TODAY'S RECAP

Rubrikasi

Informasi

Ikuti Kami

16 Maret 2026
TODAY'S RECAP
Megawati Kirim Surat Selamat kepada Mojtaba Khamenei, Serukan Visi Trisakti Bung Karno untuk Iran Ayam Rp40.000, Cabai Jauh di Bawah HET, Minyakita Turun Rp1.000: Hasil Sidak Mendag di Pasar Rawasari IHSG Dibuka Melemah 0,30% ke 7.115 di Awal Pekan, Pasar Lebih Khawatir Eskalasi Geopolitik ketimbang Janji Disiplin Fiskal Prabowo Dorong Kurikulum Koperasi Merah Putih di Sekolah, Chusni Mubarok: Perkuat Fondasi Ekonomi Kerakyatan Pakar: Trump Kehilangan Kendali dan Putus Asa Hadapi Iran Dari Persia untuk Dunia: Tiga Ilmuwan Iran yang Karyanya Jadi Rujukan Berabad-abad Perintah Presiden, Kapolri Jamin Lindungi Identitas Pemberi Informasi Kasus Andrie Yunus Trump Minta Inggris dan China Kirim Kapal Perang ke Selat Hormuz Megawati Kirim Surat Selamat kepada Mojtaba Khamenei, Serukan Visi Trisakti Bung Karno untuk Iran Ayam Rp40.000, Cabai Jauh di Bawah HET, Minyakita Turun Rp1.000: Hasil Sidak Mendag di Pasar Rawasari IHSG Dibuka Melemah 0,30% ke 7.115 di Awal Pekan, Pasar Lebih Khawatir Eskalasi Geopolitik ketimbang Janji Disiplin Fiskal Prabowo Dorong Kurikulum Koperasi Merah Putih di Sekolah, Chusni Mubarok: Perkuat Fondasi Ekonomi Kerakyatan Pakar: Trump Kehilangan Kendali dan Putus Asa Hadapi Iran Dari Persia untuk Dunia: Tiga Ilmuwan Iran yang Karyanya Jadi Rujukan Berabad-abad Perintah Presiden, Kapolri Jamin Lindungi Identitas Pemberi Informasi Kasus Andrie Yunus Trump Minta Inggris dan China Kirim Kapal Perang ke Selat Hormuz

Cari berita

Ekspor Panel Surya Indonesia ke AS Terancam Lumpuh, Tarif 104 Persen Bukan Angka Biasa

Poin Penting (3)
  • AS menetapkan bea masuk anti-subsidi rata-rata 104,38 persen terhadap panel surya dari Indonesia, berdasarkan investigasi Departemen Perdagangan yang dirilis Februari 2026.
  • PT Blue Sky Solar dikenakan tarif 143,3 persen dan PT REC Solar Energy 85,99 persen, keduanya berbasis di Indonesia, lebih tinggi dari tarif rata-rata nasional.
  • Selain tuduhan subsidi tidak adil, Indonesia dituding menjadi titik pengalihan produksi perusahaan China untuk menghindari tarif yang sudah berlaku terhadap Beijing.

Resolusi.co, Washington DC – Ekspor panel surya Indonesia ke Amerika Serikat kini menghadapi hambatan serius. Departemen Perdagangan AS (Department of Commerce/DOC) menetapkan bea masuk anti-subsidi atau countervailing duties rata-rata sebesar 104,38 persen terhadap sel dan modul surya asal Indonesia. Kebijakan ini resmi diberlakukan berdasarkan investigasi yang dirilis pada Februari 2026.

Keputusan Washington itu muncul setelah aduan dari Alliance for American Solar Manufacturing and Trade, sebuah koalisi produsen panel surya domestik Amerika yang merasa terdesak oleh derasnya produk impor. Dua raksasa manufaktur energi surya AS, Qcells dan First Solar, termasuk di antara perusahaan yang mendorong penyelidikan ini.

DOC menyimpulkan bahwa produsen dari Indonesia, India, dan Laos memperoleh subsidi pemerintah yang dianggap tidak adil, sehingga memungkinkan mereka menjual produk jauh di bawah harga pasar Amerika. Selain tuduhan subsidi, AS juga mencurigai Indonesia digunakan sebagai lokasi pengalihan produksi oleh perusahaan-perusahaan asal China untuk menghindari tarif tinggi yang sebelumnya sudah diberlakukan Washington terhadap Beijing secara langsung.

Dua perusahaan Indonesia terkena beban lebih berat dari tarif rata-rata. PT Blue Sky Solar dijatuhi bea masuk khusus sebesar 143,3 persen, sementara PT REC Solar Energy dikenakan 85,99 persen. Keduanya beroperasi di Indonesia.

Untuk negara lain yang turut terdampak, India menghadapi tarif dasar 125,87 persen dan Laos 80,67 persen.

Dengan tarif di atas 100 persen, harga jual panel surya Indonesia di pasar Amerika hampir dipastikan akan melonjak lebih dari dua kali lipat. Ini bukan sekadar kerugian satu-dua eksportir, melainkan pukulan terhadap posisi Indonesia yang sedang berupaya membangun reputasi sebagai pemasok andal dalam rantai pasok energi terbarukan global.

Ironi terasa cukup tajam di sini. Pemerintahan Prabowo sebelumnya telah bergerak cepat ke Washington D.C. dan menandatangani Agreement on Reciprocal Trade (ART) dengan pemerintahan Trump, dengan harapan tarif perdagangan bisa dijaga di kisaran 19 persen. Kenyataannya, kebijakan anti-subsidi ini berjalan di jalur tersendiri, terpisah dari negosiasi bilateral yang selama ini didorong oleh Kemenko Perekonomian.

Yang membuat posisi Indonesia semakin sulit adalah sifat tuduhan itu sendiri. Dugaan transshipment produk China melalui fasilitas produksi di Indonesia bukan hal yang mudah dibantah dalam waktu singkat, karena membutuhkan pembuktian asal-usul komponen dan proses manufaktur secara menyeluruh.