Emas Dunia Jeblok 8,95 Persen, Turun di Bawah US$5.000 per Ons

- Harga emas global anjlok di bawah US$5.000 per ons, mencatat koreksi intraday terbesar dalam 40 tahun terakhir dengan penurunan hingga 12 persen.
- Kejatuhan dipicu penguatan dolar AS setelah kabar pencalonan Kevin Warsh sebagai Ketua Federal Reserve yang dianggap lebih agresif memerangi inflasi.
- Perak turun 36 persen, tembaga merosot 3,4 persen, dan saham perusahaan tambang emas besar di New York jeblok lebih dari 10 persen.
, JAKARTA – Harga emas global anjlok tajam pada Sabtu (31/1/2026), merosot di bawah level US$5.000 per troy ounces setelah berbulan-bulan mencatat rekor tertinggi sepanjang masa. Penurunan ini menjadi koreksi intraday paling dalam sejak awal 1980-an.
Merujuk data Bloomberg per pukul 06.45 WIB, emas spot terjun 481,01 poin atau minus 8,95 persen ke posisi US$4.894,23 per troy ounces. Sementara itu, emas Comex turun lebih parah, jeblok 609,7 poin atau 11,39 persen ke level US$4.745 per troy ounces.
Pada satu momen, emas bahkan sempat ambruk lebih dari 12 persen. Koreksi ini menjadi yang terbesar dalam empat dekade terakhir.
Perak ikut terseret. Logam putih ini anjlok hingga 36 persen dalam perdagangan intraday, terpukul gelombang jual masif yang melanda pasar logam secara luas.
Tembaga juga tak luput dari tekanan. Di London Metals Exchange, harga tembaga turun 3,4 persen.
Aksi jual besar-besaran ini dipicu oleh penguatan dolar AS. Indeks dolar Bloomberg naik 0,71 poin ke posisi 96,9910 poin. Penguatan itu didorong oleh aksi jual mata uang komoditas seperti dolar Australia dan krona Swedia.
“Pengumuman Trump bahwa Warsh adalah pilihannya untuk Ketua Fed berikutnya telah berdampak positif bagi dolar AS dan negatif bagi logam mulia,” ujar Aakash Doshi, Kepala Strategi Emas dan Logam Mulia Global di State Street Investment Management.
Kabar pencalonan Kevin Warsh sebagai calon Ketua Federal Reserve menggantikan Jerome Powell membakar sentimen negatif di pasar emas. Pemerintahan Donald Trump dikabarkan sedang mempersiapkan langkah tersebut.
Warsh dianggap pelaku pasar sebagai sosok yang paling agresif memerangi inflasi di antara kandidat lain. Ekspektasi terhadap kebijakan moneter yang lebih ketat di bawah kepemimpinannya mendorong penguatan dolar. Emas, yang diperdagangkan dalam dolar AS, otomatis melemah.
“Hal ini mungkin diperparah oleh penyeimbangan kembali pada akhir bulan karena posisi jual dolar dan posisi beli logam mulia telah menjadi konsensus perdagangan makro selama 2 hingga 3 minggu terakhir,” tambah Doshi.
Christopher Wong, ahli strategi di Oversea-Chinese Banking Corp, mengatakan pergerakan emas memvalidasi pepatah lama: kenaikan cepat, penurunan cepat. Menurutnya, emas memang sudah harus mengalami koreksi.
“Nominasi Warsh seperti salah satu alasan yang ditunggu pasar untuk membalikkan pergerakan parabolik tersebut,” kata Wong.
Dominik Sperzel, Kepala Perdagangan di Heraeus Precious Metals, mengingatkan bahwa volatilitas ekstrem akan terus berlanjut. Level resistensi psikologis US$5.000 sudah ditembus berkali-kali pada Jumat kemarin.
“Kita perlu bersiap menghadapi gejolak seperti roller-coaster yang akan terus berlanjut,” terang Sperzel.
Kejatuhan harga logam juga menekan saham perusahaan tambang besar di bursa New York. Produsen emas terkemuka seperti Newmont Corp., Barrick Mining Corp., dan Agnico Eagle Mines Ltd. merosot lebih dari 10 persen.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: