TODAY'S RECAP
Dorong Transformasi Pendidikan, 150 Alumni LPDP Diterjunkan ke Wilayah 3TKomdigi Kembali Panggil Meta dan Google, Kepatuhan PP Tunas DisorotKabar Baik untuk Dapur: Cabai dan Daging Kompak Turun, tapi Bawang Belum IkutWorkshop PPG UNS: 495 Calon Guru Diperkuat Etika Akademik dan Anti KekerasanKerja Lembur Sampai Akhir Pekan, RUU P2SK Ditargetkan Tuntas Minggu DepanDorong Transformasi Pendidikan, 150 Alumni LPDP Diterjunkan ke Wilayah 3TKomdigi Kembali Panggil Meta dan Google, Kepatuhan PP Tunas DisorotKabar Baik untuk Dapur: Cabai dan Daging Kompak Turun, tapi Bawang Belum IkutWorkshop PPG UNS: 495 Calon Guru Diperkuat Etika Akademik dan Anti KekerasanKerja Lembur Sampai Akhir Pekan, RUU P2SK Ditargetkan Tuntas Minggu DepanDorong Transformasi Pendidikan, 150 Alumni LPDP Diterjunkan ke Wilayah 3TKomdigi Kembali Panggil Meta dan Google, Kepatuhan PP Tunas DisorotKabar Baik untuk Dapur: Cabai dan Daging Kompak Turun, tapi Bawang Belum IkutWorkshop PPG UNS: 495 Calon Guru Diperkuat Etika Akademik dan Anti KekerasanKerja Lembur Sampai Akhir Pekan, RUU P2SK Ditargetkan Tuntas Minggu DepanDorong Transformasi Pendidikan, 150 Alumni LPDP Diterjunkan ke Wilayah 3TKomdigi Kembali Panggil Meta dan Google, Kepatuhan PP Tunas DisorotKabar Baik untuk Dapur: Cabai dan Daging Kompak Turun, tapi Bawang Belum IkutWorkshop PPG UNS: 495 Calon Guru Diperkuat Etika Akademik dan Anti KekerasanKerja Lembur Sampai Akhir Pekan, RUU P2SK Ditargetkan Tuntas Minggu Depan

Rubrikasi

Informasi

Ikuti Kami

4 April 2026

Cari berita

Gadai Jadi Tumpuan Publik Saat Ekonomi Tertekan

Poin Penting (3)
  • Penyaluran pinjaman gadai melonjak 25,83 persen di awal 2025 akibat tekanan ekonomi yang membuat kelas menengah kesulitan memenuhi kebutuhan.
  • Gadai menjadi pilihan karena proses cepat tanpa BI checking, didukung harga emas yang naik dan program bebas bunga dari berbagai lembaga.
  • Fenomena ini mencerminkan paradoks ekonomi Indonesia: pertumbuhan makro terlihat solid, tapi masyarakat terpaksa menguras aset untuk bertahan hidup.

Resolusi.co, JAKARTA – Kelas menengah Indonesia kini terjepit. Daya beli merosot, utang melonjak, investasi lesu. Di tengah tekanan ekonomi yang tak menentu, layanan gadai justru menemukan momentum.

Data Otoritas Jasa Keuangan menunjukkan penyaluran pinjaman melalui Pegadaian melonjak 25,83 persen pada awal 2025. Angka ini bukan kebetulan.

Tekanan datang dari berbagai sisi. Inflasi menggigit kantong rumah tangga, sementara pemerintah menaikkan PPN menjadi 12 persen. Kebijakan penghematan anggaran negara turut memperparah kondisi.

Pertumbuhan ekonomi kuartal pertama 2025 tercatat 4,87 persen, terendah sejak kuartal ketiga 2021. Konsumsi rumah tangga, yang menyumbang lebih dari separuh PDB, hanya tumbuh 4,89 persen.

“Masyarakat kelas menengah mulai bergantung pada gadai untuk bertahan,” ujar ekonom dari Center of Reform on Economics (CORE), Mohammad Faisal.

Gadai menawarkan sesuatu yang tidak dimiliki bank: proses cepat tanpa BI checking. Masyarakat bisa mendapatkan dana tunai dalam hitungan jam dengan jaminan emas, elektronik, atau kendaraan.

Pegadaian bahkan meluncurkan program Gadai Bebas Bunga untuk menarik lebih banyak nasabah. Program yang berlaku hingga November 2025 ini memberikan pinjaman hingga Rp2,5 juta tanpa bunga selama 60 hari.

Harga emas yang naik membuat gadai emas semakin menggiurkan. Per Desember 2025, emas 5 gram ditaksir senilai Rp10,4 juta di Pegadaian, naik signifikan dari tahun sebelumnya.

Tren ini bukan tanpa risiko. Ketergantungan pada gadai menandakan masyarakat sedang menguras aset untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ini bukan tanda ekonomi yang sehat.

Pusat Gadai Indonesia, salah satu pemain swasta, bahkan berencana membuka 10.000 outlet dalam lima tahun ke depan. Mereka melihat peluang besar di tengah kesulitan masyarakat.

Fenomena ini mencerminkan paradoks ekonomi Indonesia di 2025. Di satu sisi, pemerintah mengklaim ekonomi tumbuh solid. Di sisi lain, rakyat terpaksa menggadaikan aset untuk bertahan.

Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2025 di kisaran 5 persen. Tapi angka makro ini tidak menggambarkan realitas di lapangan.

Gadai syariah berbasis akad rahn juga ikut berkembang. Perbankan syariah melihat ini sebagai peluang menawarkan solusi likuiditas yang sesuai prinsip Islam, tanpa riba.

Pasar gadai kini tidak lagi didominasi Pegadaian saja. Pemain swasta seperti Pusat Gadai Indonesia dan Budi Gadai Indonesia mencatat pertumbuhan penyaluran pinjaman hingga 31 persen.

Industri gadai digital juga mulai bermunculan. deGadai, misalnya, menargetkan segmen menengah atas dengan menawarkan privasi dan bunga nol persen untuk pinjaman hingga Rp100 juta.

Namun pertanyaan besarnya tetap: sampai kapan masyarakat bisa terus menggadaikan aset?