Boeing Kantongi Kontrak US$298 Juta dari Israel untuk Produksi 5.000 Bom Berpemandu Udara

- Boeing menandatangani kontrak US$298 juta dengan Israel untuk memproduksi 5.000 unit Small Diameter Bomb, amunisi berpemandu udara berjangkauan lebih dari 64 kilometer, dengan pengiriman dijadwalkan baru dimulai 36 bulan ke depan.
- Transaksi ini merupakan penjualan komersial langsung antara Boeing dan Israel, bukan jalur penjualan militer antarpemerintah yang lazim, sehingga tidak melewati proses persetujuan kongres AS secara penuh.
- Pada hari yang sama, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan situasi darurat untuk meloloskan penjualan 12.000 selongsong bom BLU-110 senilai US$151 juta ke Israel di luar prosedur peninjauan normal.
, WASHINGTON -Saat konflik bersenjata antara AS, Israel, dan Iran masih berlangsung, industri pertahanan Amerika justru mencatat transaksi baru yang tak kecil nilainya. Boeing Co. mengantongi kontrak senilai US$298 juta dari Israel untuk memproduksi hingga 5.000 bom berpemandu presisi tinggi yang dapat dijatuhkan dari udara.
Bom yang dipesan itu adalah Small Diameter Bomb atau Bom Berdiameter Kecil, amunisi berpemandu yang mampu menghantam target dengan jarak lebih dari 64 kilometer dari pesawat peluncurnya. Ini bukan senjata sembarangan dalam arsenal modern, kemampuan jangkauan jauh itu membuat jet tempur bisa meluncurkannya dari luar jangkauan sistem pertahanan udara lawan.
Penting untuk dicatat, kontrak ini tidak berkaitan langsung dengan serangan udara yang sedang berlangsung terhadap Iran saat ini. Pengiriman dijadwalkan baru dimulai dalam 36 bulan ke depan, atau sekitar tiga tahun dari sekarang, menurut salah satu sumber yang mengetahui rincian transaksi tersebut.
Ini pun bukan pembelian pertama Israel atas senjata jenis ini. Transaksi serupa sudah terjadi setidaknya dua kali sebelumnya. Departemen Luar Negeri AS pada Februari 2025 sudah memberitahu komite urusan luar negeri DPR dan Senat bahwa Israel mengajukan permintaan pembelian 2.166 unit bom tersebut. Jauh sebelumnya, pasca serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, Boeing sudah lebih dulu mengirimkan sekitar 1.000 bom serupa ke Israel.
Yang membedakan kontrak kali ini dari prosedur normal adalah jalur transaksinya. Ini bukan penjualan militer asing antarpemerintah yang lazim, melainkan penjualan komersial langsung antara Boeing dan Israel. Mekanisme itu akan tetap dipublikasikan di Federal Register pemerintah AS, namun dengan proses yang lebih singkat dan tidak melewati jalur birokrasi persetujuan kongres yang panjang.
Di hari yang sama, Departemen Luar Negeri juga memproses penjualan militer terpisah senilai US$151 juta yang ditetapkan sebagai transaksi darurat: 12.000 selongsong bom serbaguna BLU-110 seberat 1.000 pon buatan Repkon USA. Untuk itu, Menteri Luar Negeri Marco Rubio secara resmi menyatakan kepada Kongres bahwa situasi darurat mensyaratkan penjualan segera, melewati proses peninjauan normal yang biasanya memakan waktu.
Transaksi demi transaksi ini menggambarkan komitmen Washington terhadap Tel Aviv yang tidak mereda meski konflik meluas ke Iran. Menteri Pertahanan Pete Hegseth bahkan menyebut Israel sebagai mitra yang sangat kuat dalam memerangi Iran, pernyataan yang keluar sehari sebelum pengumuman kontrak Boeing ini.
Dalam jangka panjang, kesepakatan senilai hampir tiga ratus juta dolar ini memperkuat posisi Boeing di tengah tekanan bisnis yang dihadapinya dari berbagai sisi, sekaligus menggarisbawahi bahwa eskalasi militer di Timur Tengah berdampak langsung pada rantai produksi industri pertahanan di Amerika Serikat.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: