah Venezuela dari perusahaan-perusahaan AS.
“Mereka mengambil semua hak energi kita. Mereka mengambil semua minyak kita, dan kita menginginkannya kembali,” ujar Trump, merujuk pada konflik lama antara pemerintahan Chavista dan raksasa migas Exxon Mobil yang hengkang dari Venezuela pada 2007, seperti dikutip media Spanyol, El País.
Namun, di balik minyak, Venezuela juga menyimpan cadangan gas alam yang sangat besar. Negara ini tercatat memiliki cadangan gas terbesar keenam di dunia, menjadikannya aset strategis dalam peta energi global.
Tak hanya itu, Venezuela juga kaya akan bijih besi, bauksit, serta mineral tanah jarang seperti koltan dan thorium. Material tersebut merupakan komponen vital bagi industri teknologi modern, mulai dari ponsel pintar, kendaraan listrik, hingga persenjataan dan energi terbarukan.
Ketika industri minyak runtuh pada periode 2014–2015 dan krisis pangan serta obat-obatan melanda, pemerintah Venezuela mengalihkan fokus ekonomi ke sektor pertambangan, khususnya di wilayah selatan Sungai Orinoco.
Pada 2016, Presiden Nicolas Maduro membentuk Busur Pertambangan Orinoco, kawasan strategis yang mencakup sekitar 12 persen wilayah nasional Venezuela. Wilayah ini diperkirakan menyimpan lebih dari 8.000 ton emas, selain berlian, nikel, koltan, dan berbagai mineral strategis lainnya.
Namun, kawasan tersebut justru dikenal sebagai episentrum kejahatan terorganisasi, korupsi yang melibatkan elite politik dan militer, penyelundupan lintas negara, serta kerusakan lingkungan berskala besar.
Aktivitas penambangan berlangsung secara liar dan tak terkendali.
Penambangan ilegal itu disebut melibatkan aliansi perusahaan yang dekat dengan lingkar kekuasaan, serta kelompok bersenjata ilegal seperti ELN, sisa-sisa FARC, dan geng kriminal Tren de Aragua.
Meski pemerintah Venezuela menjalin kerja sama dengan Turki dan Afrika Selatan, sebagian besar emas dan mineral justru diselundupkan ke luar negeri. Laporan menyebut hanya sekitar 14 persen hasil tambang yang tercatat secara resmi.
Pada 2023, Venezuela kembali menegaskan mineral strategisnya, termasuk tanah jarang, sebagai target utama industri teknologi global. Namun, investigasi Amazon Underworld mengungkap bahwa sebagian besar mineral tanah jarang dari wilayah Guayana justru diperdagangkan secara ilegal melalui Kolombia.
Kondisi inilah yang dinilai menjelaskan mengapa Venezuela terus menjadi sasaran kepentingan Washington. Bagi Trump, Venezuela bukan sekadar persoalan ideologi atau politik kawasan, melainkan soal kendali atas “harta karun” energi dan mineral strategis yang bernilai besar dalam persaingan global.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: