China Balas Tuduhan AS soal COVID-19: Virus Justru Berasal dari Amerika Serikat

- China merilis buku putih pada April 2025 yang menuduh COVID-19 kemungkinan berasal dari Amerika Serikat, merespons tuduhan AS yang meluncurkan situs Covid.gov dengan klaim virus berasal dari kebocoran laboratorium Wuhan.
- CIA dan Kementerian Energi AS menyatakan pandemi lebih mungkin muncul dari laboratorium dengan "keyakinan rendah", namun komunitas ilmiah global masih terpecah antara teori kebocoran laboratorium dan penularan alami dari hewan ke manusia.
- WHO meminta transparansi penuh dari China dan AS untuk menyediakan data asli, menyatakan semua hipotesis masih terbuka tanpa kesimpulan definitif tentang asal-usul virus yang telah menewaskan hampir 7 juta orang di seluruh dunia.
, JAKARTA – Pemerintah China mengeluarkan pernyataan tegas yang menuduh bahwa virus COVID-19 kemungkinan besar berasal dari Amerika Serikat, bukan dari Wuhan sebagaimana diklaim Washington.
Klaim kontroversial ini muncul sebagai respons terhadap tuduhan berulang AS yang menyebut pandemi berawal dari kebocoran laboratorium di Institut Virologi Wuhan, China.
Pada akhir April 2025, Beijing merilis sebuah buku putih berjudul “Pencegahan, Pengendalian, dan Penelusuran Asal COVID-19: Tindakan dan Sikap China” melalui Kantor Informasi Dewan Negara bekerja sama dengan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Dokumen ini menegaskan bahwa virus SARS-CoV-2 berasal dari hewan, bukan laboratorium.
“Bukti substansial menunjukkan COVID-19 mungkin muncul di Amerika Serikat lebih awal dari garis waktu yang diklaim secara resmi, dan lebih awal dari wabah di China,” demikian bunyi pernyataan dalam buku putih tersebut.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Lin
Jian menegaskan komitmen negaranya terhadap transparansi dalam peluncuran dokumen tersebut.
“Kami telah transparan sejak awal dan mengundang dunia untuk meneliti sendiri,” ujar Lin Jian, seperti dilaporkan kantor berita resmi Xinhua pada 30 April 2025.
Buku putih China mendokumentasikan respons cepat pemerintah, termasuk penguncian Wuhan pada Januari 2020 dan berbagi data genetik virus dengan WHO. Dokumen ini juga merujuk pada dua peristiwa penularan zoonotik pada November-Desember 2019 di Pasar Huanan yang didukung oleh studi April 2023 dalam jurnal Nature.
Penelitian yang dikutip menemukan jejak genetik virus pada hewan seperti anjing rakun dan musang yang diperdagangkan secara ilegal di pasar tersebut. Analisis mendalam terhadap sampel lingkungan di Pasar Huanan menjadi dasar kuat teori bahwa virus melompat dari hewan ke manusia secara alami.
Pernyataan China ini muncul setelah Gedung Putih di bawah Presiden Donald Trump meluncurkan situs web Covid.gov pada 18 April 2025. Situs tersebut menampilkan halaman berjudul “Kebocoran Laboratorium: Kebenaran Asal COVID-19” dengan foto Trump dan klaim tegas bahwa virus berasal dari Institut Virologi Wuhan.
“Situs ini adalah kebenaran yang disembunyikan Fauci dan WHO,” klaim Trump dalam pidato peluncuran situs pada 15 April 2025.
Tuduhan AS didasarkan pada beberapa poin, termasuk laporan bahwa peneliti Institut Virologi Wuhan jatuh sakit pada 2019, dugaan penelitian “gain-of-function” berisiko, dan karakteristik virus yang diklaim tidak alami. Laporan Subkomite Khusus DPR AS yang dirilis Desember 2024 menjadi rujukan utama pemerintah Trump.
Direktur FBI Christopher Wray turut memperkuat narasi ini dalam wawancara dengan Fox News pada awal 2023.
“FBI sudah cukup lama menilai bahwa asal-usul pandemi kemungkinan besar merupakan potensi insiden laboratorium di Wuhan,” kata Wray.
Ia menuduh pemerintah China melakukan segala cara untuk menggagalkan dan mengaburkan upaya penyelidikan asal-usul pandemi. Namun, Wray mengaku tidak dapat membagikan detail penilaian agensi karena bersifat rahasia.
Badan Intelijen Pusat AS (CIA) pada Januari 2025 menyatakan bahwa pandemi lebih mungkin muncul dari laboratorium di China daripada dari alam. Namun, CIA mencatat bahwa mereka hanya memiliki “keyakinan rendah” pada penilaian tersebut dan mengakui bahwa asal-usul laboratorium maupun alam tetap masuk akal.
Kementerian Energi AS juga membuat kesimpulan serupa dengan level “keyakinan rendah”, yang berarti bukti pendukung teori tersebut tidak lengkap atau masih dipertanyakan.
Juru Bicara Keamanan Nasional Gedung Putih John Kirby mengakui bahwa pemerintah AS belum mencapai kesimpulan dan konsensus pasti tentang asal-mula pandemi, dengan beberapa lembaga intelijen AS lainnya belum memberikan penilaian.
China dengan keras menolak semua tuduhan tersebut. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun menyebut laporan AS tidak memiliki landasan ilmiah dan bukti yang disebutkan sepenuhnya dibuat-buat.
“Upaya berulang kali yang dilakukan AS untuk menyalahkan dan mencoreng nama baik China terkait asal-usul COVID-19 hanya mengekspos niat untuk mempolitisasi isu-isu ilmiah dan menggunakan pandemi sebagai alat untuk mengekang China,” kata juru bicara Komisi Kesehatan Nasional China.
Beijing menegaskan bahwa Institut Virologi Wuhan tidak pernah terlibat dalam studi perolehan fungsi virus corona, tidak pernah merancang, membuat, atau membocorkan COVID-19.
“Karena informasi dan bukti yang terus berkembang menunjukkan bahwa virus ini muncul di AS pada tanggal yang lebih awal, tahap penelusuran berikutnya terkait asal-usul virus tersebut seharusnya dilakukan di AS,” tegas juru bicara tersebut.
Dalam buku putihnya, China juga menuduh AS mempolitisasi masalah asal-usul COVID-19 dengan merujuk pada gugatan hukum Missouri yang menghasilkan putusan senilai 24 miliar dolar AS terhadap China karena menimbun peralatan medis pelindung dan menutupi wabah.
Komunitas ilmiah global masih terpecah soal asal-usul virus. Profesor David Robertson dari Universitas Glasgow menolak klaim Trump dan menyatakan bahwa bukti zoonotik jauh lebih kuat berdasarkan data genetik dan epidemiologi, sebagaimana dilaporkan The Guardian pada 20 April 2025.
Direktur Jenderal WHO Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus mengambil posisi netral dengan menyatakan bahwa semua hipotesis masih ada di atas meja.
“Tanpa akses penuh ke informasi yang dimiliki China, Anda tidak dapat mengatakan ini atau itu,” kata Tedros menanggapi pertanyaan tentang asal-usul virus.
“Semua hipotesis ada di atas meja. Itulah posisi WHO dan itulah mengapa kami telah meminta China untuk bersikap kooperatif dalam hal ini,” tambahnya.
Dr Maria Van Kerkhove, pemimpin teknis WHO untuk COVID-19, mengatakan informasi terbaru China menawarkan beberapa petunjuk tentang asal-usul tetapi tidak memberikan jawaban definitif. WHO kini bekerja dengan para ilmuwan untuk mengetahui lebih lanjut tentang kasus-kasus paling awal dari 2019.
WHO juga telah meminta Amerika Serikat untuk menyediakan data asli yang mendukung studi terbaru Kementerian Energi AS yang menyarankan kebocoran laboratorium sebagai sumber pandemi.
Laporan investigasi independen menunjukkan bahwa para ilmuwan di Institut Virologi Wuhan memang pernah memanipulasi virus corona dalam penelitian mereka. Studi tahun 2015 dan 2017 oleh ilmuwan WIV mencatat penggunaan virus “chimeric” atau buatan manusia dalam mempelajari bagaimana virus SARS-CoV dapat menginfeksi sel manusia.
Namun, perdebatan muncul apakah jenis manipulasi yang dilakukan di laboratorium Wuhan dapat dikategorikan sebagai penelitian “gain-of-function” yang berisiko tinggi menurut pedoman birokrasi dan ilmiah yang berlaku.
Mantan Presiden EcoHealth Alliance Peter Daszak pernah menggambarkan bagaimana rekan-rekannya melakukan penelitian semacam ini di China, termasuk menemukan banyak virus corona pada kelelawar yang tampak sangat mirip dengan SARS.
Kontroversi ini mencerminkan ketegangan geopolitik yang lebih luas antara dua kekuatan ekonomi terbesar dunia. Isu asal-usul COVID-19 telah menjadi alat politik di tengah persaingan sengit dalam berbagai bidang, mulai dari perdagangan hingga teknologi.
Virus ini pertama kali diidentifikasi di kota Wuhan, China, pada Desember 2019. Pasar Huanan dianggap sebagai pusat penyebaran awal, meski masih diperdebatkan apakah pasar tersebut merupakan titik awal kemunculan virus atau hanya lokasi penyebaran massal.
Pandemi COVID-19 telah menyebar ke seluruh dunia dan membunuh hampir 7 juta orang hingga saat ini, dengan dampak ekonomi dan sosial yang sangat besar bagi seluruh negara.
Hingga kini, perdebatan tentang asal-usul virus terus berlanjut tanpa kesepakatan internasional.
China terus mengundang peneliti global untuk melakukan investigasi bersama, sementara AS mendesak Beijing untuk lebih transparan dan memberikan akses penuh ke data dan informasi yang dimiliki.
Dunia kini ditinggalkan dengan pelajaran berharga tentang pentingnya transparansi, kerja sama internasional, dan pendekatan berbasis sains dalam menghadapi ancaman pandemi di masa depan, bukan politisasi yang justru mengaburkan kebenaran ilmiah.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: