Prabowo Targetkan PLTS 100 GW Selesai dalam Dua Tahun
- Presiden Prabowo Subianto menargetkan pembangunan PLTS berkapasitas 100 GW rampung paling lambat 2028, membutuhkan lahan 100.000 hektar, pemerintah telah mengidentifikasi 67.000 hektar di Jawa Barat dan cadangan lahan Perhutani seluas 800.000 hektar di Jawa sebagai lokasi potensial.
- Percepatan transisi energi ini didorong oleh krisis pasokan migas global akibat penutupan Selat Hormuz, dengan Prabowo sekaligus mendorong pengembangan bioetanol, biodiesel sawit, dan geothermal sebagai alternatif energi domestik.
- Menteri ESDM Bahlil akan merevisi RUPTL PLN dan mengaktifkan satgas transisi energi pascalebaran, mencakup konversi PLTD ke PLTS, percepatan geothermal, serta program konversi 120 juta motor bensin ke motor listrik dengan subsidi Rp6 juta per unit.
, JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto menetapkan target ambisius di bidang energi terbarukan, pembangunan pembangkit listrik tenaga surya berkapasitas total 100 gigawatt harus tuntas dalam dua tahun, atau paling lambat pada 2028. Pernyataan itu disampaikan Prabowo dalam Sidang Kabinet Paripurna, Jumat (13/3/2026).
“Kita akan melaksanakan pembangunan yang sangat cepat terhadap tenaga surya yang kita rencananya kita akan melakukan 100 Gigawatt yang kita targetkan harus selesai dalam 2 tahun yang akan datang ini. 100 Gigawatt itu adalah 100.000 Megawatt,” kata Prabowo.
Untuk mewujudkan target itu, Prabowo menyebut dibutuhkan lahan hingga 100.000 hektar. Ia mengungkapkan sudah mendapat laporan dari Menteri ATR/BPN Nusron bahwa Jawa Barat saja memiliki 67.000 hektar lahan yang berpotensi dimanfaatkan. Di luar itu, BUMN kehutanan Perhutani disebut menguasai sekitar 800.000 hektar lahan di Jawa yang bisa menjadi cadangan lokasi.
Pernyataan Prabowo dilatarbelakangi kekhawatiran atas gangguan pasokan energi global akibat penutupan Selat Hormuz sejak konflik AS-Israel versus Iran meletus pada 28 Februari 2026. Ia memperingatkan bahwa di beberapa negara kendaraan sudah tidak bisa bergerak karena kelangkaan bahan bakar.
“Kita masih bisa. Kita punya banyak alternatif. Kita punya kelapa sawit bisa kita rubah menjadi solar. Bisa menjadi etanol dari tebu kita bisa dari singkong kita bisa dari jagung,” ujar Prabowo.
Selain PLTS, Prabowo mendorong percepatan pengembangan bioetanol, biodiesel berbasis kelapa sawit, dan pembangkit listrik panas bumi mengingat potensi geothermal Indonesia yang sangat besar.
Langkah ini sejalan dengan rencana Menteri ESDM Bahlil Lahadalia merevisi Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik PLN 2025–2034. Bahlil juga mengumumkan pembentukan satuan tugas transisi energi yang akan mulai bekerja pascalebaran, dengan prioritas utama mengganti seluruh pembangkit listrik tenaga diesel dengan PLTS dan geothermal. Program konversi motor berbahan bakar bensin ke motor listrik, dengan subsidi konversi Rp6 juta per unit untuk 120 juta unit kendaraan, turut masuk dalam paket percepatan tersebut.
Target 100 GW dalam dua tahun adalah angka yang belum pernah dicapai oleh negara mana pun dalam waktu sesingkat itu. Sebagai perbandingan, kapasitas PLTS terpasang Indonesia saat ini baru berada di kisaran 1 GW. Artinya, realisasi target ini menuntut lompatan instalasi seratus kali lipat dari kondisi sekarang, sebuah tantangan teknis, regulatoris, dan pembiayaan yang belum memiliki preseden di kawasan Asia Tenggara.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: