BRI Kantongi Laba Rp57 Triliun, Pemegang Saham Bisa Dapat Dividen Lebih Besar dari Tahun Lalu

- BRI (BBRI) mengumumkan RUPST pada 10 April 2026, dengan pemanggilan resmi dijadwalkan 13 Maret 2026 melalui KSEI, BEI, dan situs resmi perseroan; pemegang saham wajib tercatat per 12 Maret 2026 pukul 17.00 WIB.
- Direktur Utama Hery Gunardi memberi sinyal kuat bahwa dividend payout ratio tahun buku 2025 berpeluang melampaui level historis 85 persen, didukung CAR permodalan BRI yang mencapai 23,53 persen per akhir 2025.
- BRI membukukan laba bersih Rp57,13 triliun sepanjang 2025, turun 5,26 persen dari tahun sebelumnya, namun penyaluran kredit tumbuh 12,31 persen menjadi Rp1.521,49 triliun; keputusan final dividen akan diumumkan dalam RUPST April.
, Jakarta – PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) akan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan pada Jumat, 10 April 2026. Momen ini dinantikan para investor karena manajemen sudah memberi sinyal bahwa rasio pembagian dividen atau dividend payout ratio untuk tahun buku 2025 berpeluang lebih tinggi dari sejarahnya.
Pengumuman resmi telah disampaikan melalui keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia pada Jumat (27/2/2026). Pemanggilan resmi RUPST akan dilakukan paling lambat 13 Maret 2026 melalui situs KSEI, BEI, dan situs perseroan. Pemegang saham yang berhak hadir adalah mereka yang tercatat dalam daftar pemegang saham per Kamis, 12 Maret 2026 pukul 17.00 WIB.
Bagi yang tidak dapat hadir secara fisik, BRI menyediakan opsi pemberian kuasa melalui sistem Electronic General Meeting System eASY.KSEI hingga Kamis, 9 April 2026 pukul 12.00 WIB. Pemegang saham yang mewakili minimal satu per dua puluh dari total saham dengan hak suara, termasuk pemegang saham Seri A Dwiwarna, juga berhak mengusulkan mata acara rapat, paling lambat 6 Maret 2026.
Sinyal tentang kenaikan dividen sebenarnya sudah dilempar lebih awal. Direktur Utama BRI Hery Gunardi menyampaikannya dalam paparan kinerja kuartal IV 2025 secara virtual pada Kamis (26/2/2026).
“Mempertimbangkan kondisi tersebut, seyogianya kami memiliki ruang untuk memberikan dividen dengan payout ratio yang lebih tinggi dibandingkan dengan level historis yang selama ini ada,” ujar Hery Gunardi.
Ia merujuk pada kondisi permodalan BRI yang disebutnya sangat memadai. Per akhir 2025, Capital Adequacy Ratio BRI tercatat 23,53 persen, jauh di atas batas minimum yang ditetapkan regulator.
“Kalau dividen yang diberikan lebih besar, maka ROE juga akan meningkat,” tambahnya.
Sebagai pembanding, untuk tahun buku 2024 BRI membagikan dividen Rp51,73 triliun dari laba bersih Rp60,15 triliun, dengan payout ratio sekitar 85 persen. Jika rasio itu dinaikkan dari basis laba 2025 yang mencapai Rp57,13 triliun, total dividen yang mengalir ke pemegang saham berpotensi melampaui Rp49,14 triliun.
Laba bersih BRI tahun 2025 memang turun 5,26 persen secara tahunan, tergerus pembengkakan biaya pencadangan yang naik 20,8 persen menjadi Rp46,09 triliun. Namun dari sisi bisnis inti, penyaluran kredit justru tumbuh 12,31 persen menjadi Rp1.521,49 triliun, melampaui rata-rata industri.
Di sinilah letaknya manuver yang cukup berani dari manajemen. Menawarkan payout ratio lebih tinggi di tengah laba yang lebih rendah dan biaya pencadangan yang membengkak bukan keputusan yang mudah. Namun dengan CAR di level 23 persen, ada cukup bantalan modal yang memungkinkan BRI mengambil posisi ini tanpa mengorbankan ketahanan jangka panjang.
Besaran final dividend payout ratio akan ditetapkan resmi dalam RUPST 10 April mendatang. Hingga saat itu, angka yang beredar masih bersifat proyeksi dan sinyal dari manajemen.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: